Posted by: Syukron Tanzilah | March 5, 2013

Profil: Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Aththos (Kebon Nanas – Jakarta Timur)

Habib Hud, namanya memang singkat tapi langkahnya cukup panjang. Di banyak tempat, dalam dan luar kota, sosok habib bersahaja ini kerap telihat tengah memimpin jalannya ritus-ritus keagamaan.

Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Aththos

Seperti saat Ramadlan, yang sebentar lagi akan tiba, di setiap kesempatan acara khatam Al Quran dalam shalat tarawih, ia selalu diminta menjadi imam, di depan barisan makmum yang jumlahnya mencapai ribuan orang. Pada semua aktifitas kemasyarakatan dan keagamaan lainnya, dari mulai khutbah nikah hingga urusan menalqinkan mayyit, sosok habib hud menjadi figur yang sangat dinantikan kehadirannya. Bukan hanya dijakarta, tapi dihampir disetiap kota. Bahkan di sejumlah tempat diluar negeri. Meski selalu berpenampilan sederhana dimanapun yaitu bersarung, berbaju putih tanpa jubah dan tanpa ada imamah yang terlilit di kopiah putih yang melekat di kepalanya, memimpin jalannya pembacaan tahlil atau talqin seakan telah menjadi ‘maqam’ khusus yang telah dipercayakan dipundaknya.

Apa yang dijalaninya itu memang seakan menjadi kelanjutan dari kebiasaan yang dulu dipercayakan kepada ayahnya, Habib Bagir. Dulu, Habib Bagir pun selalu diminta kesediaannya untuk memimpin pembacaan tahlil diberbagai majelis. Begitu pun kakeknya, Habib Abdullah bin Salim, yang bahkan secara khusus memiliki susunan doa wahbah (hadiah untuk mayyit).

Isyarat tentang itu juga pernah disampaikan oleh salah seorang gurunya di kota Makkah, Habib Yahya bin Ahmad Alaydrus. Saat ayah Habib Yahya, yakni Habib Ahmad meninggal dunia, ia memerintahkan Habib Hud membacakan talqin untuk ayah Habib Yahya itu saat dimakamkan di pekuburan Ma’la, Makkah.

Selepas acara penguburan, Habib Ahmad mengatakan, “Nanti kamu di Indonesia jadi orang yang biasa menalqinkan mayyit dan menikahkan pengantin”. Selain dalam hal pembacaan tahlil, talqin, khutbah nikah dan imam shalat Tarawih, ia juga memasyarakatkan pembacaan kitab Maulid Al-Azab sebagai salah satu bacaan kisah Maulid, di samping sejumlah kitab maulid lainnya. Salah satu kiatnya untuk tetap dipopulerkannya, ia bahkan sempat mengeluarkan album kaset Maulid Al-Azab.

Panggilan Dakwah

Semasa kecil habib kelahiran Kebon Nanas, Jakarta Timur, 20 Maret 1959, ini belajar agama kepada kakeknya, Habib Abdullah bin Salim Al Attas. Sang kakek yang kelahiran Hadhramaut, memang masih terhitung salah satu ulama besar di zaman Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang.

Di masa remaja ia kemudian disekolahkan oleh ayahnya, Habib Bagir, ke sekolah katolik. “Ayah ingin saya belajar ilmu pengetahuan umum, tapi kakek menginginkan saya belajar ilmu agama. Maka saya pun belajar di dua sekolah . Sekolah katolik, SD Strada, di polonia, dan madrasah Ruhul Ulum, di Gg. Pedati, Otista masih dekat rumah saya” tuturnya.

Profil: Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Aththos (Kebon Nanas - Jakarta Timur)Guru yang mengajarinya di masa itu antara lain Habib Muhsin bin Jindan, K.H. Damanhuri, K.H. Abdullah Ma’in, K.H. Thoyyib ‘Izzi, dan Ustadz Hadi Jawas. Selepas menempuh pendidikan dasar, Habib Hud melanjutkan ke SMP Antonius, sekolah menengah pertama teladan di Jakarta. Siswa yang masuk sekolah tersebut adalah yang mendapat ranking besar disekolah dasar. Habib Bagir, ayahnya, memang seorang ulama yang berpikiran modern. Sang ayah berharap, kelak Habib Hud bias menjadi seorang insinyur. Untuk mewujudkan cita-cita itu, Habib Hud kemudian disekolahkan ke STM Pelita jurusan listrik di kenari, Jakarta Pusat. Selepas menamatkan sekolah menengah, ia sempat kuliah di Institut Sains Teknologi Nasional (ISTN) di Cikini selama dua tahun.

Namun, panggilan dakwah dan kecintaan terhadap ilmu agama tampaknya sudah tak terbendung lagi. Habib Hud kemudian memutuskan berhenti kuliah dan mencari beasiswa untuk bisa berangkat ke luar negeri. Dengan beasiswa pemerintah Arab Saudi, ia bisa berangkat ke Makkah, melanjutkan studi di Fakultas Sastra Universitas Ummul Qura. “Tapi saya tidak betah, karena sepertinya mereka memaksakan paham wahabi. Karena itu , sejak 1980 saya memutuskan menjadi santri bebas,” tuturnya.

Selama dua tahun pertama, Habib Hud mengaji kepada beberapa ulama, seperti Sayyid Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Sayyid Ismail Al-Yamani, dan Habib Hasan bin Ahmad Fad’aq. Sekalipun hanya dua tahun, Habib Hud sangat beruntung, sebab ia bisa menghadiri khataman kitab-kitab langka pada majelis-majelis yang digelar ulama-ulama besar di zamannya. Ia bisa hadir pada acara-acara khataman kitab Shahih Al-Bukhari dan kitab Shahih Muslim serta ummahatus sittah (kitab pokok hadist yang berjumlah enam) lainnya, juga beberapa kitab hadist lainnya, seperti Musnad Syafii, Musnad ibn Hanbal, Al Muwaththa’ karya Imam Malik, An-Naawadirul Ushul karya Imam Hakim At-Turmuzdi, Al-Ma’ajim Ats-Tsalatsah karya Abul Qasim At-Thabarani.

Selain itu ia pindah ke madinah dan mengaji kepada Habib Zein bin Smith dan Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri, saat ulama Tarim ini sedang menetap di Madinah, serta beberapa ulama lainnya, juga selama sekitar dua tahun. Kemudian beliau pindah lagi ke Jeddah untuk bekerja. Sembari bekerja ia mengaji setiap ba’da shalat shubuh ke beberapa ulama Jeddah, seperti Habib Ahmad Masyhur Al-Haddad, Habib Alwi Cherid, dan Habib Yahya bin Ahmad Alaydrus. Ia belajar kepada Habib Yahya bin Ahmad Alaydrus selama tujuh tahun. “Beliaulah yang mendidik saya hingga seperti sekarang ini,” katanya.

Saat tinggal di Jeddah itulah ia menyunting salah satu putri Habib Umar Al-Attas, dan dari perkawinan itu ia mempuinyai empat putra, tiga laki-laki dan satu perempuan. Saat itu Habib Hud sudah betah tinggal di Jeddah dan tak berniat pulang ke Indonesia. Namun nasib menakdirkan lain, ayahanda tercinta wafat pada 1 Januari 1994. Ia diminta pulang dan melanjutkan jejak dakwah sang ayah yang bernaung dibawah Yayasan As-Salafy, yakni lembaga pendidikan, panti asuhan, dan majelis ta’lim. Pada bulan dan tahun itu juga ia pulang ke Indonesia dan langsung mengajar di berbagai majelis ta’lim hingga sekarang. Hari-hari Habib Hud kini tak pernah sepi dari dakwah dan pengajian, baik di Jakarta maupun di sekitar Jabotabek, bahkan juga dibeberapa daerah di luar kota bila ada acara-acara syiar keagamaan tertentu.

Sumber Majalah Alkisah No.15 Agustus 2009


Responses

  1. Ulama adalah Pewaris Nabi
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
    sallam bersabda:
    ﺍﻟْﻌُﻠُﻤَﺎﺀُ ﻭَﺭَﺛَﺔُ ﺍْﻷَﻧْﺒِﻴَﺎﺀِ
    “Ulama adalah pewaris para
    nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu
    Ad-Darda radhiallahu ‘anhu),


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: