Posted by: Syukron Tanzilah | December 5, 2012

Kisah Saudara yang Menganggap Musyrik Saudaranya

Suatu ketika seorang habaib dari Hadramaut ingin menunaikan ibadah haji dan berziaroh ke makam  kakeknya, Rosulullah shollallahu’alayhi wasallam. Beliau berangkat dengan diiringi rombongan yang melepas kepergiannya.

Habib Jamal bin Thoha BaagilSeorang sulton di Hadramaut, kerabat Habib tersebut, menitipkan AlQuran buatan tangan yang terkenal keindahannya di Jazirah Arab pada saat itu untuk disampaikan kepada Raja Saudi.
Sesampai di Saudi, Habib tersebut disambut hangat karena statusnya sebagai tamu Negara. Setelah berhaji, beliau berziaroh ke makam Rosulullah,, karena taq kuasa menahan kerinduannya kepada Rosulullah, beliau memeluk turbah Rosulullah. Beberapa pejabat Negara yg melihat hal tersebut mengingkari hal tersebut dan berusaha mencegahnya sambil berkata, “Ini bid’ah (yg dimaksud adalah bid’ah yg sesat-red) dan dapat membawa kita kepada syirik.”
Dgn penuh adab, habib trsebut menurut dan tak membantah satu katapun.

Beberapa hari kemudian, habib trsebut diundang ke jamuan makan malam Raja Saudi. Pada kesempatan itu beliau menyerahkan titipan hadiah AlQuran dari Sulton Hadromaut. Saking girang dan dipenuhi rasa bangga, Raja Saudi mencium AlQuran tersebut!.
Berkatalah sang habib, “Jangan kau cium Qur’an tersebut… itu dapat membawa kita kepada Syirik!” sang Raja menjawab, “Bukanlah AlQuran ini yg kucium, akan tetapi aku menciumnya karena ini adalah KALAMULLOH”.
Habib berkata, ‘’Begitu pula aku, ketika aku mencium turbah Rosulullah Shollallahu’alayhi wasallam,,
sesungguhna Rosulullah lah yang kucium!. sebagaimana seorang shohabat (Ukasyah Rodliyallahu’anhu) ketika mencium punggung Rosulullah. Tak lain adalah kerana rasa cinta beliau kepada Rosulullah shollallahu’alayhi wasallam. Apakah itu syirik?!”

Tercengang sang Raja tak mampu menjawab.

Kemudian Habib tersebut membaca suatu sya’ir yg berbunyi:

Marortu ‘alad diyaari, diyaaro Lailah
Uqobbilu dzal jidaari wa dzal jidaaro
Fama hubbud diyaar, syaghofna qolbi
Walaakin hubbu man sakanad diyaro

Kulalui depan rumah Laila (sang kekasih)
Kucium dinding2 rumahnya
Tidaklah kulakukan itu karena cintaku kepada rumahnya,
Namun karena cintaku kepada si penghuni rumah

(Kalam Habib Jamal bin Thoha Baagil)


Responses

  1. habaib memang suka berlebihan dalam beragama, padahal kalau mereka (para habaib di seluruh dunia) memang keturunan Rasululloh shalallahi alaihi wassalam dari jalan sahabat Ali radhiyallahu anhu dan Fatimah radhiyallahu anha, dan sangat cinta pd beliau nabi tentu mereka akan mengikuti para sahabat dalam beragama. Faktanya? mereka hanya gemar ziarah kubur (kuburiyyun)

    • Yâ, nama habîb atw Sayyid adalah sbutan utk keturunan Rosulullah. Adapun d indonesia kbanyakan para habaib kturunan rasul saw dari jalur Imâm husein. Sprti dikatakan Al-allamah Yusuf bin Ismail al-Nabhany dlm bukunya Riyadhul Jannah mngatakan: ‘Kaum Sayyid Baalawi oleh umat Muhammad saw sepanjang zaman dan disemua negeri tlah diakui bulat sebgai ahlul-bait nubuwah yg sah, baik ditilik dari sudut kturunan mwpun kkerabatan, &mreka itu adalah orang-orang yang paling tinggi ilmu pengetahuan agamanya, paling banyak keutamaannya dan paling tinggi budi pkertinya’.

      Adapun mngnai ziaroh qubur sndiri utk lk2 hukumny sunnah, diantara hikmahny yaitu utk mngingat mati (dpt mlunakkan hati,& mngmbil plajaran


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: