Posted by: Syukron Tanzilah | December 19, 2012

ALHABIB MUHAMMAD BIN TAUFIQ BIN SYAHAB (Pimpinan Majelis Ta’lim Al-Anwar)

HABIB MUHAMMAD SYAHAB lahir di Palembang, 31 tahun yang lalu. Beliau bertekad untuk mewakafkan dirinya berdakwah di jalan Allah. “Saya memulai dari nol…. Saya tidak punya apa-apa, hanya niat yang tulus ingin berjuang di jalan Allah,” tuturnya.

ALHABIB MUHAMMAD BIN TAUFIQ BIN SYAHAB (Pimpinan Majelis Ta'lim Al-Anwar)Selesai sekolah dasar di Palembang, beliau langsung berguru kepada Habib ‘Abdurrohman Assegaf di Bukit Duri selama 10 tahun. Menurut Beliau, Walid, demikian Habib ‘Abdurrohman Assegaf akrab disapa, banyak sekali memberikan bimbingan dan teladan yang luar biasa kepada murid-muridnya. “Walid itu tokoh besar…, dan saya sungguh beruntung bisa belajar di bawah asuhannya,” ujar Habib Syahab mengenang.

Setelah 10 tahun berguru dan berbakti kepada Habib ‘Abdurrohman Assegaf, beliau pun mohon restu untuk melanjutkan menuntut ilmu ke Hadromaut. “Tapi saat itu Walid tidak mengizinkan, saya masih diperlukan. Sebagai murid yang patuh, saya pun taat kepada guru, karena itu termasuk adab. Saya yakin, pasti ada berkahnya.”

Keyakinan Habib Syahab terbukti. Setahun kemudian Habib Umar Bin Hafidz datang ke Indonesia dan minta kepada Walid beberapa orang muridnya untuk diajak ke Darul Musthofa. Kali itu Walid tidak bisa mengelak. Maka dipilihlah beberapa orang, dan Habib Syahab termasuk yang terpilih.

“Alhamdulillah, ini berkah ketaatan kepada guru. Saya pun berangkat ke Hadromaut pada tahun 2000 dan belajar disana sampai tahun 2005,” ujarnya. “Masa di Darul Musthofa merupakan masa yang sangat menentukan bagi beliau membangun komitmen keilmuan dan pengabdian. Kami dibimbing oleh tokoh besar yang benar-benar pantas dijadikan teladan. Dengan murid-murid dari seluruh dunia, suasana di sana sungguh sangat kondusif untuk menuntut ilmu.

Waktu diatur sangat ketat, kami hanya punya waktu istirahat 4 jam, selebihnya adalah untuk menuntut ilmu…. Begitu terus selama 5 tahun. Sungguh luar biasa,” tutur Habib Muhammad Syahab mengenang almamaternya, Darul Musthofa.

Ilmu pengetahuan tidak hanya dituntutnya di Darul Musthofa. Ketika ada waktu sela, semua santri dianjurkan untuk menuntut ilmu kepada guru-guru yang ada di luar pesantren. Habib Muhammad Syahab pun mendapatkan ijazah dari beberapa orang guru besar, seperti dari Habib’ Ali Masyhur bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dan ‘Aynut Tarim Habib ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abdullah bin ‘Idrus bin Syahab.

Sesampai di Indonesia, Habib Muhammad Syahab mulai menjalani risalah dakwah. Menurut beliau semua itu bermula dari yang sederhana tapi harus disikapi dengan istiqomah. “Berkah atau tidaknya sebuah majelis dapat kita lihat dari manfaat yang didapatkan oleh masyarakat. Semakin lama kehadiran beliau semakin dibutuhkan oleh masyarakat dan terus memberikan kebaikan yang tiada henti,” ujarnya tentang majelis ta’lim.

Majelis Ta’lim beliau, yakni Al-Anwar, diberi nama dan diresmikan oleh Habib Umar Bin Hafidz, guru dan teladannya. Sejak Senin malam Selasa 21 Februari 2006, mulailah Majelis Ta’lim Al-Anwar mengisi kebutuhan ruhani masyarakat kota Jakarta dan sekitarnya. Bermula dari yang sederhana tapi ditekuni, kini majelis ta’lim yang didirikannya dirasa mulai dibutuhkan banyak orang.

Habib Muhammad Syahab berharap, mudah-mudahan majelis ini bisa menambah syiar agama Allah SWT, meyebarkan sunnah-sunnah Rosulullah Saw, tidak keluar dari ajaran salafush sholih, dan selalu mendapat ridho dari Allah SWT dan Rosulullah Saw, hingga bermafaat buat umat.

“Betapa pentingnya keberadaan majelis-majelis yang mengajarkan ilmu Allah SWT. Tidak selayaknya bagi manusia jauh dari ilmu Allah SWT. Ilmu agama adalah hal yang terpenting di dalam kehidupan manusia. Para anbiya (nabi) tidak mewariskan harta, mereka mewariskan ilmu. Ilmu menerangi hati dari kegelapan. Hadir di majelis ilmu bisa menghidupkan hati yang telah mati, sebagaimana Allah SWT menghidupkan tanah yang telah tandus dengan air hujan,” ujarnya menjelaskan.

HABIB MUHAMMAD BIN TAUFIQ BIN SYAHAB (Pimpinan Majelis Ta'lim Al-Anwar)Rentang dakwah Habib muda yang masih lajang ini dari waktu ke waktu kian panjang, seiring dengan semakin dikenalnya Majelis Ta’lim Al-Anwar. Tugas-tugas dan panggilan dakwah mulai mengalir, terutama dari Indonesia Timur. Maka ia pun keluar masuk Papua untuk mengemban risalah dakwah. Begitu pula Kalimantan, Makassar, dan berbagai kota besar di Indonesia. Kini muhibbin pun bisa mendapatkan ilmu dan taushiyahnya dari situs majelis yang beralamat di www.majelisalanwar.com . Berbagai ragam kiprah dakwah dan pengetahuan bisa diakses di sana. Dakwah zaman sekarang memang harus juga mengoptimalkan teknologi informasi.

Habib Muhammad Syahab mengingatkan kaum muslimin tentang betapa pentingnya ilmu dan ibadah. Ia menyitir ucapan Imam Al-Ghozali, yang intinya, ilmu dan ibadah adalah dua permata yang sangat berharga. Karena keduanya kita bisa mendengar ucapan orang-orang sholih, membaca kitab mereka, mengetahui ajaran mereka, mendengar nasihat mereka. Bahkan dengan sebab ilmu dan ibadah diturunkanlah kitab-kitab Allah dan diutus para Rosul Allah.

Tentang ibadah, bahkan ditegaskan oleh Allah SWT dalam surah Adz-Dzaariyat ayat 56, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Menurut Habib Syahab, tidak bisa seseorang hanya belajar tapi tidak beribadah, dan sebaliknya tidak bisa hanya beribadah tanpa ilmu. “Belajar ilmu itu hukumnya wajib. Ilmu itu diibaratkan pohon, sedangkan ibadah adalah buahnya,” ujar Habib yang tinggal di Jalan Eretan II No. 62 B Condet ini.

Di antara ibadah yang agung dan utama adalah menuntut ilmu syar’i, yaitu firman-firman Allah dan sabda rasul-rasul-Nya. Menuntut ilmu adalah amalan pendekatan diri kepada Allah yang paling utama yang seorang hamba dapat mendekatkan diri dengan amalan tersebut kepada Tuhannya, dan termasuk ketaatan yang paling baik yang akan mengangkat kedudukan seorang muslim dan meninggikan derjatnya di sisi Allah SWT.”

Habib Muhammad Syahab mengingatkan, “Penting bagi seorang muslim untuk selalu tafakkur, memikirkan ayat-ayat Allah SWT, baik yang syar’iyyah, yaitu Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW, maupun ayat-ayat-Nya yang kauniyyah, yaitu alam semesta, yang terhampar luas. Lalu tadabbur, memikirkan akibat-akibat dari amalan yang dikerjakannya dan mengingatkan akibat-akibat dari kebodohan.”

Menurutnya, buah dari itu semua tercermin dari akhlaq seseorang. Karena itulah keutamaan seorang yang bertaqwa. Akhlaqnya, adabnya sangat luhur. Tidak ada perbuatannya yang menyimpang. Semua orang merasakan manfaat keberadaannya. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk sesama.”

Habib Syahab juga menasihati, apa yang terjadi pada manusia, lingkungan, dan negara, seperti bencana alam, berupa gempa, banjir, tanah longsor, dan sebagainya, haruslah diterima dengan prasangka baik. Itulah adab seorang muslim. “Bencana adalah refleksi dari kasih sayang Allah SWT untuk ciptaan-Nya, jadi jangan dianggap itu sebagai kutukan. Allah SWT memberikan pelajaran dengan cara yang terbaik, kita harus ridha dan selalu berprangka baik,” ujarnya menutup pembicaraan.


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: