Posted by: Syukron Tanzilah | December 5, 2012

Seuntai Sholawat yang Menolong

Sufyan Ats-Tsauri radiyallau’anhu, bercerita: Suatu hari ketika sedang berthawaf mengelilingi Ka’bah, aku melihat seorang laki-laki yang membangkitkan rasa ingin tahu dibenakku. Kuperhatikan dengan seksama, laki-laki itu selalu membaca shalawat disetiap langkah kakinya. Aku betul-betul takjub dan terheran-heran melihat dirinya.

459277_10150689926919195_887261853_oPerlahan kudekati beliau seraya bertanya: “Mengapa anda tidak berzikir dengan bacaan tasbih, tahmid dan tahlil? Kenapa anda hanya membaca salawat nabi saja? Adakah sesuatu yang terjadi pada diri anda?
“siapakah anda ini? Moga-moga Allah memberi rahmat untukmu!” balas orang itu balik bertanya.
“Saya Sufyan As-sauri” jawabku.
“Oh, seandainya engkau bukanlah orang yang arif (bijak) di zaman ini, tentulah aku tidak akan perdulikan kata-katamu itu. Akan tetapi lantaran engkau seorang arif, dan kemungkinan rahasia ini belum engkau ketahui, maka aku akan beritahukan kau rahasiaku ini” tegas orang itu menjelaskan.
“Baiklah, kini dengarlah kisahku ini!” lanjutnya lagi.

“Suatu hari aku pergi meninggalkan negeriku bersama-sama ayahku untuk berhaji ke Baitullah al-haram.
Kemudian kami berziarah pula ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, ditengah tengah perjalanan tiba-tiba saja ayahku jatuh sakit. Tidak tanggung-tanggung beliau didera rasa sakit yang tiada tara. Kondisinya parah dan seperti menanggung beban luka yang teramat berat.
Aku pun berusaha merawati dan menjaganya dengan segenap kemampuan yg kupunya. Namun apa daya, usahaku ternyata sia-sia, ia tidakdapat tertolong lagi. Dia meninggal dunia di tengah-tengah perjalanan itu.
“Setelah kepergiannya, aku dirundung sedih yang amat sangat. Terlebih-lebih lagi, ketika kulihat wajah ayahku brubah seratus persen. Wajahnya yang semula tampan bercahaya, kudapati berubah menjadi hitam legam dan menakutkan sekali. Hal inilah yang membuat hatiku sedih bukan kepalang. Aku sangat terkejut dan menangis tersedu-sedu melihat kondisi nya seperti itu. Karena tak kuasa, lalu ku tutup wajah ayahku dengan kain sarung yang ada.
Alangkah tak tergambarkan kesedihanku ketika menyaksikan keadaan ayah yang demikian. Apalagi dia meninggal di Negeri orang. Saat itu, aku membayangkan betapa malunya jika orang-orang mengetahui keadaan ayah yang mengenaskan. Padahal, ayah sendiri termasuk ahli ibadah.
Aku terus menunggunya dengan perasaan hati hati yang hancur. Aku hanya mampu menangis dan tak kuasa berbuat apapun. Aku terus bertafakur di sisi kepala ayahku hingga tiba-tiba saja aku tertidur.

Dalam tidurku, aku bermimpi seakan-akan melihat sinar yang yang kian lama kian kemari mendekat ke arahku.
Setelah lama-lama kuperhatikan, ternyata sinar itu bersumber dari seorang laki-laki yang sangat gagah dan tampan. Pakaiannya tampak bersih, wajahnya bersinar terang dan berseri-seri. Dari tubuhnya tercium bau yang harum sekali. Aku belum pernah melihat orang ini sebelumnya, dan aku tidak mengenalinya sedikitpun.
“Namun, dia terus menuju tempat dimana aku bersimpuh. Ia melangkah di satu-satunya jalan menuju kearahku. Hingga dia pun berada di sisiku.
“wahai kisanak, apa kah yang membuatmu kesusahan?”
tanyanya lembut.
“ayahku telah meninggal dunia” jawabku, dan belum sempat kulanjutkan ceritaku, aku sudah menangis kembali.
“Lalu ia berkata:”Jangan menangis, semua manusia mesti mengalami kematian.”
“Tapi wajahnya………,” kataku tersedu-sedu, menjelaskan,
“Wajahnya hitam legam. Tolonglah aku!” aku merayu-rayu dan merajuk dihadapan nya seraya mengharapkan bantuan sesuatu darinya.’
Tanpa bicara sepatah katapun , dia terus membuka kain yang menutup wajah ayahku itu. Lalu kulihat ia mengusapkan telapak tangannya pada wajah ayahku, sungguh ajaib sekali! Aku terperanjat hampir tidak percaya atas apa yang aku lihat. Aku tercengang-cengang atas apa yg terjadi. Wajah ayahku kembali putih berseri seperti sediakala. Bahkan lebih bercahaya dari asal-nya. “apakah gerangan penawarnya hingga perkara ajaib ini terjadi?” aku bertanya-tanya didalam hati.

Laki-laki itu kemudian mengambil kain tadi dan menutup wajah ayahku seperti semula. Lalu ia pergi kembai ketempat dari mana ia datang tadi.
Namun, melihatnya akan pergi, sementara aku belum tahu siapa orang itu, aku segera memegang bajunya sambil bertanya, “Siapa kah tuan yang telah menolong ayahku ini ?”
Dia tersenyum dan kulihat cahaya berbinar-binar dari senyumannya itu. Wajahnya seperti bulan purnama, indah dan sungguh tiada bosan dipandang.
“Aku ini Muhammad”, jawabnya.
“Muhammad siapa?” tanyaku lagi, minta dijelaskan.
“Muhammad, Rasulullah. Akulah pembawa Al-Quran.” Tegasnya.
Aku terus tertunduk dan sangat takjub hingga tak kuasa untuk menikmati wajahnya yang mulia. “inilah dia Rasulullah”, kataku di dalam hati. Sementara lidahku kelu,tak mmpu berkata sepatah katapun.
“ayahmu ini terlalu banyak membuat kesia-siaan di dalm hidupnya, namun meski pun begitu, dia selalu membaca shalawat dan salam kepadaku. Ketika ia mengalami hal buruk ini, ia memohon kepadaku untuk membantunya, maka aku datang untuk membantunya. Dan aku selalu menolong orang yng selalu membaca shalawat dan salam kepadaku.’’ Paparnya.
Pada saat itulah aku tersadar dari mimpiku. Akan tetapi,dikala terjaga aku terus terigat perihal apa yang telah terjadi dalam mimpiku. Lalu sesegera muungkin kubuka kain yang menutupi wajah ayahku itu.
Subhanallah….. mimpiku benar-benar menjadi kenyataan. Persis seperti apa yang telah berlaku didalam mimpiku, kulihat wajah ayahku telah kembali putih bersih dan lebih bercahaya dibanding sebelumnya.
“setalah itu,aku termenung mengenang-ngenang atas apa yg telah terjadi di dalam mimpiku yg penuh berkah itu.
Diam-diam hatiku berkata, “Mengapa mimpi itu tidak berlangsung lebih lama? Dengan cara itu aku dapat menikmati lebih lama berada di samping manusia utama yang amat mulia itu. Oh nasib!’

‘Demikian lah kisahnya, wahai Sufyan As-Tsauri! Sekarang engkau sudah tau mengapa aku terus bershalawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tatkala aku melangkahkan kaki. Aku akan senantiasa bershalawat kepada beliau sebanyak yang aku mampu, moga-moga saja aku mendapat pertolongannya pada suatu hari nanti, baik didunia maupun di akhirat.”
Setelah memberi pejelasan demikian kepada Sufyan ats-Tsauri,orang itupun kembali berjalan meneruskan thawafnya, sementara lisannya tidak pernah berhenti menyebut shalawat dan salam teruntuk Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Demikian cuplikan kisah yang disadur dan dinukil dari kitab Mukhtasar Raudhur Raiyahin karya Allamah al-Yafi’iy.
‘Manusia yang paling utama di sisiku pada hari kiyamat adalah orang yang paling banyak bershalawat untukku’ [HR.Atturmudzi].

[sumber:Hidayah des.2003]


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: