Posted by: Syukron Tanzilah | March 23, 2013

HAKEKAT AHLISUNNAH WAL JAMA’AH (Oleh Buya Yahya)

Ahlissunnah Wal Jama’ah adalah Manhaj beraqidah yang benar dengan dua ciri. Pertama: mereka sangat mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW. Kedua: mereka juga sangat mencintai Sahabat Nabi Muhammad SAW.

Hakekat AHLISUNNAH WAL JAMA'AH (Oleh Buya Yahya)Maka tidak cukup orang mengaku beragama Islam akan tetapi dengan mudah mereka mencaci para Sahabat Nabi Muhammad SAW. Dan yang keluar dari Ahlissunnah Wal Jama’ah model ini diwakili oleh kelompok Syi’ah (Syi’ah Imamiyah Itsnata ’Asyariyah) dengan ciri khas paling menonjol dari mereka adalah mengagungkan Ahlibait Nabi Muhammad SAW akan tetapi merendahkan para Sahabat Nabi Muhammad SAW.

Begitu juga tidak cukup orang mengaku Islam akan tetapi dia merendahkan Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW. Dan yang keluar dari Ahlissunnah Wal Jama’ah model ini diwakili oleh mereka yang tidak peduli dengan urusan Ahlibait Nabi Muhammad SAW, merendahkan Sayyidina Ali Bin Abi Tholib ra. biarpun di sisi lain mereka mengakui para Sahabat Nabi Muhammad SAW.

Ringkasnya Ahlissunnah Wal Jama’ah adalah mereka yang memuliakan Ahlul Bait dan sekaligus mengagungkan para Sahabat Nabi Muhammad SAW.
Ada di antara orang-orang yang mengaku mengagungkan dan memuliakan para Sahabat Nabi Muhammad SAW dan Ahlibait Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi mereka punya penafsiran-penafsiran tentang aqidah yang jauh dari kitab Alloh dan sunnah Rasululloh SAW.

Di saat seperti itu muncullah seorang yang dinobatkan sebagai Imam besar yang telah berusaha untuk membersihkan Aqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah yang benar dari unsur luar dan menjerumuskan. Dan muncullah cetusan-cetusan Ilmu Aqidah yang benar yang dari masa ke masa menjadi pegangan Umat Islam sedunia yaitu Aqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah Asy’ariyyah.
Asy`ariyyah adalah sebuah pergerakan pemikiran pemurnian Aqidah yang dinisbatkan kepada Imam Abul Hasan Al-Asy`ari. Beliau lahir di Bashrah tahun 260 Hijriyah bertepatan dengan tahun 837 Masehi. Beliau wafat di Bashrah pada tahun 324 H / 975-6 M.

Imam Al-Asy`ari pernah belajar kepada ayah tiri beliau yang bernama Abu Ali Al-Jubba`i, seorang tokoh dan guru dari kalangan Mu`tazilah. Sehingga Al-Asy`ari mula-mula menjadi penganut Mu`tazilah, sampai tahun 300 H. Namun setelah beliau mendalami Aqidah Mu`tazilah hingga berusia 40 tahun, terjadilah debat panjang antara beliau dengan gurunya, Al-Jubba`i dalam berbagai masalah. Debat itu membuat beliau tidak puas dengan konsep Mu`tazilah dan beliaupun keluar dari paham itu dan kembali kepada pemahanan Ahlissunnah Wal Jama’ah.

Imam Al-Asy`ari telah berhasil mengembalikan pemahaman sesat kepada Aqidah yang benar dengan kembali kepada apa yang pernah dibangun oleh para Salaf (Ulama sebelumnya) dengan senantiasa memadukan antara dalil nash (naql) dan logika (`aql). Dengan itu beliau berhasil melumpuhkan para pendukung Mu`tazilah yang selama ini menebar fitnah di tengah–tengah Ummat Ahlissunnah. Bisa dikatakan sejak berkembangnya aliran Asy`ariyah inilah Mu`tazilah berhasil diruntuhkan.
Yang digarap oleh Imam Al’Asyari bukan saja kaum Mu’tazilah. Pada masa Ulama Salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mulai menyebar bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat faham baru. Selain Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) ada Imam Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Alloh meridlai keduanya– yang beliau berdua datang dengan menjelaskan Aqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah yang diyakini para Sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al-Quran dan Hadits) dan dalil-dalil aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) kaum Mu’tazilah, Musyabbihah, Khawarij tersebut di atas dan Ahli Bid’ah lainnya. Sehingga Ahlissunnah dinisbatkan kepada keduanya. akhirnya Ahlissunnah Wal Jama’ah akhirnya dikenal dengan nama al-Asy’ariyyun (para pengikut imam Abu al-Hasan al-Asy’ari) dan al-Maturidiyyun (para pengikut imam Abu Manshur al-Maturidi).

Hal ini tidak menafikan bahwa mereka adalah satu golongan yaitu al-Jama’ah. Karena sebenarnya jalan yang ditempuh oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu yaitu kembali kepada Salaf dalam Aqidah. Beliau berdua tidak medatangkan sesuatu yang baru akan tetapi hanya menghadirkan ilmu pendahulunya yang benar di saat terjadi maraknya fitnah.
Adapun perbedaan yang terjadi di antara keduanya hanya pada sebagian masalah-masalah furu’ (cabang) Aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanya saling menghujat atau saling menyesatkan, serta tidak menjadikan keduanya lepas dari ikatan golongan yang selamat (al-Firqah al-Najiyah). Perbedaan antara al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini adalah seperti halnya perselisihan yang terjadi antara para Sahabat nabi, perihal apakah Rasululloh melihat Alloh pada saat Mi’raj?.

Sebagian Sahabat, seperti Sayyidah ‘Aisyah ra dan Ibn Mas’ud mengatakan bahwa Rasululloh SAW tidak melihat Tuhannya pada waktu Mi’raj. Sedangkan Abdullah Ibn ‘Abbas mengatakan bahwa Rasululloh SAW melihat Alloh dengan hatinya. Alloh memberi kemampuan melihat kepada hati Nabi Muhammad sehingga dapat melihat Alloh. Namun demikian al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini tetap sepaham dan sehaluan dalam dasar-dasar Aqidah.

Al-Hafizh Murtadla az-Zabidi (W. 1205 H) mengatakan:“Jika dikatakan Ahlissunnah Wal Jama’ah, maka yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (al-Ithaf, juz 2 hlm 6). Jadi Aqidah yang benar dan diyakini oleh para Ulama Salaf yang Shalih adalah Aqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Karena sebenarnya keduanya hanyalah meringkas dan menjelaskan Aqidah yang diyakini oleh para Nabi dan Rasul serta para Sahabat. Aqidah Ahlissunnah adalah Aqidah yang diyakini oleh ratusan juta Umat Islam, mereka adalah para pengikut Madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, serta orang-orang yang utama dari Madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah).

Karena yang tersebar di Indonesia adalah Aqidah Asya’riyyah maka dalam tulisan ini kami lebih sering menyebut Asy’ariyyah dari pada al-Maturidiyyah.

Ulama Asya’iroh dari masa ke masa

Ulama Asya’iroh (pengikut Abul Hasan al-Asya’ari) dari masa ke masa selalu mempunyai peran dalam membela Aqidah yang benar Aqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah dan juga disiplin ilmu yang lainnya seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits dan Fiqih.

Dan terbukti dalam sejarah perkembangan Ulama Asya’iroh-lah yang memenuhi penjuru dunia. Merekalah Ahlissunnah Wal Jama’ah yang sesungguhnya.

Imam an-Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Qurthubi, Imam al-Baqilani, Imam al-Fakhr ar-Razi, Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Zakariya al-Anshari dll. Yang mereka semua adalah panutan kita dalam berbagai disiplin ilmu Islam. an-Nawawi dalam fiqih dan haditsnya dengan Kitab Fiqih yang sangat mashur Minhajut Tolibin dan Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab juga kitab haditsnya Riyadhush Sholihin yang tidak sah seorang alim kecuali harus pernah membacanya. Imam Ibnu Hajar al-Asqolani pakar ilmu hadits yang digelari Amirul Mukminin dalam ilmu hadits yang sangat masyhur dengan Fathulbari-nya buku panduan bagi semua yang ingin memahami kitab Shohih Bukhori. Imam ar-Rozi gurunya para Ahli Tafsir (Syaihul Mufassirin) tidak ada Ahli Tafsir yang datang setelah beliau kecuali harus menimba Ilmu Tafsir dari karangan-karangan beliau.

Ahli Fitnah Dan Ahli Bid’ah

Akhir-akhir ini muncul di masyarakat kita sekelompok orang yang mengaku beraqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah bahkan mereka mengaku Salafi akan tetapi mereka adalah Ahlissunnah Wal Jama’ah palsu dan Salafi palsu.

Ciri kelompok tersebut adalah memusuhi Ulama Asya’iroh dengan melontarkan bermacam tuduhan yang muncul karena kedengkian dan kebodohan mereka akan Ahlissunnah Wal Jama’ah Asy’ariyyah.

Kadang mereka juga mengakui Abul Hasan al-Asy’ari akan tetapi membuat cerita bualan bahwa Imam Abul Hasan al-Asy’ari dalam beraqidah mengalaimi 3 fase. Yang pertama beliau mengikuti pemikiran Mu’tazilah, selanjutnya kedua beliau keluar dan mengikuti Abdullah bin Said bin Kilab, dan yang ke tiga pindah kepada Manhaj yang benar –manhaj Ahlissunnah Wal Jama’ah.

Akan tetapi bualan mereka itu ditolak oleh kenyataan yang bisa di baca dari murid-murid dan pengikut setia Imam Imam Abul Hasan Al-Asy’ari bahwa beliau setelah keluar dari Mu’tazilah masuk Aqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah yang sampai hari ini masyhur dengan Asya’ariah yang melahirkan pakar-pakar aqidah Ahlissunnah Asy’ariyyah sampai hari ini.

Ciri lain Ahli Fitnah tersebut adalah membenci Ahli Tasawwuf dengan membabi buta. Bahkan mereka dengan mudah mencaci dan mebid’ahkan kaum muslimin Asya’iroh karena beberapa amalan yang sudah mengakar dari masa ke masa dan dengan hujjah yang jelas dan kuat. Semua ini akan kami ulas pada pembahasan lanjutan dari artikel ini atas izin Alloh.

Kesimpulanya bahwa Aqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah yang sesungguhnya adalah Aqidah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah. Wallohu A’lam Bishshowab

Oleh: Buya Yahya
Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Cirebon


Responses

  1. Reblogged this on Nur Muhammad Malikul Adil and commented:
    Inilah Definisi Ahlus Sunnah Wal Jamaah.😀

  2. Ada satu pertanyaan kpd”ADMIN” n kpd “SIAPAPUN” yg mampir k blog ini.. Begini ** Bnyak cnth dlm msyarakat yg sama sekali bertolak belakang dgn apa2 yg di sunnahkan dlm segi penghakiman…. Baiklh ini 1 contoh saja…. “ASWAJA berpendapat bhw tahlilan itu “SUNNAH” ya kan?? Oke. Anggap itu sunnah n bkn bid’ah ,,, kita tdk usah debat tentang tahlilan… Dan hukum tahlilan sunnat ya kan? Ok sunnat ___–BAGAIMANA jika ada orang ASWAJA yg dengan sgala kkurangannya lalu dia tidak bisa melakukan tahlilan?? Nah apa sikap kalian?? ———————-….—– Apa yg terjadi kpd orang tersbut??—…—…— tp tdk usah djawab pertanyaan ini krn fakta telah menjawab pertanyaan ini dgn sngt jelas! Yg kalian bilang hukum tahlilan itu sunnat tp pd prakteknya seakan WAJIB ‘ala WAJIB kenapa.. ?? Karna seakan2 ada undang2 yg tdk tertulis yg mungkin melebihi kebenaran alqur’an dan hadist yg dpegang oleh masyarakat aswaja.. Yg berbunyi: ” barang siapa tdk melakukan tahlilan maka “azab” kami (pengikut aswaja) akan menantimu “…………ini faktanya… ***** Si A (dia turun temurun jg aswaja) tp karna dgn sgala kekurangan yg ada padanya maka ketika Meninggal ayahnya dia tdk bs mlaksanakan hukum sunnat yaitu tahlilan untuk arwah ayahnya… Pdahal sblumnya dia slalu mlaksanakn tahlilan bg kluarga yg mninggal,, disinilah fakta membuktikan bahwa ada yg salah pada pemahamn msyarakt saat ini. Mengapa ada yg salah ??
    1– hukum tahlilan hnya “SUNNAT” tp sekan2 tahlilan melebihi dr fardu’ain buktinya Si A skeluarga dihujat, dihina, dicibir, dicaci, dikucilkan, bahkan dikafirkan..( FAKTA nasib Si A skeluarga ) smentara mereka yg jelas2 mninggalkan hukum2 wajib sperti sholat dan puasa, mereka santai,adem ayem. Dan seakan tdk terjadi pelanggaran hukum pdahal itu “HUKUMnya WAJIB”. “ANEH yg PERTAMA”
    2– Si A skeluarga sdh bnyak terbelit hutang jd dia tdk mau lg berhutang untuk mlaksanakn tahlilan walau harus menerima resikonya… Nah apakah melaksanakan sunnah harus berhutang agar bisa melaksanakannya smentara haji yg wajib saja dharamkan berhutang karna di anggap tidak mampu….. “ANEH yg KEDUA”
    3– Mengapa ASWAJA tdk mau mengakui bahwasanya sudah menjadi rahasia umum kalau penganut/pengikut ta’liq buta aswaja klo dtanya antara ikhlas atau ikut2an maka jawabanya adalh “sdh tradisi turun temurun”. “ANEH yg KETIGA”
    4– Hukum Tahlilan yg sbenarnya adalah “MAKRUH” dari bberapa Mazhab yg ada dan terutama Mazhab SYAFI’I yg menjadi panutan aswaja…….. Dan sudah dketahui bahwasanya sbaik2 MAKRUH adalah dtinggalkan…… “ANEH yg KEEMPAT”. cukup 4 KEANEHAN ini dulu yg sy angkat tentang tahlilan jk penasaran mk akan ada bberapa KEANEHAN KEANEHAN yg akan anda dapatkan sputar FAKTA AKIBAT TAHLILAN yg terjadi ddlam masarakat ASWAJA….. Monggo komennya yg lain……

    • assalamualaikum…
      mohon maaf sebelumnya
      silahkan anda mengaji lagi sbelum meninggalkan komentar..
      terima kasih

      • Jawab dong komentarnya…ntar golongan yang menentang tahlilan berdasarkan dalil yang mereka sangat yakini kebenarannya juga bisa berkata “anda harus ngaji lagi”.

    • Assalamu’alaikum
      Kpd akhmad
      Assalamu qoblal kalam
      Prlu d ktahui kpd shabat bahwa hkum tahli itu tdk wajib… prnyataan anda salah bsar… d daerah mna yg mwajibkan hkum tahlil? Kmi kalangan Asy’ariyah biasa mmberi sumbangan kpda org yg trtimpa musibah (mninggal dunia) dan prlu d ktahui bhwa dlm tahlil itu tdk prlu biaya yg bsar… mskipun dg sdikit air minum… yg pnting itu sedekah, fatihah, doa yg d harapkan bsa mmbantu ahli qubur dan doa2 kita d kabulkan dan smpai kpda ahli kubur…
      Mari yg blum tahlih, brtahlil…
      Mskipun hanya dg air mnum saja…
      Ktena saya mrasakan btul manfaat tahlil…
      Ktika kponakan saya mninggal, sya sdih… ttpi dg adanya tahlil alhamdulilah sdih sya trkurangi… krena bnyak sodara muslim hadir dan mndo.akannya…

  3. Buya yg mulia… Saya masih bingung dg jamaah tablegh.. Banyak sekali amalan2 sunnah yg dilakukan oleh mreka sama seperti kebanyakan amalan2 yg dilakukan oleh ahlisunnah waljamaah.
    Apakah mreka termasuk kedalam ahlisunah wal jamaah juga?

  4. jadi bingung lagi,,😀

  5. mana hakekatnya?
    ini bukan ilmu hakekat….
    ini hanya sebuah argumen…


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: