Posted by: Syukron Tanzilah | February 19, 2013

Sambutan untuk si Mungil, Oleh Ustadz Segaf bin Hasan Baharun

Ustadz Segaf bin Hasan BaharunKehadiran seorang bayi di tengah-te­ngah keluarga kita merupakan suatu ka­runia yang besar dari Allah, sehingga wajib bagi kedua orangtuanya untuk memeli­haranya, baik zhahir maupun bathin.

Untuk mencapai hal tersebut, agama telah menganjurkan sejumlah perkara agar si mungil terjaga dari setan, juga demi terjaganya kesehatannya. Adapun perkara-perkara tersebut adalah sebagai berikut:

1.   Merasa bahagia dengan kelahiran­nya, baik ia anak lelaki maupun pe­rempuan

Seorang anak adalah karunia dari Allah, bahkan termasuk kenikmatan terbesar yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya. Oleh karenanya sudah se­patutnya kita merasa berbahagia dan ber­syukur dengan kelahiran anak tersebut.

Adapun anak yang dilahirkan itu, lelaki atau perempuan, sama saja di sisi Allah. Pilihan-Nya adalah yang terbaik, karena kita tidak tahu mana yang lebih baik di antara keduanya. Dalam kenyata­annya, ada orangtua, misalnya, sampai tidak meng­harapkan anak laki-laki karena khawatir akan durhaka (misalnya seperti dalam legenda kedurhakaan Malin Kundang – Red.). Sebaliknya, betapa banyak orang­tua yang sangat bersyukur, misal­nya, karena anak pe­rempuannya mem­bawa banyak kebaik­an. Bahkan, diri­wayatkan oleh para mufassirin, dalam tafsir ayat yang men­ceritakan anak yang dibunuh Khidhir AS, setelah itu ia ber­kata, “Allah akan menggantikan anak yang kubunuh ini dengan anak yang baik.” Ternyata, anak yang dilahirkan ke­mudian adalah se­orang anak perem­puan yang di ke­mudian hari melahirkan 70 nabi dari keturunannya.

Sebagian orang merasa tidak se­nang dengan kelahiran anak perempu­an, dan itu merupakan adat Jahiliyah, se­bagaimana firman Allah SWT:

Dan apabila seorang dari mereka di­beri kabar dengan (kelahiran) anak pe­rempuan, hitamlah (merah padamlah) muka­nya, dan dia sangat marah. Dia me­nyembunyikan dari orang banyak, di­sebabkan buruknya berita yang disam­pai­kan kepadanya. Apakah dia akan me­meliharanya dengan menanggung ke­hinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahui­lah, alangkah buruknya apa yang me­reka tetapkan itu – QS An-Nahl (16): 58-59.

2.   Mengucapkan selamat atas kelahir­an seorang anak

Memberi ucapan selamat merupa­kan salah satu hal yang menyenangkan hati orang lain, karenanya agama men­sunnahkan untuk mengucapkan selamat kepada orangtua anak yang baru dilahir­kan, sebagaimana Allah memberi ucap­an selamat kepada Nabi Zakariya AS dan Nabi Ibrahim AS, “Hai Zakariya, se­sungguhnya Kami memberi kabar gem­bira kepadamu akan (beroleh) anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.”

Sedangkan sebaik-baik ucapan sela­mat kepada orangtua yang berbahagia atas kelahiran anaknya adalah yang di­riwayatkan Imam Hasan Al-Basri:

Semoga Allah memberkatimu pada anak tersebut, semoga engkau mensyu­kuri Dzat Yang memberikan anak ter­sebut, dan semoga Allah membesarkan anak tersebut dengan kebaikan dan men­jadikannya berbakti kepadamu.

3. Mengumandangkan adzan dan iqamah

Di antara hal yang disunnahkan ada­lah mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kirinya, se­bagaimana hal itu dilakukan Rasulullah SAW kepada Al-Hasan dan Al-Husain Radhiyallahu ‘Anhuma.

4.   Melakukan tahnik dengan kurma atau yang lainnya

Di antara yang disunnahkan untuk di­lakukan kepada bayi yang baru dilahir­kan adalah tahnik dengan meminta ke­pada orang alim atau orang shalih, me­ngunyah sampai halus buah kurma atau yang lainnya lalu kunyahan itu dimasuk­kan ke mulut si bayi, demi mengharap­kan berkahnya orang alim atau orang shalih tersebut, sebagaimana dilakukan Rasullullah SAW kepada sahabat Abdullah bin Zubair RA.

5.   Melaksanakan aqiqah

Aqiqah adalah menyembelih kam­bing, yaitu dua ekor kambing jika bayinya laki-laki dan seekor kambing jika bayinya perempuan, sebagai tanda syukur kita kepada Allah atas kelahiran anak ter­sebut dan juga berdasarkan hadits Nabi  SAW:

Dari Sulaeman bin Amir Adh-Dhabbi RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasul­ullah SAW bersabda, ‘Bersama kelahiran seorang anak adalah aqiqah, maka tum­pahkanlah un­tuknya darah dan bersihkan kotoran­nya’.” (HR Al-Bukhari).

Dan lebih baik dilakukan aqiqah se­telah tujuh hari dari kelahirannya atau 21 hari atau 40 hari, dan jika belum sem­pat, kapan saja, walaupun anak itu su­dah besar atau sudah meninggal.

Dan bagi yang tidak mampu me­nyembelih kambing, tidak mengapa ikut pendapat Ibnu Abbas RA, yakni: dalam aqiqah yang penting menumpahkan da­rah walaupun seekor angsa atau ayam, dan tidak mengapa jika aqiqah itu di­lakukan bersamaan dengan qurban (me­nyembelih kambing dengan niat qurban sekaligus aqiqah).

6.   Memilih nama yang baik bagi bayi

Sunnah ketika bayi tersebut lahir agar kita segera memberi nama, dengan nama-nama yang baik dan Islami, se­bagaimana Rasullullah SAW bersabda:

Kamu sekalian nanti di hari Kiamat akan dipanggil dengan nama kalian dan nama ayah kalian, maka baguskanlah nama-nama kalian (HR Abu Dawud).

7.   Mengkhitan anak

Menyunat anak, baik laki-laki mau­pun perempuan, hukumnya wajib, dalam madzhab Imam Syafi’i RA, dengan dalil hadits Nabi SAW:

Jika bertemu dua hal yang disunat, wajib mandi (HR At-Tirmidzi).

Imam Syafi’i mengatakan, istinbath (memetik hukum) dari kata-kata Rasul­ullah SAW “dua hal yang dikhitan”, ber­arti perempuan pun juga wajib dikhitan. Adapun yang wajib dikhitan dari laki-laki adalah kulit yang menutup penis (ke­pala zakar), sedang dari perempuan me­motong sedikit dari ujung klitorisnya.

8.   Membaca surah Al-Ikhlas dan Al-Qadar

Diriwayatkan dari para ulama, jika dibaca surah Al-Ikhlas ditelinga kanan dan Al-Qadar di telinga kiri bayi, si anak, dengan izin Allah, tak akan pernah me­laku­kan zina sepanjang hidupnya.

9.   Menggundul kepalanya

Di antara hal yang disunnahkan ter­hadap bayi yang baru dilahirkan adalah mencukur rambutnya sampai botak atau de­ngan mencukur sebagiannya kemudi­an bersedekah senilai emas seberat ram­but yang dipotong. Jadi, jika berat ram­butnya satu gram, sedekah yang di­keluarkan misalnya sebanyak uang se­harga emas satu gram, dan begitu se­terusnya, sebagaimana diriwayatkan da­lam hadits:

Rasullullah SAW memerintahkan Fathimah RA, seraya berkata, “Timbang­lah rambut Al-Husain, dan bersedekah­lah emas seberat rambut itu dan beri­kan­lah kaki kambing aqiqah kepada orang yang membantu melahirkan.” (HR Al-Hakim).

___

oleh: Ustadz Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I.
Pengasuh Pondok Puteri Pesantren Darul Lughah wad Da’wah, Bangil, Jawa Timur


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: