Posted by: Syukron Tanzilah | February 14, 2013

Biografi singkat Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi; Perintis Thariqah Alawiyah

Beliau adalah panutan yang terkenal sebagai pemilik kemampuan dan kedudukan tinggi, pemilik lautan ilmu dan pemaaf, pemilik orientasi hati dan sikap yang diridlai Allah, guru besar yang serba sempurna, beliau adalah orang pertama yang diberikan gelar ini (Alfaqih Almuqaddam) dari kalangan keluarga bani Alawi sebab keterpandangan beliau dari aspek ilmu dan amal,  juga karena beliau orang pertama di Hadhramaut yang mengibarkan bendera tasawuf dan menjadikannya sebagai ideology hidup.

Al Ustadzul ADhom Alfaqiihil Muqoddam MuhammadBeliau dilahirkan di Tarim tahun 574H, hidup dan berkembangan ditengah komunitas yang padat diwarnai oleh suasana hidayah dan iman, beliau hafal alquran dan banyak matan disegala disiplin ilmu, waktu beliau terbuang untuk mempelajari segala macam bentuk ilmu, semenjak kecil sudah tampak dari beliau cahaya berkah ilmu dan amal.

Sebab keinginan kuat ini juga kepiawaian beliau dalam keilmuan seperti Al quran, tafsir, hadist, dan tata bahasa, derajat beliau meningkat setahap demi setahap sampai terlihat dari diri beliau  tanda kejeniusan, selalu unggul diatas teman-temannya, namun hal itu diberangi dengan sopan santun dalam berprilaku, dan tidak menjadikannya  jauh dan lepas dari guru-gurnya, malah dengan segala keistimewaan ini beliau semakin dekat dan giat untuk menimba berbagai ilmu dari guru-gurunya, diantara guru-guru yang paling menonjol saat itu adalah Syeh Al Allamah Ali bin Ahmad Ba Marwan,  Syekh Al Allamah Abdullah bin Abdul Rahman Ba Ubaid At Tarimi , Syekh Al Qadli Ahmad bin Muhammad Ba Isa, Al Imam Al Allamah Al Faqih bin Fadhal, Al Saiyid Al Allamah Al Hafidh Ali bin Muhammad bin Jadid, Syekh Al Alamah Muhammad bin Ahmad bin Abi Al Hab, dan lain sebagainya.

Hadhramaut pada saat itu sebagaimana negri-negri islam lainnya dipenuhi dengan fitnah dan cobaan, semua mata pada saat itu tertuju ke Ahlu Bait Nabi SAW (baca : keluarga Nabi), di Hadhramaut tidak ada keturunan Nabi SAW kecuali anak cucu Al Imam Al Muhajir, pada saat itu semua orang rela berkorban harta dan nyawa demi membela keluarga Nabi SAW, Al Faqih Al Muqaddam bisa merasakan disela-sela pergaulan dengan orang banyak bahwa para keluarga nabi merupakan target pada saat itu, khususnya, orang-orang iri dan dengki dan memata-matai keadaan dan melaporkannya ke pemerintah, melihat kenyataan ini  Al Faqih Al Muqaddam  takut nantinya bila beliau terus bersikap santun, ramah dan asih kepada semua orang, akan dianggap mengambil hati rakyat untuk mendukungnya menyaingi pemerintahan yang ada, jika hal ini sampai pada mereka , bisa jadi mereka kembali kesenjata yang sudah merupakan bagian hidup mereka, sampai-samapi Al Faqih Muqaddam ketika datang ke gurunya Syekh Ba Marwan beliau menyandang pedang, sedang jika memang yang di isukan tadi sampai benar-benar dianggap oleh orang-orang pemerintahan tersebut, maka peristiwa Karbala akan terulang kembali.

Al faqih Al Muqaddam merenungi hal tersebut ber bulan-bulan sembari beliau membaca teori-teori dan figur-figur politik dan terus menimbang-menimbang untuk bisa mencapai satu solusi yang paling tepat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi yang paling pas dihatinya akhirnya jalan yang paling sempurna adalah dengan methode kembali kepada Allah SWT, dan meninggalkan jabatan, dan ini hanya ditempuh dengan methode Shufiyah.

Tasawuf bukan hal baru bagi keluarga Al Faqih Al Muqaddam, sebab sejarah mencatat bahwa orang yang pertama kali meniupkan nafas tasawuf di Hadhramaut adalah Al Imam Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir setelah beliau belajar kitab Quut Al Qulub langsung dari pengarangnya di Makkah yaitu Syekh Abi Thalib Al Makky yang meninggal 386 H. kemudian Al Imam Salim bin Bashri bin Ubaidillah, akan tetapi methode ini bukanlah methode yang universal atau bersifat akademis , tapi hanya merupakan methode turun temurun keluarga Ba Alawi.

Al Faqih Al Muqaddam dan Syekh Sa’ad Al Dhafary

Al Faqih Al Muqaddam bukan hanya terkenal sebagai seorang panutan, mujtahid, muhaddith (pembawa rawi hadist), Ahli Usul, tapi beliau juga terkenal sebagai ahli Tasawwuf  kental yang memiliki perasaan dan indra ruhiah, sebagaimana pendahulu-pendahulunya. Hanya saja tasawauf Al Faqih Al Muqaddam tampak dalam perilaku dan tidak tanduk beliau sedari beliau kecil sebab pengaruh nilai-nilai tinggi Al Quran yang terpatri pada pribadi beliau disamping jiwa beliau yang suka mengembara di dunia ilmu pengetahuan dan membaca persaingan diantara aliran tasawwuf di masanya, maka mulai pikirannya terpanding untuk semakin mendalami dan memahami kenyataan yang ada dan mencari solusi-solusinya tanpa mengekor ke salah satu madrasah yang ada selain madrasah keluarga dan moyangnya, lantas ditulislah surat ke Seykh Al allamah Sa’ad bin Ali Al Dhafari Al Syihry menanyakan beberapa permasalahan pelik, dan menuliskan apa-apa yang sudah terrpikirkan olehnya. Lantas Syekh Sa’ad ketika membaca surat AL Faqih AL Muqaddam mendapati Al Faqih AL Muqaddam telah dalam menyelami lautan ilmu, dan berbicara tentang ilmu yang ulama hadhramaut semuanya belum mencapai derajat itu.

Berhubung Syekh Sa’ad adalah orang Tasawwuf , beliua takut yang menimpa Al Fqih ini adalah penguasaan diri, atau pertanyaan nafsu manusia, lantas menulis kepada Al Fqih surat mengingatkan nya dari tipu daya setan dan memberikan gambaran-gambaran orang-orang yang dulu di coba Allah dengan hal itu seperti Bal’am bin Baurah dan lain-lain, karena cinta dan sayang kepada Al Fagih.

Namun kondisi Al Faqih Al Muqaddam bukanlah tipu daya setan atau pertanyaan hawa nafsu, maka dari itu dia terus menyurati Syekh tersebut menceritakan apa-apa yang diberikan dan diajarkan oleh Allah kepadanya, sesuai dengan firman Allah yang artinya (bertakwalah kepada Allah maka Dia akan mengajarimu), maka tahulah Syekh bahwa yang sedang dialami oleh Al Faqih adalah maqam ihsan dan pemberian Allah SWt, seperti yang disabdakan oleh Nabi SAW  jika kalian seperti itu maka para malaikat pun akan berjabatan tangan dengan kalian, lantas beliau menjawab surat Al Faqih seraya mengatakan: yang kamu dapati dariku wahai Al Faqih adalah nasihat, telah kujelaskan kepada mu apa yang dikehendaki oleh Allah, Dialah pembantu disegala persoalan, kita memohon kepada-Nya agar menunjukkan kita kejalan yang dicintai-Nya dan diridlai-Nya, dan agar tidak memberikan kesempatan kepada setan untuk mempengaruhi kita. Dan agar menunujukkan kita kebenaran untuk diikuti dan kebathilan untuk dihindari, kemudian aku berpesan jangan sam pai hatimu terpaut dengan keramat-keramat, dan jangan sekali-sekali meliriknya walaupun muncul darimu, hendaklah hatimu memeluk cinta kepada Allah SWT, pertahankan posisimu walaupun datang hari kiamat, seandainya kamu melihat terror jangan sampai kamu terteror, setiapkali kamu menghadapi sesuatu maka pertimbangkanlah dengan timbanagn syariat dan kitab Allah, dan ikutilah yang sejalan dengan kebenaran dan tinggalkan lainnya, dan kamu wahai Faqih sudah sangat terhidayahi oleh Allah, dan jauh tahu banyak Syariah dan Hakikat.

Al Faqih Al Muqaddam dan Syekh Sofyan Al Yamani

Suatu saat  Syekh Sufyan berkesempatan untuk berziarah ke Hadarmaut  beliau singgah di Tarim, beliau bertemu dan berkumpul dengan para ulama Tarim, lalu mereka minta dari Syekh untuk Shalat Istisqa (meminta hujan) bersama mereka, lalu beliau mengatakan perbaiki saluran-saluran air, lantas mereka keluar dan dikejutkan dengan kenyataan saluran-saluran air yang ke lahan-lahan dan perkebunan korma mereka dipenuhi air, hal ini merupaka karomah Syekh Sofyan AL Yamani yang diberikan Allah SWT.

 Syekh Sufyan dalam kesempatan itu juga berkumpul dengan Al Faqih Al Muqaddam Muhammad bin Ali yang mana pada saat itu adalah permulaan tampaknya perubahan kepribadian beliau, lantas terjadilah diskusi diantara keduanya dan tukar pikiran berharga, ketika Syekh Sofyan pulang Al Faqih Al Muqaddam berkesempatan memberikan kepadanya surat tentang picisan cahaya yang tersembunyi (ibarat untuk ilmu hakikat) lalu beliau menjawab dengan, ini adalah sesuatu yang belum pernah kami ketahui sebelumnya dan derajat yang belum pernah kita capai.

Tampaknya pada saat itu Al Faqih Al Muqaddam telah terbenam dalam perubahan kepribadiannya di satu sisi dan di sisi lain jiwanya terusik dengan fenomena umat yang mempertumpahkan darah demi untuk mencapai suatu jabatan dan kepemimpinan, juga rasa takut beliau bila sanak keluarganya sampai terserat kedalam medan tersebut, akhirnya beliau membangun theory pemikiran tersebut agar bisa tampak dan diikuti dalam kehidupan.

Peletakan pondasi Madrasah Shufiyah Alawiyah di Hadhramaut

Abad ke-6 (enam) hijriyah adalah abad yang penuh dihiasi dengan tumbuhnya aliran-aliran pemikiran, proses ini terjadi sebagai efek dari masa yang  sebelumnya yaitu pada masa keemasan islam dimana pada masa ini semua madzhab mulai tumbuh dan berkembang begitu juga madrasah shufiyah yang mulai memiliki bentuk jelas pada masa ini, dimasa ini berkembang di Hadhramaut madzhab  Al Imam Al Syafi’I sedangkan di San’a berkembang madzhab Al Zaidy, disisi lain di Hadhramaut madzhab Aqidah Asy’ariyah berkembang pesat dan sebagai imbasnya menurunya pengaruh Khawarij dan Abadliyah.

Untuk aliran Tsawwuf, aliran ini berpindah dari generasi ke generasi pada masa pertama secara individual perseorangan, hingga akhirnya pada abad keenam menjadi theory pemikiran yang dikembangkan dikebanyakan dunia islam, madrasah Shufiyah semasa hidup Al Faqih AL Muqaddam terkonsentrasi menjadi dua madrasah internasional

Pertama: Madrasah Shufiyah Al Qadariyah di daerah timur

Madrasah ini dibangun oleh Syekh Abdul Qadir Al Jailani  yang meninggal pada tahun 561H, beliau adalah maha guru ilmu Thariqat yang menjadi kiblat   semua murid di Iraq, hampir semua Syekh di Yaman riwayat belajar mereka kembali ke beliau.

Kedua: Madrasah Al Syuaibiyah di Maghrib

Ini adalah suatu madrasah shufiyah yang di bangun oleh Syekh Kabir Abu Madyan Syu’aib  Al Timilsani Al Maghriby meninggal di Timilsan di negeri Maghrib tahun 580 H, ilmu dan kedudukan Thariqat didunia kebanyakan kembali kebeliau, beliau adalah sosok yang dianugrahi oleh Allah pengetahuan Hikmah, dan rahasia ilmu pengetahuan di Maghrib, semua ulama sepakat atas ke utamaan beliau.

Al Faqih Al Muqaddam dan hubungan beliau dengan Thariqah Al Syuaibiyah di Al Maghrib

Kondisi Hadhramaut pada masa Al Faqih Al Muqaddam seperti layaknya kebanyakan negri lainnya diwarnai dengan gejolak dan huru-hara, hal ini merupakan sala satu motivasi muncul dan tumbuhnya Madrasah Tasawwuf di Hadhramaut, disamping faktor pendukung lain seperti gejolak bathin Al Faqih Al Muqaddam yang menginginkan untuk mencari solusi dan methode untuk mencapai perbaikan bukan hanya di Hadhramaut saja tapi secara universal.

Setelah bermacam study dan riset, Al Faqih Al Muqaddam tidak mendapatkan solusi terbaik untuk perbaikan umat kecuali dengan mengambil cara Shufiyah baik secara methode, Akhlaq ataupun sikap politik dibanding dengan pola-pola pikir yang lainnya, Hadhramaut dimasa itu merupakan istana aktifitas keilmuan dan praktikanya sekaligus, mimbar-mimbar pada saat itu merupakan tempat pijakan utama para pembesar ulama baik hadist, usul ataupun fiqh, dan AL Faqih AL Muqaddam bukanlah orang asing di tengah perhelatan itu,  konon beliau hadir didepan gurunya Syekh Ali bin Ahmad Ba Marwan dengan menyandang pedang. sebab aktifitas beliau dengan ibadah dan pembersihan diri yang mana cahaya-cahayanya membiaskan rasa segan pada diri AL Faqih Al Muqaddam melihat orang-orang disekelilingnya yang selalu asyik mendalami hal-hal yang tidak lumrah, debat masalah fiqih yang tak berujung yang terkadang sampai  membawa reflek dari kedua pihak untuk melontarkan hal-hal yang tidak etis, sehingga Al Faqih merasa ilmu yang ada kering keronta ketika adab dan akhlaq tidak membias ke sanubari pemiliknya. Tapi didikan yang diperoleh oleh Al Faqih AL Muqaddam mengentas beliau dari tabiat umum manusia ini.

Tampaknya kabar tentang ketinggian derajat Al Imam Al Faqih Al Muqaddam dan untaian kata-kata bijaknya tidak hanya berkutat di Hadhramaut lebih dari itu kabar ini dibawa juga oleh para musafir sampai terdengar  ke haribaan Syekh Abu Madyan Syuaib, Syekh Thariqah Shufiyah di Maghrib, lantas beliau memanggil salah satu muridnya Syekh abdul Rahman Al Maq’ad  untuk berangkat ke Makkah kemudian ke Hadhramaut, lantas berpesan kepadanya “disana kita memiliki banyak sahabat, kunjungi mereka dan ambillah sumpah mereka untuk menerima jabatan lalu pakaikan Khurqah  kepada mereka, lantas berkata lagi, kamu akan meninggal ditengah perjalanan sebelum kamu sampai kepada mereka, maka utuslah kepada mereka orang yang akan mengambil sumpah mereka untuk menerima jabatan dan memakaikan khurqah. Ketika  Syekh Abdul Rahman Al Maq’ad sampai di Makkah beliau meninggal dunia, dan sebelumnya telah mengamanatkan kepada Syekh Abdullah Al Shalih Al Maghriby, salah satu muridnya khurqah tersebut, dan berwasiat: kamu akan masuk ke kota Tarim dan akan kamu temui Al Syarif Muhammad bin Ali belajar kepada Al Faqih Ali bin Ahmad Ba Marwan, temui dia beri dia jabatan dan pakaikan khurqah ini, lalu pergilah ke kota Qaidun temui Syekh Said bin Isa Al Amudy dan beri dia jabatan.

 

Delegasi Syekh Syuaib di Hadhramaut

Syekh Abdullah Al Maghriby keluar dari Haramain dengan membawa cita-cita suatau madrasah menempuh segala rintangan sehingga bisa sampai di Hadhramaut, dan ketika tiba di Tarim didapati  Al Faqih Al Muqaddam sedang berada dihadapan gurunya Ba Marwan, lalu melontarkan sebuah pertanyaan  kepada Al faqih: termasuk batu perhiasan  apakah kamu ini seandainya dilubangi? Dijawab, dilubangi bagaimana? Penyerahan jabatan, lalu menjelaskan tentang maksud dan tujuan kedatangannya, lalu Al Faqih berminta untuk bergabung dengan aliran tersebut dan menghindar dari pemerintahan dan jabatan dunia, beliau melihat bersikap butuh hanya kepada Allah adalah yang paling cocok untuk beliau.

Keputusan untuk berubah dan efeknya

Al Faqih Al Muqaddam memakai Al Khurqah yang merupakan symbol Tasawwuf, Syekh Maghriby atas nama Syekh Syuaib Abu Madyan mengambil sumpah  dan menyerahkan jabatan, dengan demikian Al Faqih Al Muqaddam telah lepas dari identitas lamanya, berubah menjadi seorang Sufi dan menyiarkan hal ini.

Efek dari penyiaran prinsip ini kepada masyarakat, respon keras dari orang terdekat yang paling berpengaruh kepada beliau, dikatakan dalam kitab-kitab biografi bahwa guru beliau Ba Marwan ketika melihat Al Faqih sudah berubah langsung mengatakan: kamu buang cahayamu, dulu kami berharap kamu menjadi seperti Ibnu Faurak, tapi kamu memilih jalan Tasawwuf dan Faqir, dulu kamu adalah cita-cita dan kemampuanku.

Ini merupakan tamparan keras, dan ucapan yang padas, namun Al Faqih Al Muqaddam tidak berubah karena dorongan rasa kasihan ataupun semaunya sendiri tapi lebih dari itu beliau melakukan ini dengan kesadaran penuh dan kemauan hakiki, oleh karena itu beliau menjawab guru beliau Ba Marwan dengan: kefaqiran adalah kebanggaan dan aku membanggakannya, saya bisa lepas dari nafsu dan setan sebabnya, saya tidak pernah menjauh dari anda, dan tak pernah menggantikan anda dengan siapapun. Ini merupakan nafas Tasawuf pertama yang menyebarkan identitas Tasawuf Al Faqih, yang menyampaikan kepada guru beliau  segala penghormatan dan penghargaan, dan menjelaskan juga motivasi beliau untuk berprinsip tasawwuf , akan tetapi Al Faqih Ba Marwan tidak menyukai sikap Al Faqih AL Muqaddam dan perubahannya lantas berpaling dan meninggalkannya hingga wafat . Sejak saat itu Al Faqih AL Muqaddam mulai menata pondasi nyata untuk methode dan pemikiran yang telah dibangunnya, sementara delegasi dari Maghrib meneruskan perjalanannya ke Doan.

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang orang-orang doan yang diambil sumpah oleh delegasi dari Maghrib tersebut, namun kebanyakan penulis biografi seperti penulis kitab Al Musyari’ dan Al Gharar menyebutkan, delegasi dari Maghrib tersebut berangkat kearah Qaidun dan melakukan kepada Syekh Said bin Isa Al Amudi seperti apa yang dilakukan kepada AL Faqih Al Muqaddam dari mengambil sumpah pemberian jabatan dan pemakaian khurqah, para penulis biografi sepakat tentang keduanya tapi mereka berselisih tentang orang lain selain kedua orang tersebut, ada yang mengatakan delegasi itu juga bertemu dengan Syekh Bahmaran penduduk Maifa’ah, dan Syekh Ba Amr penduduk ‘Aurah yang kemudian mengikutsertakan keduanya dalam Tasawwuf.

Dalam  kitab Al Juz Al Latif Fi Al Tahkim Al Syarif tulisan Imam Abu Bakar Al Adeni bin Abdullah Al Idrus halaman 222 dari kumpulan kitab Al Majmuah Al Idrusiah disebutkan nama Syekh Ba Ma’bad saja tanpa ada yang lainnya, redaksinya, Syekh Al Afif Abdullah Al Shalih Al Maghriby yang diutus oleh Abu Madyan dari ujung barat untuk mengambil sumpah dan menitahkan jabatan kepada tiga orang mutiara yang belum pernah terlubangi, diantara mereka adalah Al Faqih Al Muqaddam moyang dari keluarga Ba Alawi yang meninggal pada 653, Kamaluddin Syekh Said bin Isa Al Amudi yang meninggal tahun 671, dan Syekh Muhammad Ba Ma’bad dan beliau inilah moyang keluarga Ba Ma’bad.

Dari tangan para Syekh Thariqat Al Syauibiah inilah menyebar paham Tasawwuf di Hadhramaut, namun Tasawwuf yang dibangun oleh Al Faqih Al Muqaddan dan Syekh Said Al Amudi memiliki karakter sendiri tidak terpengaruh total dengan karakter Thariqat Al Syuaibiyah, hal ini merupakan dalil bahwa madrasah Hadhramaut memiliki karakter tersendiri lain dari pada yang lainnya.
Sebagaian orang bertanya-tanya, kalau memang seperti itu lalu apa guna keterikatan Al Faqih Al Muqaddam. AL Amudi dan para Syekh lainnya dengan Syekh Syuaib Abu Madyan dengan perantara Al Maghriby?

Jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan ini adalah Al Faqih Al Muqaddam tidak membutuhkan orang yang menunjukkan beliau atau untuk menuntunya ketika beliau memutuskan untuk mengambil jalan Tasawwuf, hanya saja beliau butuh sanad (baca : penyambung) sosial dan media internasional yang mendukung pengproklamiran beliau dan cara berpikir beliau diantara orang-orang pada zaman itu, lantas beliau mengumumkan ketasawwufan beliau akan tetapi dengan cara khas bani Alawi yang sesuai dengan etika hidup salafu salih dan Nabi SAW.

Saiyyid Al Allamah Muhammad bin Ahmad AL Syatiri mengatakan dalam kitab beliau Al Adwar 2:254 : demikianlah berkembang Tasawwuf di Hadhramaut tapi dengan cara yang terhormat, murni, jauh dari fanatik buta dan melepaskan Syariat.
Sayyid Al Allamah Shalih bin Ali Al Hamid dalam kitab Tarikhul Hadhramaut mengatakan: Tasawwuf di Hadhramaut tidak menggunakan berlebih lebihan, tidak juga meniti cara rahib yang kolot seperti halnya model Tasawwuf yang ada dibeberapa tempat, tapi Tasawwuf di Hadhramaut lebih condong berprisip tengah-tengah, artinya disamping dia mengajak untuk membersihkan diri dari ketergantungan kepada materi tapi disisi lain sangat menganjurkan untuk selalu berusaha untuk menutupi kebutuhan hidup dan berpegang teguh dengan fiqih. Model inilah yang merupakan keistimewaan yang diwariskan oleh  Bani Alawi, dan hal ini diakui oleh generasi terakhir.

Saiyyid Shalih Al Hamid menyebutkan dalam kitab Tarikh Hadhramaut, nenek moyang kami berpegang dengan paham Shufiyah tapi tidak seperti yang dikira sebagian orang bahwa mereka tidak mau berusaha untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Tapi kenyataanya adalah sebaliknya karena Paham Tasawwuf tidak pernah melarang mereka untuk menggarap lahan pertanian mereka dan memenuhinya dengan pohon korma sehingga pada saat itu lahan-lahan itu bak surga, para ahli sejarah menyebutkan bahwa Al Faqih Al Muqaddam adalah teladan dalam hal ini, diceritakan bahwa beliau dulu hasil panen korma nya memenuhi 360 wadah besar setiap tahun, dan kurma yang ditanam adalah kurma-kurma yang berkualitas tinggi kamudian hasil ini dibagikan kepada orang-orang faqir dan miskin.

Saiyyid Muhammad bin Ahmad Al Syathiri menceritakan tentang karakter para pendahulunya sebagai berikut, Keluagra Bani Alawi adalan keluarga Tasawwuf hanya saja kesufian mereka tidak membutakan mereka untuk memenej urusan sosial lebih-lebih urusan keluarga mereka, sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat dan tabiin, Bani Alawi memang pemeluk aliran Tasawwuf namun hal ini tidak membendung mereka untuk menghimpun harta dengn cara yang sesuai dengan Syariat untuk di infaqkan untuk memulyakan para tamu, membangun masjid dan tanah wakafnya, membangun tempat-tempat minum umum, membangun dapur-dapur dan majelis taklim sebagai media menyebarkan ilmu, dan dakwah kepada Allah SWT, juga untuk mempererat tali silaturahmi antar keluraga.

Al Imam Al Faqih Al Muqaddam telah membuka wahana baru bagi generasi setelah beliau dalam  dunia Tasawwuf yang berbeda dari metode-metode Tasawwuf lainnya. Hal ini dikatakan juga oleh Al Imam Al Haddad dalam ungkapan beliau, cara  kita secara umum tidak perlu dipertanyakan lagi sebab semuanya tidak lepas dari Al Quran, Al Sunnah dan meneladani salafusalih, dari penjelasan global ini ada perician yang panjang lebar, seandainya generasi sekarang ada yang benar-benar tulus ingin mengetahuinya dan rela bersabar demi memahaminya, maka akan kami jelaskan perician itu dan apa yang lebih cocok untuk sebagian orang dan mana yang lebih cocok untuk lainnya.

Para penulis biografi  juga menuliskan tentang kebenaran cara dan jalan yang dipilih oleh Al Faqih Al Muqaddam, disebutkan bahwa beliau dulu sangat bersungguh-sunguh dalam beribadah dan taat kepada Allah, menghabiskan waktu siangnya untuk mengajar dan puasa, malam hari habis untuk Shalat baik secara rahasia ataupun terang-terangan, bila telah mengkhatamkan Al Quran langsung memulai lagi, beliau sering menghabiskan waktu untuk beribadah di Syi’ib AL Nuair.

Mereka mengatakan suatau malam putranya Ahmad mengikuti beliau, ketika sampai di lembah Al Faqih berdzikir dengan lisannya dan mengulangnya berkali-kali lantas semua yang ada dilembah dari pepohonan bebatuan ikut berdzikir bersamanya sehingga anaknya pingsan sampai akhirnya ayahnya kembali menghampirinya.

Mengenakan pakian orang faqir dan mematahkan pedang

Semenjak pemroklamiran dirinya sebagai seorang sufi Al Faqih Al Muqaddam mulai mengarahkan para pengikutnya untuk mementingkan ilmu, amal, dan pembersihan jiwa, serta berusaha untuk mendapatkan perasaan yang sehat yang tumbah dari banyak membaca Al Quran, sembahyang malam, puasa, menafkahi orang faqir, janda-janda ,dan anak-anak yatim, juga mematahkan ambisi keinginan duniawi dengan cara mujahadah  (baca : melawan hawa nafsu) dan menjauhkan diri dari para pemburu jabatan dan pemerintahan sembari menasihati mereka dengan kebaikan, berkumpul dengan orang-orang sederhana, dan membantu menutup kebutuhan mereka, menasehati dan membimbing mereka, mengajak mereka untuk selalu berdzikir kepada Allah disegala waktu, serta menumbuhkan jiwa saling mencintai diantara mereka dengan cara silaturahmi, menghormati hak-hak tetangga, menjenguk yang sakit, mengantar jenazah, dan saling menziarahi karena Allah, mendirikan majelis dzikir, dan memimpin da’wah menuju Allah SWT dengan hikmah dan nasihat yang baik di kota-kota, desa-desa, khususnya kepada para penyandang senjata.

Dakwah yang dilancarkan oleh Al Faqih Al Muqaddam di majelis-majelisnya membawa efek positif sehingga hampir seluruh umat merasa cocok dan tertarik dengan misi yang dibawa oleh Al Faqih, hingga suatau saat Al Faqih mengambil sikap dan keputusan baru yang mana sikap dan keputusan ini merupakan buah keberhasilan dakwah Al Faqih terutama dihadapan orang-orang pemerintahan, lebih-lebih setelah datangnya Syekh Said Al Amudi ke Tarim, pasca pelebaran sayapnya diseluruh wilayah Doan dan penyatuan langkahnya dengan Al Fqih Al Muqaddam serta dukungannya terhadap sikap Al Faqih Al Muqaddam yang merupakan penyempurna sikap awalnya.

Ahli  sejarah Ali bin Husain Al Attas mengatakan dalam kitabnya (Taaj Al A’aras 199:2) Al Faqih AL Muqaddam berbusana ala orang faqir dan menentang angkat senjata sebab beberapa factor:

Pertama karena beliau mendoakan anak-anaknya agar dijadikan Allah pemilik senjata bathin yaitu argument kuat yang akan mengungkapkan pribadinya atau pedang kemampuan, sehingga mereka menjadi penguasa, yang berpengaruh dan melindungi, disebut dalam suatu bait syair:

Para panguasa sebenarnya kekuasaan mereka untuk orang lain Hanyalah sebatas nama dan penyiksaan.

Kedua karena Allah SWT memberitahukan kepada Al Faqih Al Muqaddam bahwa anak-anaknya akan semakin banyak di Hadhramaut, sedangkan negeri itu, juga pemerintah dan para qabilahnya tidak mengikuti undang-undang syariat, mereka mebunuh orang-orang tak berdosa sebab nyawa orang kriminil, dan mengambil harta orang-orang tak berdosa karena dosa orang lain, sampai-sampai aku melihat para penguasa mulai dari Al Musyaqis sampai Al Thariyah, dan mulai dari daerah pantai sampai Mareb semuanya dibangun diatas api neraka Jahannam  karena semua tidak sesuai dengan undang-undang Syariah dan sejalan dengan aturan masa Jahiliyah. Seandainya keturunan Al Faqih Al Muqaddam membawa senjata maka mereka akan hancur ditangan mereka sendiri,

Ketiga  karena akhir zaman yang dipenuhi dengan fitnah dan gerakan lepas senjata sangat dianjurkan di mulai dari zaman Saiyidina Hasan hal ini seperti diungkapkan dalam hadist Shahih Muslim, akan terjadi banyak fitnah, dimana orang yang duduk lebih dari pada yang berdiri, dan yang berdiri lebih baik dari pada yang berjalan, dan yang berjalan didalam lebih baik dari pada yang berjalan diluar, yang berjalan didalam lebih baik dari pada yang berlari, barang siapa dimuliakan saat itu ambillah kemulyaan darinya, barang siapa mendapat jalan keluar maka mohonlah perlidungan darinya. Dalam riwayat lain, fitnah orang yang tidur saat itu lebih kecil dari pada yang bangun, dan yang bangun lebih baik dari pada yang berdiri, samapi sabda SAW: mengambil pedangnya dan memukul sisi tajamnya dengan batu, Al Imam  Muhyiddin Al Nawawi mengatakan dalam Syarah Shahih Muslim, sabda SAW barang siapa mendapat jalan keluar, artinya pelindung, atau tempat belindung lalu berlidung disitu, sabda SAW : hendaklah meminta perlidungan darinya, hendaklah belindung didalamnya, adapaun sabda SAW orang duduk lebih baik dari pada yang berdiri samapi akhirnya, artinya, peringatan akan besarnya bahayanya dan motivasi untuk menghindarinya, dan melarikan diri darinya juga menghindari melakukan sebab terjadinya, karena besar bahayanya tergantung pada besar keterikatan padanya, adapaun sabda SAW : mengambil pedangnya dan memukul sisi tajamnya dengan batu maksudnya merusakkan pedang dalam arti yang sebenarnya, menurut pedapat lain meninggalkan perang, akan tetapi pendapat pertama lebih kuat.

Syekh Said bin Isa Al Amudi

Redaksi berikut dinukil dari kitab kami (Tarjamatu Al Syekh Said bin Isa Al Amudi)

Terkenal  dikalangan umum bahwa para Syekh dari keluarga Al Amudi dijuluki sebagai gudang keluarga Ba Alawi. Setelah terjadinya penggabungan antara dua penggede gerakan Tasawwuf diseluruh Hadhramaut, Al Imam Al Faqih Al Muqaddam dan Syekh Said bin Isa Al Amudi, sebab ikatan batin dan saling mencinta dijalan Allah Syekh Said AL Amudi menjadi pendukung dan sandaran keputusan-keputusan dan sikap-sikap Al Faqih Al Muqaddam, bahkan Syekh Said merupakan pendukung utama bagi Al Faqih Al Muqaddam dalam melaksanakan keputusan akhirnya untuk melapaskan pedang yang mana hal ini merupakan symbol perubahan dari gaya hidup social  yang umum pada saat itu, menjadi gaya hidup sederhana dan jauh dari pemerintahan, menjadikan ilmu dan amal sebagai pengganti pedang.

Dikatakan dalam kitab Al Syamil fi Tarikh Hadhramaut, bahwa Syekh Said Al Amudi menjadi pewaris Al Faqih dan gudang rahasianya hal ini berkat beliau bersahabat dengan AL Faqih Al Muqaddam, Al Habib Ja’far bin Ahmad Al Habsyi memuji Syekh Said dalam sebuah bait syair:

Pada beliau tersimpan rahasia kami keluarga Alawi Hal ini diungkapkan oleh bibir orang-orang yang terpercaya

Hal ini bukan berarti Al Faqih Al Muqaddam dengan mengambil jalan ini mebiarkan keluarga Bani Alawi dalam kebodohan dan kerendahan, sebagaimana yang dianggap sebagian cucu beliau, tapi dibalik itu semua beliau membidik dua target, pertama politik kedua agama dan sosial.

Adapau target politik, Sayyid Muhammad bin Ahmad Al Syathiri menyebutkan dalam kitab beliau Al Adwar : orang-orang pemerintahan di Hadhramaut pada saat itu merasa tersaingi oleh keluarga Ba Alawi sebab sikap merakyat mereka sehingga mereka selalu memojokkan, mempersempit, serta selalu memantau gerak gerik mereka karena khawatir dengan kedudukan dan harta mereka, hal serupa juga dilakukan oleh keluarga Bani Alawi yang lain seperti dari Bani Umaiayyah dan Bani Abbas kepada keluarga Al Faqih Al Muqaddam, tidakkah kakek beliau Shahibul Marbath terpaksa harus berhijrah karena tekanan-tekanan tersebut, juga apa terjadi pada paman belaiau Alawi saudara ayah beliau seibu yang diracun oleh raja Tarim Al Qahthani pada saat itu.

Maka dari itu menyandang senjata pada saat itu berarti siap berduel, maka suatu hari harus siap bila ada perselisihan antara dua orang bersahabat, bahkan diantara anak-anak sebagaimana permusuhan ini terjadi dikalangan orang tua yang terus turun temurun yang mengundang dendam berkepanjangan sebagaimana yang terjadi diantara kabilah-kabilah. Al Faqih Al Muqaddam telah memandang jauh masalah ini dan berkeinginan untuk membabat kebobrokan ini seakar-akarnya, maka dipilihlah jalan Tasawwuf, dan menggenggam di tangan beliau tongkat yang nota bene symbol Tasawwuf  sebagai ganti pedang yang merupakan symbol perampokan, kriminal, dendam dan lainnya.

Adapun target sosial reliligi, Saiyyid Al Syathiri menyebutkan pula di  Adwar, semua referensi sepakat bahwa Al Faqih Al Muqaddam ketika menyerukan untuk melepas pedang (senjata), hal ini merupakan pengejawantahan misi beliau untuk memerangi sikap fanatik kesukuan, dan memberikan argument autentik akan kewajiban hidup dalam perdamaian dan Ukhuwah Al Islamiyah (baca : persaudaraan sesama muslim) tenggang rasa antar madzhab, dan bangsa juga antar kabilah dan seluk beluknya. Yang kedua senjata ilmu, iman, dan Akhlaq merupakan senjata paling kuat dalam masyarakat dan paling efektif untuk memimpin umat serta mengarahkannya menuju kebahagiaan, dan kemajuan hidup.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa sikap Al Faqih Al Muqaddam merupakan sikap yang sangat penting juga berani, ketika Syekh Said bin Isa Al Amudi adalah  sandaran beliau maka peran beliau tidaklah kalah penting dibanding dengan peran Al Faqih Al Muqaddam.

Disebutkan dalam beberapa kitab sejarah bahwa serpihan pedang yang dipatahkan oleh Al Faqih Al Muqaddam masih tersimpan pada beberapa orang Syekh dari keluarga Al Amudi disamping beberapa peninggalan Al Faqih Al Muqaddam, karena sudah merupakan tradisi Shufiah sebelum meninggal selalu mewasiatkan pakian dan lain-lain nya kepada penerusnya, peninggalan-peninggalan ini masih tersimpan dan terjaga di Qaidun sampai hari ini dibawah penjagaan para penanggaung jawab zawiyah (baca : majelis taklim) dan makam Syekh Saidbin Isa Al Amudi.

Sanad penyambung dan rangkaian penghubung

alfaqih almuqaddamPara ahli ilmu sangat perhatian kepada urgensitas sanad ilmu yang merupakan rantai penghubung dari satu generasi ke generasi yang lain sebagai bukti pengambilan ilmu secara benar. Dari sini para pendahulu kita sangat perhatian pada sanad dan nasab.

Sanad bagi para pendahulu kita adalah media untuk mengetahui asal atau akar pengambilan ilmu seorang Alim, ahli hadist, ahli usul, ataupun seorang sufi. Disamping media penjaga dan bukti yang melindungi suatu ilmu dari pembohongan orang-orang yang usil yang megatas namakan kebohongannya kepada para orang-orang alim, dari sini barang siapa yang tidak memiliki sanad maka ilmunya tidak diakui sekalipun dia termasuk orang yang puas melahap referensi.

Para ulama salaf sangat perhatian dalam hal sanad disegala fan baik itu sanad khusus ataupun sanad umum.

Adapun sanad Khurqah Tasawwuf, sanad ini sampai ke Al Faqih Al Muqaddam melalui dua jalur, sebagaimana disebutkan oleh penulis Al ‘Iqd Al Nabawi, diantara redaksinya:

Pemakaian Khurqah oleh Al Faqih Al Muqaddam, memiliki banyak sanad Dhahir juga sanad yang didapatkan dari petunjuk Allah dan kemampuan melihat kepribadian orang lain, adapun jalur yang dhahir artinya yang melalui usaha, ada dua jalur:

Pertama, jalur yang tidak terkenal, yakni Al Faqih Al Muqaddam mempraktikkan adab ayahnya, Syekh Ali yang mempraktikkan adab ayahnya yang dimakamkan di Marbath, Syekh Muhammad, putra Syekh Ali, sedangkan Al Faqih Muhammad termasuk guru dari Syekh Said bin Ali dan Syekh Ali bin Abdullah dalam ilmu syariah, Shahibul Marbath tersebut diatas mempraktikkan adab ayahnya, Syekh Alawi bin Syekh Alawi yang terkenal dengan Khali’ Qasam, Syekh Alawi bin Muhammad mempraktikkan adab ayahnya, Syekh Muhammad bin Alawi,putra Syekh Abdullah mempraktikkan adab ayahnya Syekh Alawi bin Syekh Ubaidillah bin Syekh Ahmad, Syekh Alawi bin Ubaidillah mempraktikkan adab ayahnya Syekh Ubaidillah bin Syekh Ahmad bin Isa, Syekh Ubaidillah mempraktikkan adab ayahnya Syekh Ahmad bin Isa, sedangkan Ahmad bin Isa adalah orang yang hijrah ke Hadhramaut dari Bashrah, Syekh Ahmad mempraktikkan adab ayahnya Syekh Isa bin Muhammad bin Imam Ali Al Uraidli bin Ja’far As Shadiq, sedangkan Syekh Isa mempraktikkan adab Syekh Muhammad bin Ali, Syekh Muhammad bin Ali mempraktikkan adab ayahnya Syekh Ali Al Uraidli yang mempraktikkan adab ayahnya Al Imam Muhammad Al Baqir yang mempraktikkan adab ayahnya Al Imam Ali Zain Al Abidin, yang mempraktikkan adab ayahnya Al Imam Al Husain yang mempraktikkan adab ayahnya Al Imam Ali Karrama Allahu Wajhahu yang mengambil adab dari Nabi Muhammad SAW yang bersabda (Tuhanku mendidikku dan menyempurnakannya)

Kedua,  jalur yang terkenal, Syekh Al Faqih Al Muqaddam memakai Khurqah yang dibawa oleh delegasi dari Syekh Syuaib Abi Madyan yang memakai khurqah tersebut dari Syekh Abu Ya’zi dari Al Imam Abu AL Husain Ali bin Hirzihim dari Al Imam Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Arabi Al Maghafiri, beliau mengambil khurqah dari Al Imam Abu Hamid Al Ghazali dari gurunya Imam Al Haramain dari ayahnya Abu Muhammad Al Juwaini, dari Syekh Abu Thalib Al Makky  dari Syekh AL Syibly dari Al Ustadz Abu AL Qasim Al Junaid dari pamannya Syekh Sari Al Saqthi, dari Al Kurkhi dari Dawud Al Thaiy dari Syekh Habib Al Ujaimi, dari Hasan Al Bashri dari Ali bin Abi Thalib dan Nabi Muhammad SAW dari malaikat Jibril AS dari Allah SWT.

Al Faqih Al Muqaddam juga memiliki jalur sanad lain yang terkenal dengan sanad Ahl Al Bait, beliau mempraktikkan adab Musa bin Ali Ridla, sedang Ali bin Musa mempraktikkan adab ayahnya Musa Al Kadhim, Musa Al Kadhim dari ayahnya Ja’far As Shadiq, dari ayahnya Muhammad Al Baqir, dari ayahnya Ali Zainal Abidin dari ayahnya Al Imam Husain dari ayahnya Ali Karrama Allahu Wajhahu dari Nabi Muhammad SAW yang bersabda (Tuhanku mendidikku dan menyempurnakannya)

Maksud dari kalimat “sanad yang didapatkan dari petunjuk Allah dan kemapuan melihat kepribadian orang lain” diatas adalah anugerah yang diberikan Allah kepada Al Faqih Al Muqaddam yang berupa mimpi-mimpi benar yakni bakal terjadi dalam kenyataan, juga kemampuan bertemu dengan malaikat dan roh para auliya dan orang-orang shalih yang banyak dianugrahkan Allah kepada orang-orang yang berjuang melawan hawa nafsunya, banyak hadist yang meriwayatkan tentang gambaran gerakan ruh-ruh dan penampakannya bagi orang-orang yang disiapkan oleh Allah untuk melihatnya, sebagaimana Nabi SAW melihat ruh para nabi ketika Isra’ dan Mi’raj,  jika ada yang menentang dengan dalil bahwa isra’ dan mi’raj adalah sesuatu yang khusus bagi Nabi SAW maka hal ini karena mereka hanya melihat dari sisi dhahir saja, terus bagaimana dengan kisah seorang sahabat yang menancapkan tendanya di suatu lahan kemudian mendengarkan orang membaca surat tabarak (Al Mulk), lantas Rasulullah SAW mengatakan itu adalah orang yang dulu sering membacanya di dunia  dan sekarang diberikan padanya di kuburnya, mendengar suara disini termasuk mengetahui sesuatu dari alam ruh, dan Rasulullah SAW ketika itu tidak membohongkan kabar yang dibawa orang tadi dan tidak mepertanyakan perkara pendengran dia apakah itu dari ruh solih ataukan dari setan, karena Rasulullah SAW mengetahui kejujuran ke keamanahan orang tadi.

Maka pembelaan kami terhadap peristiwa yang jarang terjadi ini sebagai penandasan kami bahwa mereka adalah orang-orang yang solih dan memiliki hubungan yang sejati dengan Tuhannya. Seyogyanya setelah kita mengetahui derajat dan kedekatan mereka disisi Allah terutama para keturunan Nabi SAW yang mana Al Qur an dan Al Sunnah jelas-jelas mendoktrin ke sucian mereka, agar kita tidak menjatuhkan mereka sebagaimana yang dilakukan beberapa orang yang benci ketika mereka menilai perubahan yang terjadi pada mereka adalah istidraaj (anugrah) setan dan ruh-ruh jahat serta hasil perdukunan dan sihir yang mana hal-hal demikian ini diharamkan dalam islam.

Orang yang diberikan istidraj oleh setan atau jin ataupun yang menggunakan perdukunan dalam perubahan diri mereka tidak akan menjadi pendidik umat atau bahkan panutan manusia dalam hal pendekatan diri kepada Allah perjuangan melawan hawa nafsu, dan penyucian diri yang disalurkan melalui tahajud, puasa, tilawatil Qur an dan zikir, dan menyerah kan diri sepanjang siang dan malam kepada Allah SWT.

Sedangkan para penyembah setan, ahli nujum dan orang-orang yang mendapatkan kelebihan lewat mantera, Al Quran dan Al Sunnah telah mengklaim kebohongan dan kesesatan mereka, lain halnya dengan para wali yang nota bene mereka adalah hamba-hamba Allah yang saleh, karamah mereka sudah jelas ada dan kasyf mereka (kemampuan melihat kepribadian) jelas terbukti. hal ini pun tidak menjadikan mereka dari lingkup kemanusiaan mereka juga kelemahan dan kebutuhan mereka kepada Allah SWT dalam seluruh waktu mereka, maka tidak bisa kita memukul rata semua perkara dalam satu hukum, dan mendoktrin semua generasi dengan doktrin bahwa semua pengakuan kewalian adalah kebohongan dan tipu daya. Sedang fakta mengharuskan kita untuk menbedakan segala pengakuan dengan cara menghadapkan kenyataan kepada petunjuk-petunjuk dan batasan-batasan yang telah digariskan oleh agama tanpa mengurangi ataupun melebih-lebihkan.

Madrasah Shufiyah di Hadhramaut dan Tolak Ukur Syariah. Sudah merupakan fenomena umum bahwa diantara fitnah akhir zaman yang terjadi sekarang adalah munculnya terror terprogram yang sengaja dilancarkan terhadap madrasah  Shufiyah dan kemulyaan keluarga Nabi SAW,

 hal ini telah meracuni pola pikir generasi muda yang merupakan korban dari lembaga pendidikan modern dengan segala disiplin ilmu dan pendidikannya baik itu agama, globalisasi ataupun atheisme. Dan kita sudah tidak mampu lagi membela kebenaran dan menjelaskannya dengan damai setelah kebatilan membius pikiran maryoritas  umat, disisi lain kita juga tidak bisa membendung terjadinya penyelewengan, penyalah artian, hiperbolisme dari tubuh madrasah Tasawwuf yang sudah di galang sejak lama, kita hanya bisa menyuarakan kebenaran dengan izin Allah dan mengelakan kebatilan dengan bantuan Allah.

Mari kita coba memahami bait-bait syair keluarga Bani Alawi yang tertulis di pintu madrasah mereka.

و إن الذي لا يتبع الشرع مطلقا        على كل حال عبد نفس و شهوات

Orang yang tidak mengikuti syariat sama sekali adalah hamba nafsu syahwat

صريع هوى يبكى علي لأنه            هو الميت ليس الميت ميت الطبيعة

Korban hawa nafsu perlu di tangisi, karena dialah sebenarnya yang disebut dengan orang mati, bukanlah kematian itu kematian jasad.

و ما في طريق القوم بدءا و لا انتها        مخالفة للشرع فاسمع و انصت

Jalan yang dilalui oleh orang-orang tersebut dari ujung sampai ujung yang lain tidak ada yang menyalahi Syariat, dengarkan hal itu baik-baik.

و خل مقالات الذين تخبطوا            و لا تك إلا كتاب و سنة 

Biarkan ucapan orang-orang yang tidak terarah, tetap berpegangteguhlah (kembalilah)  kepada Al Kitab dan Al Sunnah

فثم الهدى و النور و الأمن من ردى        و من بدعة تخشى و زيغ و فتنة

Didalamnya (Al KItab dan Al Sunnah) terdapat cahaya, petunjuk, dan keamanan dari Bid’ah yang ditakutkan, juga dari kesesatan dan fitnah.

Penulis (Al Musyarri’ Al Rawy :163) mengatakan, termasuk ilmu yang besar manfaatnya, yang paling banyak mengandung kebaikan dunia dan akhirat, dan yang paling berandil dalam menghidupkan hati, adalah mengetahui sejarah sejarah para wali Allah SWT, dengan meneladani ucapan dan perilaku mereka akan diperoleh husnudhan, dan cinta kepada mereka yang mana hal ini akan mengantarkan kita ke martabat yang tinggi disisi Allah, sesuai dengan sabda baginda Nabi SAW, seseoarang itu dikumpulkan bersama orang yang dicintainya, para salafu al salih mengatakan, disaat kita mengingat orang-orang saleh rahmat Allah turun, Allah SWT juga memerintah kan kepada hamba-hambanya untuk memohon disetiap sholat mereka agar diberi petunjuk ke jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dari kalangan para nabi, orang-orang yang jujur, para syahid, dan orang-orang saleh, Allah SWT juga memerintah Nabi SAW dalam Al Quran untuk meneladani orang-orang yang beliau cintai, dan memberi tahu beliau faidah keamanahan rasul-rasul-Nya dan faidah mengetahui ihwal kaum terdahulu dalam firman-Nya,

و كلا نقص عليك من أنباء الرسل ما يثبت فيه فؤادك

kami ceritakan kepada kalian kabar para Nabi guna menguatkan hati mu. 

Saiyyid Abu Al Qasim Al Junaid mengatakan: kisah-kisah adalah serdadu-serdadu Allah SWT   yang akan memperkuat hati para murid, beliau berkata juga: membenarkan ilmu kami ini merupakan salah satu derajat kewalian, sebagain Al Arif Billah (suatu derajat diantara derajat-derajat dalam tasawwuf) mengatakan: seseorang tidak akan membenarkan suatu fath (baca : kemampuan memahami ilmu dan hikmah langsung dari Allah) tidak akan didapatkan kecuali bila dia mendapatkan fath, hal ini diambil dari firman Allah,

و من لم يجعل الله له نورا فما له من نور

Barangsiapa yang tidak diberi nur (cahaya) oleh Allah maka dia tidak akan memiliki cahaya

Perbedaan kemulyaan manusia antara satu dengan yang lainnya merupaka suatau fakta yang tidak membutuhkan dalil. Perbedaan itu bila dikatakan karena usaha mereka maka dia akan berbanding lurus dengan usaha mereka mendapatkan ilmu pengetahuan.

Karena umur tidak bisa diarungi kesemuanya, maka haruslah berkompetisi dalam menggunaka nafas untuk mencapai tempat yang kudus, dan bukan merupakan hal yang perlu diperdebatkan bagi orang-orang yang berlogika sehat,  bahwa jalan yang paling selamat membimbing kepada Allah adalah dengan meneladani Al Sunnah, generasi pasca Rasulullah SAW terangkat derajat mereka sebab pergaulan dengan Nabi SAW, lalu generasi yang mendapati mereka dinamakan Tabi’in, setelah itu ketika zaman semakin jauh dari sentuhan efek hidup Nabi SAW, dan perbedaan pendapat semakin kental, generasi yang masih getol memegang sunnah dan mengamalkannya mengeksklusifkan diri, yang lantas terkenal dengan Shufiyah, lingkungan disekelilingnya berbeda pendapat tentang definisi shufiyah dan yang paling tepat adalah definisi yang diberikan oleh Al Imam Abu Hamid Al Ghazali, yaitu, pengosongan hati untuk Allah semata dan memandang selain-Nya tidak berarti, adapun secara disiplin ilmu definisinya adalah, Ilmu tentang asas tolak ukur kelurusan hati dan anggota tubuh, Al Hafidh Al Suyuthi mengatakan, banyak orang mengatakan bahwa orang yang banyak membaca kitab-kitab Tasawwuf  bisa dikategorikan orang sufi padahal tidak seperti itu, karena Tasawwuf adalah ilmu practis bukan ilmu teory semata, practis berarti melaksanakan budipekerti dan sopan santun Nabi Muhammad SAW.

Sebagian ulama Tasawwuf mengatakan: Taswwuf adalah ilmu complikasi anatara Hadist dan Usuludin, barang siapa mempelajari keduanya dan mempraktikkannya dengan diimbangi aqidah (keyakinan) yang benar maka dialah seorang sufi, keluarga dan keturunan Bani Alawi meneladani cara ini, mereka menghabiskan umur mereka untuk  meniti jalan Nabi Muhammad SAW dan mempraktikkannya, dan setiap orang yang menjalankan sunnah Nabi Muhammad maka Allah akan menuntunnya untuk meneladani sunnah-sunnah yang lainnya, Al Junaid mengatakan: kebaikan yang dilakukan setelah kebaikan yang lain merupakan pahala kebaikan yang pertama, dan keburukan yang dilakukan setelah keburukan yang lain merupakan siksaan dari keburukan pertama. Mereka menghamba kepada Allah sebatas  kemampuan manusia dan anugrah kekuatan yang diberikan Allah SWT, memperbanyak ibadah dan melepaskan total syahwat, jika malam datang mereka menegakkan kaki-kaki mereka, dan menjadikan wajah mereka alas, dan mengalir air mata mereka, ketika mereka dewasa yang mereka lakukan adalah melipat tikar tidur mereka, menghindari banyak bergaul dengan orang awam kecuali disaat butuh saja, jika harus berkumpul dengan mereka sebab kebutuhan tertentu mereka sangat waspada jangan sampai melakukan pelanggaran garis-garis syariah Allah, jika mereka sakit lalu tidak ada yang menjenguk mereka, ini dianggap suatau keutamaan bagi mereka, bila tidak berkumpul dengan orang satu hari mereka anggap itu suatu hari yang istimewa , sebagian mereka keluar ke gunung-gunung lembah-lembah untuk beribadah  kepada Allah disana, diantara mereka ada yang melakukan hal ini pada malam hari dan berpagihari di rumah mereka , meski begitu mereka tetap melaksanakan shalat jum’at dan jamaah di awal waktu kecuali bila terdapat uzur syar’I, diantara mereka juga ada yang menghabiskan waktu untuk  mengajar, berfatwa dan kegiatan-kegiatan  lain yang bermanfaat bagi manusia jika mendapati suatu permasalahan mereka meneliti pendapat para ulama tentang hal itu satu demi satu hingga samapai pada jawaban yang pas untuk masalah tersebut, jika ragu maka mereka akan berhenti berfatwa, dan jika mendapati bahwa jawaban yang benar adalah kebalikan dari apa yang telah ia ucapkan maka secepatnya mereka mencari penanya tadi dan menyampaikan jawaban yang semestinya. Mereka sangat perhatian terhadap kitab-kitab Al Imam Al Ghazali khususnya Ihya Ulumuddin, Al Basith, Al Waith, Al Wajiz, dan Al Khulasah, mereka juga sangat perhatian dengan hadist Nabi sampai banyak diantara mereka yang mencapai derajat Al Huffadh ,sampai ucapan penulis, keluarga Bani Alawi memperoleh keutamaan nasab dari tiga segi, Al Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa nasab dianggap mulya dari tiga sisi, pertama sambung kepada Nabi SAW, dalam hal ini tidak ada penyaingnya, kedua sambung ke para ulama, karena mereka adalah pewaris para Nabi, ketiga sambung ke orang-orang yang saleh dan bertakwa.

Mereka merahasiakan ibadah mereka karena takut riya’ (baca : berbuat sesuatu agar mendapat nilai plus dari orang lain) dan jika salah satu diantara mereka memberi nasihat kamudian terbersit pada dirinya rasa riya, langsung pembicaraan itu dialihkanke pembahasan lain yang menjauhkannya dari riya’, jika ketika mebaca Al Qur’an atau hadist merasa ingin menangis langsung dialihkan ke senyum,. Tidak menjatuhkan diri mereka dihapan manusia, jika dikatakan bahwa seseorang dari para pemimpin ingin mendatanginya pada hari pelajarannya, maka pelajaran itu akan ditinggalkan sementara , tertanam dalam diri mereka rasa tidak butuh terhadap hal-hal duniawi dan kekuasaan disisi lain tumbuh subur rasa menerima dengan tanpa hal-hal tersebut, tidak merasa senang bila ada hal-hal duniawi samapai padanya jugatidak merasa sedih itu hilang atau lepas dari tangan nya, bahkan terkadang menjadikan mereka lega.

Mereka tida suka menyimpan makanan demi memenangkan kekosongan tangan mereka dari perkara duniawi dari pada menggenggamnya, sebagian mereka menyimpah bahan makanan atas nama keluarga mereka karena meneladani Rasulullah SAW, atau sebagai bekal bila terjadi kekacauan, mereka semua menempuh jalan yang halal di segala kepentingan mereka, membelanjakan harta demi untuk memeberi pakaian orang-orang yang tidak memilikinya, memberi makan orang yang kelaparan, dan memenuhi hutang.

Mereka melayani para tamu sendiri, makan bersama dengan pembantu dan hamba sahayanya, membawa sendiri barang dagangan mereka ke pasar, bersalaman dengan orang kaya dan miskin, anak-anak dan orang dewasa, berwibawa dan sangat rendah diri, selalu mengucap salam kepada siapa saja yang mereka temui, tidak pernah merasa mempunyai hubungan khusus dengan Allah SWT meskipun amalan mereka sudah susah untuk disaingi  lagi,  bahkan merasa berhak untuk di hukum oleh Allah SWT sebab merasa tidak beradab didepan-Nya SWT, setiapa kali derajat mereka naik maka mereka semakin merasa bagai orang yang paling hina. Batasan-batasan ini banyak diulas dan dibeberkan dalam tulisan-tulisan salafu saleh, ini pula lah yang menjadi pondasi madrasah sufiyah yang dibangun oleh Al Faqih Al Muqaddam, yang dibentuk sedemikian rupa untuk menjadi madrasah yang lurus dan methode yang searah dengan makna yang tersirat dalam hadist Nabi SAW, yang artinya :

Aku meninggalkan bagi kalian dua hal penting, kitab Allah yang mana dia adalah tali yang memanjang dari langit ke bumi, dan keluargaku, dan Dzat Yang Maha Lembut dan Pemberi Khabar mengatakan kepada ku bahwa keduanya tidak akan berpisah sampai aku diberikan telagaku nanti dihari kiamat, maka perhatikan apa yang kalian perbuat bagi keduanya setelahku .

Jikalau Al Imam Al Muhajir, salah seorang Imam besar dikalangan keluarga Nabi SAW, memutuskan untuk eksodus ke Hadhramaut bersama keluarga dan para pengikutnya pada abad ke empat hijriyah untuk menghindari panasnya fitnah di Iraq, maka keputusan Al Faqih Al Muqaddam dalam  memilih  tasawwuf sebagai pedoman hidup adalah keputusan yang sesuai dengan kondisi zaman serta tempat pada waktu itu,  efek keputusan ini akan tetap bereaksi selama dalam kenyataan hidup ini masih ada orang-orang yang bisa memahami makna-maknanya, mengerti tendensinya dan tumbuh dan terdidik dalam suasana budipekerti yang mulia.

Suatu keputusan yang muncul dari satu orang sedangkan dia hidup didalam komunitas yang sarat dengan Ulama, Ahli Hadist, dan ahli Fiqih, kemudian keputusan ini bisa berimbas pada perubahan semua komunitas pada saat itu dari satu pola pemikiran ke pola yang lainnya, ini menandakan bahwa perubahan itu tepat sekali disisi lain keputusan tersebut sangat sesuai dengan kondisi yang ada. Kemudian keputusan ini merupakan keputusan tepat, sebab Al Syekh Ba Marwan, beliau adalah satu-satunya orang yang menentang ide perubahan ini, karena target beliau saat itu adalah  kepribadian  Al Faqih Al Muqaddam  yang unik, karena itu beliau mengatakan “Aku ingin kamu (Al Faqih) menjadi seperti Ibnu Faurak” sedangkan Al Faqih saat itu tidak terpikir dalam benaknya derajat, posisi, dan masa depannya, seandainya tahu maka bukan hal yang susah bagi Al Faqih untuk merealisasikan impian gurunya sekaligus meridhakannya, namun dibenak Al Faqih saat itu sasaran kakeknya Al Imam Muhajir ketika jauh meninggalkan kampung halaman demi mempertahankan keturunan Nabi SAW yang mulia ini.

Fakta mengatakan kondisi pada saat itu, segala pilihan dan perubahan yang dilakukan oleh Ahlu Bait Nabi SAW, berdampak pada perubahan social, hal ini sebab para Ahlu bait merupakan bahtera penyelamat dari segala fitnah, bala’ dan ujian, maka manusia selalu mengikuti mereka.

Madrasah Al Faqih Al Muqaddam  membuktikan bahwa dia adalah madrasah yang paling istimewa diantara madrasah-madrasah islamiyah lainnya, hal ini madrasah ini dipimpin oleh Imam yang paling  utama dari kalangan keluarga keturunan Nabi SAW di zamannya, Allah menganugrahkan kepada nya keluasan Ilmu hingga mencapai derajat ijtihad, keluasan kasih sehingga menarik semua penentang dan pendukungnya ke jalan ibadah dan zuhud, Al Imam Al Haddad mensifati jawara-jawara madrasah ini dengan:

و أصولنا و شيوخنا من سادة            علوية نبوية فاسمع و عي

Mereka adalah moyang dan guru-guru kami yang termasuk keturunan Sayyidian Ali dan Nabi SAW.

الشيخ نور الدين ثم محمد            و يليه عيسى ذو المحل الأرفع

Syekh Nur Al Din, kemudian Muhammad, kamudian Isa yang memiliki derajat tinggi

و أحمد و عبد الله مع علويتهم         بصريهم و جديدهم مهما دعي

Ahmad dan Abdullah, dari keluarga bani Alawi, Basri dan Jadid apapun julukannya 

و سليل علوي على منهاجه            و سليله فمسلم في المركع

Putra Alawi, dan cucu Alawi yang mengikuti jalan ayahnya serta imam yang dijawab salam dalam shalatnya oleh Rasulullah SAW 

رد الرسول عليه مثل سلامه             ((يا شيخ)) فاعجب للفخار الأجمع

Rasulullah SAW menjawab salam beliau dengan kalimat (Wahai Syekh) yang menyebabkan orang sekelilingnya takjub

و نزيل مرباط إمام جامع            أصل لأشياخ الطريق مفرع

Yang berhijrah ke Mirbath yang  juga seorang imam kakek dari Syekh-syekh Thariqah yang tersebar kemana-mana 

و بنيه خص إمامهم أستاذهم            شيخ الشيوخ العارف المتوسع

Putra-putranya kemudian panutan mereka, maha guru yang serba tahu dan berilmu luas 

و تلاه علوي أتى بعليهم            و عفيفهم و محمد المستودع

Kemudian Alawi lalu putranya Ali lalu Afif dan Muhammad AL Mustauda’ 

و وجيه دين الله سقاف العلا            و الفخر و المحضار يسرع إن دعي

Segaf yang mulia yang dikenal sebagai Wajihuddin, Fakhar dan Muhdhar yang bila dipanggil segera datang 

و العيدروس القطب سلطان الملا         و أخيه نور الدين شيخ المهيع

Al Idrus yang merupaka Wali Kutub dan penguasa massa dan saudaranya Nur Al Din Syekh Al Mahya’ 

و محمد القوم صاحب الروغة        و نزيل عديد الفقيه الأورع

Muhammad Al Qaum penduduk desa Raughah, dan putra-putra Al Faqih yang wara’ (hati-hati dalam masalah keduniaan)  

و محمد ذاك الفقيه و صنوه            الشيخ نور الدين أنس المربع

Dan Muhammad putera Al faqih juga saudaranya Syekh Nur Al Din pemeriah balai
 

و محمد ذاك المعلم زاهد             و مجاهد فيهم عظيم الموقع

Muhammad Al Muallim, yang ahli zuhud dan melawan hawa nafsu, yang memiliki derajat tinggi dikalangan mereka 

و العدني البحر الخضم أخي لندى        و كذا الوجيه المتقي الأخشع

Dan Al Adeni si samudera lautan, wahai saudaraku yang dermawan, juga Al Wajih yang sangat khusyu’ dan bertakwa

و سليل علوي بأحمد جحدب            و الشيخ شيخ ذي المحل الأرفع

Keturunan Alawi yang bernama Ahmad Jahdab, dan Syekh Syekh yang berkedudukan tinggi 

و سليله ذاك العفيف و صنوه            الحبر عبد القادر المتضلع

Dan keurunannya yang terkenal dengan nama Afif juga saudaranya yang alim Abdul Qadir yang sangat kuat keilmuannya 

و الشيخ أبي بكر سلالة سالم            ذي الفخر و الجاه الفسيح الأوسع

Dan Syekh Abu Bakar keturunan Salim yang memiliki kebanggaan dan kedudukan yang tinggi. 

Contoh-contoh yang disebutkan dalam bait-bait syair diatas dan bait-bait yang lain karangan Al Imam Al Haddad menyatakan tentang ketinggian kedudukan suatu Madrasah.

Rujukan-rujukan Tasawwuf dan Sikap Madrasah Al Faqih Al Muqaddam Terhadapnya.

Sudah merupakan kewajiban kita, ketika kita menyodorkan tulisan tentang biografi Al Faqih Al Muqaddam, keluarga , para pengikut madrasah, dan penganut methode hidupnya kepada generasi sekarang dengan gaya pikir mereka, untuk mengelak segala macam tuduhan penyelewengan, Bid’ah, kerusakan tujuan dan methode tasawwuf  yang galak dilancarkan oleh para penentang madrasah ini ataupun dari orang-orang yang sengaja ingin memanfaatkan suasana ,demi membela nama baik, dan methode madrasah ini, disamping juga harus menindak kelakuan berlebihan yang ditimbulkan oleh sebagian pengikut tasawwuf juga pemahaman-pemahaman salah yang banyak disuarakan oleh sebagian ulama.

Kebenaran selalu tegak diatas pondasinya, dan akan selalu begitu sampai pada saat segala perkara diserahkan kepada selain ahlinya, saat ini segala sesuatunya akan berubah ukurannya, kebatilan akan menjadi kebenaran dengan dalil begitu juga sebaliknya, jika ini terjadi maka wajib untuk meneliti segala macam hukum dan cara pandang yang timbul.

Tasawwuf dalam posisinya sebagai sebuah displin ilmu, etika hidup, norma, dan pedoman budi pekerti tidak pernah lepas dari ketentuan Al Qur’an dan Al Sunnah, adapun bila ada pihak yang berlebih-lebihan dalam mempraktikkan Tasawwuf atau mengurangi nilai jangkauan maknanya, baik itu dari kalangan sekedar seorang pengaku pengikut Tasawwuf ataupun dari kalangan Syekh-syekh nya hal ini tidak boleh dianalogkan ke hakikat Tasawwuf sebagai sebuah teory hidup. Telah banyak buku yang ditulis mengenai pelik masalah-masalah tasawwuf yang ada di benak ulama-ulama, namun kami dalam kesempatan hanya akan memaparkan tentang suatu madrasah tasawwuf yang dibangun diatas asas moderitas (tengah-tengah) dan tujuan yang jelas.

Moderitas dan tujuan yang jelas adalah pondasi agama islam, dan ini didapati dalam ilmu tasawwuf atau lainnya, sebagaimana Al Imam Al Faqih AL Muqaddam membangun madrasahnya diatas metode yang moderat ini begitu juga para ulama sebelumnya hanya saja mereka membangun madrasah tasawwuf mereka diatas methode yang pas dengan kondisi zaman mereka yang mana hal ini merupakan salah satu bagian dari methode Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Al Imam Junaid mensifati methode Tasawwuf pada masa beliau: pedoman yang kita gunakan tidak keluar dari ketentuan Al Quran dan Al Sunnah, maka jika kamu melihat seseorang perilakunya berubah dan keluar dari dirinya karamah-karamah lihatlah bagaimana sikap dia terhadap perintah Allah dan larangan-Nya, jika dia mempraktikkan peraturan Allah tersebut maka dia adalah wali yang sempurna namun apabila tidak mempraktikkannya maka dia tidak ada nilainya dimata para wali, sebab bagaiamana seseorang yang tidak meyakini  etika syariah akan meyakini rahasia kewalian yang terjaga .

Kaidah modenitas ini dan Tasawwuf dalam arti yang sebenarnya, bertujuan untuk mennggambarkan kandungan dari Al Quran dan Al Sunnah dalam bentuk nilai-nilai yang siap pakai dengan pertimbangan zaman dan tempat , sebagian besar para penentang tasawwuf membidik masalah seremonial-seremonial tasawwuf yang dianggap tak berdasar, juga pengakuan sebagian orang yang tak bertanggung jawab akan terjadinya perubahan kepribadian pada dirinya dan mencapai maqam tertentu, atau dari orang-orang yang menjadikan hal tersebut sebagai sumber rizki atau mempermainkan perasaan orang lain, ini semua merupakan dakwa informative bertendensi yang banyak dilancarkan para musuh methode tasawwuf. Asumsi negative ini merupakan nilai minus bagi pelakunya dan methode shufiah tak boleh dianalogkan  kepadanya. Misal lain bila ada seseorang mengaku menguasai ilmu hadist, aqidah, tafsir, pendidikan dan etika kemudian dia menggunakannya untuk  tujuan pribadinya, apakah hal ini kemudian bisa diakatakan methode islam itu tidak benar? Sebab perilaku si zaid atau amr yang seorang muslim yang tidak benar.

Tasawwuf adalah sebuah ilmu yang telah banyak dianalisa oleh orang-orang moderat dasar hukum dan bentuknya secara syariah, Ibnu Khaldun mengatakan dalam Muqaddimahnya tentang Tasawwuf secara umum, ini adalah suatu disiplin ilmu dalam syariah islam yang terhitung baru, dasarnya adalah berdiam untuk ibadah, memutus hubungan demi menyambung hubungan dengan Allah, menjauhi gemerlap dunia dan perhiasanya, menghindari segala sesuatu yang disukai orang pada umumnya seperti kelezatan, harta dan kedudukan, isolasi diri dari komunitas untuk beribadah,  methode ini banyak diterapkan oleh para sahabat dan orang terdahulu, ketika sifat menerima keduniaan tumbuh subur setelah kurun kedua dan setelahnya dan manusia condong kepada materi oaring-orang yang tulus beribadah mengeksklusifkan diri dengan nama Shufiah atau Mutashawwifah.

Madrasah Hadhramaut mensifati tasawwuf  sesuai dengan karakter yang disifatkan oleh Al Imam Al Idrus dalam kitab Al Kibrit Al Ahmar Wa Al Iksir Al Akbar, shufi yang paham akan Allah, adalah orang yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, menghabiskan waktu dan kondisi untuk ilmu, meghargai mahluk Allah sesuai dengan derajatnya, menghargai kebenaran sesuai dengan posisinya, menutup segala sesuatu yang seharusnya ditutupi dan membuka segala sesuatu yang seharusnya dibuka, menghadirkan segala sesuatu dari  tempatnya dengan logika sehat, sesuai dengan tauhid, pengetahuan dan perhatian penuh, dan ikhlas, mereka adalah penjunjung tinggi nilai syariah, thariqah dan hakikat .

Al Imam Al Haddad dalam bait syair ‘ainiyah (syair yang akhir kalimatnya selalu huruf ‘Ain) membeberkan tentang methode orang terdahulu yang mana itu adalah methode Al Quran dan Al Sunnah yang juga diterapkan oleh Madrasah Al Faqih Al Muqaddam di Hadhramaut,

و القصد ذكر نصيحة و وصية         للنفس و الإخوان إذ كانوا معي

Tujuannya adalah meberikan nasihat dan wasiat kepada diri sendiri dan rekan-rekan ketika mereka bersama kami.

تقوى إله العالمين فإنها            عز و حرز في الدنا و المرجع

Bertaqwa kepada Tuhan smesa Alam, karena hal ini merupakan kemulyaan dan keamanan di dunia dan di hari kembali

فيها غنى الدارين فاستمسك بها        و الزم تنل ما تشتهيه و تدعي

Didalamya terdapat kekayaan dunia khirat, maka pegang teguh dan konsiten lah niscaya engkau akan peroleh apa yang kau inginkan dan kamu pinta.

و الزهد في الدنيا الذي متاعها        دار الوباء فما بها من مرتع

Zuhud dalam keduniaan yang mana gemerlapnya hanyalah wabah, dan didalamnya tidak ada kesuburan

تلهي عن الأخرى و لا تبقى و لا        تصفو بحال فاجتنبها أو دع

(Dunia) Menjadikan lupa dari Akhirat, tidak kekal, dan tidak ada suci hindari atau tinggalkan sama sekali

و عليك بالصبر فلا تعدل به            شيئا و بالشكر الأتم الأوسع

Kamu wajib bersabar jangan pernah berubah, kamu juga harus bersyukur sesempurna mungkin

و الخوف لله العظيم و بالرجا            فكلاهما مثل الدواء الأنفع

Takut kepada Allah dan tidak putus harapan dari-Nya keduanya adalah obat yang paling bermanfaat.

و الصدق و الإخلاص لله احتفظ        بهما فإنهما عماد المشرع

Jujur dan ikhlas demi Allah, jagalah keduanya karena keduanya merupakan pilar syariat 
   
و التوبة الخلصاء أول خطوة            للسالكين إلى الحماء الأمنع

Taubat yang murni merupakan langkah pertama bagi penempuh suaka yang kuat

و بمر ما يقضي الإله و حلوه            كن راضيا و من التوكل فاكرع

Terhadap pahit dan manis takdir ilahi ridha lah, dan selalulah bersikap tawakkal

و لصالح النيات كن متحريا            مستكثرا منها و راقب و اخشع

Jaga dan perbanyaklah selalu niat yang saleh, awasi selalu dirimu, dan bersikaplah khusyu’

واقنع بميسور العاش و لا تطل        أملا و عما لا يحل تورع

Merasa cukuplah dengan rizki yang ada ditangan mu , jangan berangan jauh, dan hindarilah segala yang tidak halal

و احذر من الكبر المشوم فإنه            داء و من عجب و شح مهلع

Hindari kesombongan karenaitu adalah penyakit, hindari pula penyakit ujub (dalam beramal ingin dipandang baik oleh orang lain) dan pelit yang tercela

و من الرياء فإنه شرك خفي            و من التفحش شيمة العبد الدعي

Hidari pula penyakit riya’ (beramal selain karena Allah) karena itu adalah kemusyrikan yang terselubung, hindari juga fawahisy (segala perbuatan asusila) yang mana itu adalah kebiasaan orang yang tidak tahu siapa ayahnya

و النفس رضها باعتزال دائم            و الصمت مع سهر الدجى و تجوع

Kalahkan hawa nafsu dengan mengisolir diri dari komunitas, diam, bangun tengah malam, dan lapar

و هواك جاهده جهاد منازع            و مخالف مثل العدو الأبشع

Lawanlah hawa nafsu mu sebagaimana kau melawan seorang penyerang atau pembangkang yang menyerupai musuh yang biadab

و اعمر بأوراد العبادة عمرك الـ        ـفاني و ساعات الزمان المزمع

Waktu dan umurmu yang semakin hari semakin menipis waranilah dengan banyak wirid dan ibadah

و اتل القرآن كلام ربك دائما            بتدبر و ترتل و تخشع

Bacalah Al Qur’an firman Tuhanmu selalu dengan penuh penghayatan, dan kekhusyuan

و الذكر لازمه و واظبه على            مر الزمان مع الحضور الأجمع

Selalu berdzikirlah sepanjang waktu dengan penghayatan penuh

فهو الغذاء لكل قلب مهتد            و هو دواء لكل قلب موجع

Ini (yang tersebut diatas) adalah makanan bagi hati yang diberi petunjuk, juga penawar hati yang sakit

و عليك بالصلوات فاعرف حقها        و مكانها من دين ربك و اخضع

Jagalah shalat, pelihara haknya, ketahui posisinya dalam agama Allah

و احسن محافظة عليها واحضرن        فيها و لا تغفل و لا تتوزع

Perhatikan pemilaharaan mu terhadap shalat, hayati, jangan lalai, dan jangan pecah konsentrasimu

و الصوم و الزكوات و الحج إلى         بيت الإله فقم بفرضك و اسرع

Laksanakan puasa, zakat, haji ke baitullah secepatnya

و اعلم بأنك عن قريب ميت            فاذكر مماتك و خش سوء المصرع

Ketahuilah sebentar lagi kamu akan meninggal, ingatlah kematianmu dan takutlah buruknya mati.

و اذكر بأنك عن قليل صائر            في بطن قبر من فلاة بلقع

Ingatlah sebentar lagi kamu akan berada di perut bumi  

و من القبور إلى النشور لمحشر        و الوزن و الجسر المهلول الأشنح

Dari kubur kamu akan dibangkitkan di padang mahsyar lalu amalanmu akan ditimbang selanjutnya kamu akan melewati jembatan yang menakutkan

ثم المصير لجنة ونعيمها            أو حر نار و العذاب الأفظع

Kemudian akan digiring ke surga dengan segala nikmatnya, atau ke neraka dengan bara apinya. 

IItulah methode tasawwuf yang di pegang teguh dan diterapkan oleh para guru dan pengikutnya.

Batasan pembeda antara Karamah seorang wali dan istidraj (ilusi) seorang pengaku-aku

Banyak terjadi dizaman akhir ini pengaburan makna tasawwuf  begitu juga buah ibadah dan amal saleh serta perilaku para penggedenya. Diantara bentuk pengaburan ini adalah penyama rataan batasan karamah yang muncul dari para wali Allah dengan sihir, hasil mantera yang biasa ditampilkan oleh penyembah setan, sehingga para generasi yang terpengaruh tidak percaya akan adanya buah dari amal saleh para wali apalagi sampai mangakui munculnya hal tersebut dari mereka.

Demi menutup  kebutuhan zaman akan pencerahan dalam masalah ini dengan menggunakan bahasa zaman ini, maka kami telah mengumpulkan beberapa macam bukti ada dan terjadiya karamah dari para wali sekaligus kami paparkan argument-argumen logis tentang hal itu dalam kitab Syurut Al Ittishaf Fi Man Yuthali’ Kutub Al Aslaf Ka Al Masyra’ Wa Al Ghurar Wa Al Tiryaaq, Wa Al Jauhar Al Syaffaf.

Karamah dan hal-hal yang luar biasa

Karamah adalah buah ketaatan kepada Allah, dan bukan sesuatu yang lazim, kenyataan di Hadhramaut mengatakan karamah bukanlah target ketaatan ataupun syarat kewalian, mereka berpedoman bahwa konsistensi adalah paling agung nya karamah, bila ada seorang hamba diberikan Allah SWT karamah sebab ketaatan dan ibadahnya dan dia terkenal dengn konsistensinya serta ketulusan dan keikhlasannya ketika berinterkasi kepada sesama, berperilaku sehari-hari, dan beribadah hanya demi Allah semata, maka orang akan menerima hal itu dan meyakini bahwa orang tersebut memiliki kebaikan, dan meminta doa darinya tanpa meyakini kemaksuman (baca : terjaga dari segala salah dan dosa) orang tersebut juga karamah tersebut tidak akan terus-menerus tampak darinya.

Dalam masalah karamah yang muncul dari sebagaian hamba Allah yang saleh juga hal-hal luar biasa yang biasa muncul dari mereka,kami berpijak pada dasar-dasar sebagai berikut:

Pertama: karamah adalah reflek yang diciptakan Allah pada sebagaian hamba-Nya yang saleh dalam bentuk hal-hal yang tidak biasa untuk menegakkan kebenaran atau membekuk kebatilan.

Kedua,  tidak setiap wali memiliki karamah, juga tidak semua orang yang tampak pada dirinya hal-hal luar biasa bisa dikatakan wali, dan karamah bukan pula syarat dari syarat-syarat kewalian menurut ahlu sunnah wal jamaah, karena syarat yang paling utama adalah takwa kepada Allah SWT.

Ketiga: sebagian orang tak dapat membedakan antara karamah, sihir, mantera dan lain-lain, memang ketiganya tak dapat dibedakan kecuali dengan melihat perilaku keseharian, dan kesaksian kebagusan dan ketakwaannya dari orang-oarng yang hidup dizamannya.

Keempat: bukan merupakan syarat iman mempercayai karamah si a atau keluarbioasaan si b hanya saja yang menjadi syarat iman adalah kita tidak boleh membohongkan hal-hal tersebut bila terjadi pada orang yang bertakwa kepada Allah secara umum.

Kelima : kita harus tahu bahwa cerita-cerita dan riwayat-riwayat seputar karamah yang banyak didapati dalam kitab-kitab biografi bukan merupakan penuturan wali itu sendiri, hal ini yang meyebabkan terjadinya pembesar-besaran fakta dari realita aslinya, kami banyak meneliti kitab-kitab biografi yang didalamnya dimuat tentang karamah wali tertentu, isinya banyak diperbesarkan dari kenyataanya sebab husnudhan penulis yang berlebih atau kefanatikannya terhadap gurunya yang berimbas pula pada sikap penulis tersebut terhadap para kroni dan saingan gurunya, dari sini timbul penambahan dan pengurangan atau unobyektifitas dalam tulisannya, sebagai contoh apa yang dituturkan oleh penulis kitab Al Jauhar Al Syaffaf di awal kitabnya,
Terkadanng  kami ubah suatu cerita dari bentuk aslinya, kami pahami isinya lalu kami sampaikan lagi dengan bentuk yang lebih pas sesuai dengan tren bahasa saat ini, sehingga kami tidak begitu mempedulikan penambahan  dan pengurangan, atupun maju mundurnya runtutan ceritanya, sebagian kata juga kami ubah dengan yang lain, kami juga tidak menyebutkan  tiga generasi pertama dari sanad riwayat.

Ini sudah merupakan bukti yang cukup bahwa tulisan para narrator biografi banyak mengalami gubahan dari riwayat aslinya

Berikut kami berikan salah satu contoh kasus ini yaitu cerita yang didalamnya tedapat corengan dan perusakan nama sebagaian para wali yang disebabkan oleh para murid mereka yang tidak pintar memahami kata-kata.

Penulis Al Jauhar Al Syaffaf menulis tentang Al Faqih Al Muqaddam pada cerita ke tiga puluh lima :

Diriwayat kan dari para syekh bahwasanya Maha Guru Al Faqih Al Muqaddam suatu hari keluar ke jalanan Tarim, saat itu jalan itu diperbaiki lantas beliau berhenti disitu, tampak seorang badui lewat jalan itu dengan menarik onta yang membawa dedauanan korma, lantas Al Faqih Al Muqaddam menawar daun korma tersebut, namun si badui enggan untuk mejualnya kepada beliau, semua orang yang ada disitu berujar kepada badui jual dedaunan itu kepada syekh tersebut dengan harga yang ia mau, lantas Al Imam Ahmad bin Abdul Rahman Abu Alawi datang kepada badui tersebut seraya berkata, juallah dedaunan itu kepada syekh sesuai harga yang ia mau, karena syekh tersebut begini-begini sembari menyebutkan manaqib syekh tersebut, lalu si badui tersentak sembari mengatakan, Syekh Muhammad bin Ali itu Allah?, ketika syekh mendengar lafadz Allah disebutkan langsung dengan keras mengatakan, iya….saya Allah…lalu pingsan.

Cerita ini juga dinukil dalam kitab Al Tiryaq dan lainnya  akan tetapi semuanya menukil kata-kata Al Faqih “saya Allah” bukan dengan ekspresi mengingkari tapi dengan ekspresi mengaku, ini sangat berlawanan dengan kenyataan karena Al Faqih pingsan sebab benturan keras ketika si badui mengatakan hal tersebut.

Keenam: merupakan kebiasaan klasik untuk sibuk dalam mengabadikan cerita-cerita seputar karamah dalam buku-buku biografi hal ini merupakan efek dari tingkat pemahaman, budaya, dan kecondongan orang dizaman tersebut, sebab pada saat itu hal yang paling membedakan seorang wali dari yang lainnya dikalangan orang awam adalah karamah adapaun  hal-hal lain seperti amal, akhlaq, kebajikan dan lainnya semua orang hampir setara dalam masalah ini, sehingga hal ini tidak menjadi topic utama pembahasan dalam biografi justru hanya merupakan pembahasan lintas lalu.

Sebagai contoh dari sekian banyak buku yang menceritakan biografi Al Faqih Al Muqaddam, hampir semua naratornya tidak menggunakan logika agar tulisan mereka menjadi kisah-kisah yang terasa betul-betul terjadi dan bisa dinalar dan dipaham baik dengan cara menjelaskan kalimat-kalimat yang terasa asing atau dengan mengembalikannnya kepada kuasa Allah SWT, para narrator klasik dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan hasil karya mereka, karena itu merupakan buah pemahaman, keilmuan, dan tingkat peradaban dan budaya mereka.

Diantara generasi sekarang ada juga yang dalam menyikapi fenomena muatan buku-buku biografi ini mereka hanya membiarkannya begitu saja tanpa ada usaha untuk memberikan analisa, argument  ataupun mendiskusikan hal tersbut, mereka bersikukuh kepada kebenaran model tulisan yang telah ditulis semenjak masa itu dan kerusakan sebenarnya ada pada pemahaman orang zaman sekarang, budaya, dan methode pemelajaran mereka.

Berangkat dari kenyataan ini dan untuk keluar dari persilangan pandang antara satu generasi dengan lainnya, kami gunakan pena kami sebagai penjelas dan pemersatu kedua kubu dalam batas kemampuan kami, sekira semua pihak tetap menghormati hamba-hamba Allah yang saleh tersebut tanpa mengusik kepribadian dan keyakinan mereka, sembari kembali menelaah buku-buku peninggalan tersebut, memahaminya dengan bahasa sekarang dengan cara analisa dan mencarikan dalil-dalinya. Bila diantara peninggalan itu ada yang tak terpahami kami biarkan tanpa mengomentari penulis ataupun tokohnya, karena kisah-kisah ini adalah berita  yang bisa dimanfaatkan ketika memberikan pemahaman tertentu, bila tidak maka dikembalikan pada kaidah yang telah tersebut diatas, bila sesuai maka itu termasuk hal luar biasa yang jarang terjadi, bila tidak maka kita biarkan dalam lingkaran tanda tanya. Kebajikan dan amalan-amalan orang-orang saleh tersebut merupakan tolak ukur pembeda antara kekasih Allah ataupun kekasih setan, juga pembeda antara karamah dan sihir, hal ini merupakan suratan hidup, sejak zaman Nabi hal ini telah terjadi, antara mukjizat seorang nabi dan ilusi para pengaku nabi seperti Musailamah, Al Aswad Al Ansi, Sajah dan lain-lain, disaat Al Quran turun dalam bentuk wahyu kepada Rasulullah SAW, Musailamah Al Kadzab menyatakan kebohongan Al Quran dan melantunkan Al Quran lain dan menampakkan hal-hal luar biasa hasil ilusi dan tipu daya, meski begini Musailamah tetap memiliki banyak pengikut setia yang tidak habis meski Musailamah telah mati, Nabi Muhammad SAW juga memiliki para pengikut yang karamah mereka tidak terputus sepeninggal Nabi SAW dan mereka tetap ada dan setia , bahkan Allah memberikan keberkahan pada peninggalan-peninggalan mereka, hal ini cocok dengan firman Allah SWT dalam surat Al Kauthar:

إنا أعطيناك الكوثر() فصل لربك و احر () إن شانأك هو الأبتر
 
Sesungguhnya kami telah berikan kepada kamu nikmat yang banyak, maka salatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah hewan Kurban, sesungguhnya orang yang membencimu dialah orang yang terputus (dari kebaikan).

Batasan celaan dan ungkapan pengabur

Orang-orang tasawwuf dituduh kurang ajar terhadap Allah SWT sebab narasi dan bait-bait syair mereka yang banyak menuturkan ungkapan-ungkapan yang tak beretika, hal ini dibuktikan oleh ungkapan-ungkapan yang dituturkan oleh Ibnu Al Faridl, Ibn Arabi, dan Hallaj, dari sini mereka memukul rata semua yang dilakukan oleh madrasah Tasawwuf adalah rusak, bagaiamanapun dan apapun bentuknya, terutama di era ini dimana  kitab-kitab dan selebaran-selebaran tuduhan itu banyak ditulis dan disebarkan dan dibagikan dari negri ke negri.

Kami katakan dalam penulisan biografi ini kami tidak akan mengomentari dasar yang dibangun diatasnya madrasah Hadhramaut, madrasah Al Faqih Al Muqaddam, namun dalam masalah ini sepertinya harus ada sedikit disinggung tentang hal itu, dan kami akan memaparkan eksistensi mederasi didalam tasawwuf sepanjang sejarah, sebab kemoderatan merupakan jembatan penemu antara dua kutub yaitu yang melebih-lebihkan mengenai madrasah tasawwuf dan yang mengurang-nguranginya, ucapan-ucapan yang tidak etis bukan hanya didapat didalam madrasah tasawwuf tapi lebih dari itu hal semacam ini juga ditemukan dalam ucapan ilmuwan-ilmuwan hadist dan ushul yang tak kalah bahaya dibanding dengan yang ada dalam tasawwuf.

Salafusaleh mengambil tindakan dalam menangani problem ini dengan logika dan hikmah, tidak serta merta mengkafirkan pihak yang bersangkutan, diantara arahan para guru madrasah hadhramaut dalam masalah ini adalah nasihat yang dituturkan Al Imam Al Haddad kepada sebagaian muridnya:

Jangan sampai kau sibukkan pikiranmu dengan apa yang dilakukan oleh Syekh Ibnu Arabi dan yang semisalnya, karena hal itu adalah mukjizat,   sebagian orang mungkin terjebak pada pendakwaan hal-hal yang tidak mereka lakukan kepada mereka, ikutlah methode Al Imam Al Ghazali dan orang-orang semisalnya dengan paham tasawwuf, fiqih, dan keilmiannya karena inilah ilmu syariat, dan makna tersurat dari Al Quran dan Al Sunnah, dimana dengan berpegang teguh kepadanya kamu akan mendapatkan keselamatan dan kemenangan, dan hindari selainnya karena hal itu bisa membingungkan orang lain.

Syekh Abdullah bin Ahmad Ba Saudan mengatakan dalam kitab Al Faydlu Al Asrar : Syekh Ahmad bin Abdul Qadir AL HIfdhi Al ‘Ujaily bertanya kepada Saiyyid Ahmad bin Alawi Jamalu Al Lail tentang kitab Al Fusus karangan ibnu Arabi, lantas dijawab : pendapat saya jangan mendalami ilmu isyarat-isyarat tersebut, dan jangan menghabiskan waktu untuk memahami kalimat-kalimat didalamnya, sebab seorang penuntut ilmu tidak boleh memecah konsentrasinya untuk selain hal yang mendekatkannya ke garis ihsan, kode-kode dan isyarat-isyarat tersebut tidak bisa bermanfaat bagi tiap orang sama sekali, jika dikatakan hal itu terjadi dikalangan umat ini, kita tidak bisa mengatakan dari mana dan bagaimana hal itu terjadi pada lisan mereka, bagaimanapun juga jika orang yang oleh Allah ditakdirkan lisannya mengatakan hal-hal diatas termasuk orang yang berpendirian maka di tidak akan pernah  menghirukannya kapan pun juga, sebab orang-orang yang arif billah (sangat dekat dengan Allah hingga seakan-akan dia mengetahui Allah) sering kali di bayang-bayangi gambaran-gambaran yang menjadikan mereka hidup dalam kehidupan yang sempurna, tapi sering kali juga mereka trgelincir dan terputus dari derajatnya sebab mengikuti gambaran-gambaran tersebut, maka perhatikan betul-betul habiskan waktu untuk melaksanakan wasiat Nabi Muhammad SAW untuk berdzikir, membaca AL Quran, berfikir tentang mahluk Allah, ibadah, khusyu’, belajar mengajar, dan melaksanakan kesunahan sesuai dengan yang diajarkan oleh pemiliknya SAW dan para penerusnya.

Ada juga ulama dari madrasah Hadhramaut yang dituduh menyerukan ungkapan-ungkapan yang tidak etis tersebut, maka harus dilihat  siapakah pengucapnya, bila muncul dari orang yang campur dan tidak karuan maka ucapan itu hasil ketidak karuannya dan bila orang muncul dari orang yang istiqamah consisten dalam ibadah, bila memang benar dia yang mengatakan maka kita interpretasikan kemakna lain yang bisa disandarkan ke kalimat tersebut.

Sayyid Ahmad Al Syatiri mengatakan dalam kitab Al Adwar mengenai berkembangnya tasawwuf di bumi Hadhramaut, dari sinilah berkembang hadhramaut setelah itu-setelah Al Faqih AL Muqaddam-tapi dengan wajah yang sopan, murni, jauh dari anti moderasi, dan jauh dari lepas dari syariat, meski begitu banyak juga figur-figur Hadhramaut yang ditengarai mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang keluar dari syariat, hal ini tidak diungkapkan dengan sengaja sebab kita tahu ketebalan iman dan keteladanan mereka, jika memang jelek tafsiran pernyataan-pernyataan tersebut maka patut dimaklumi sebab mereka mengungkapkannya dalam kondisi tidak sadar, hal ini lebih selamat ketimbang kita menuduh mereka dengan yang tidak semestinya.

Realita munculnya ungkapan-ungkapan yang tidak etis bukanlah merupakan methode ataupun tuntunan yang termaktub dalam kamus para salafu saleh, hanya saja bila hal itu benar terjadi dari mereka itu semata-mata lepas dari control pribadinya, dan bukan merupakan karakter aslinya, dan kita tidak boleh dari sini mengambil kesimpulan tentang aqidah atau keyakinan dan keilmuanya serta cara hidup pilihannya, sebab sebagian para wali terkadang muncul dari mereka haal (perubahan kepribadian) sebab kemarahan, atau tantangan, atau kompetisi dengan musuh mereka atau lainnya. Atau sebab kegembiraan yang berlebih sebab rasa rindu kepada Allah yang merupakan efek taat dan ibadah yang sempurna sehingga dia terlontar dari lisannya kata atau kalimat yang secara dhohir meragukan dan bila didalami maknanya akan menyebabkan keanehan, bila kondisi ini terjadi seharusnya para murud tidak boleh menyebarkan kata-kata tersebut dikalangan teman-teman atau musuhnya karena menganggap kalimat atau kata tersebut istimewa dan memiliki makna khusus, seharusnya hal semacam ini jangan disebarkan dan tidak usah ditulis sebab hal ini menurut ahli thariqat tidak dianggap suatu keutamaan sama sekali bahkan menurut orang-orang yang berpendirian bukan merupakan tujuan ataupun target sama sekali.

bersambung…


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: