Posted by: Syukron Tanzilah | September 23, 2013

ADUHAI MAJELIS MAULID NABI YANG MULIA

Dahulu, peringatan Maulid Nabi Muhammad saw diselenggarakan untuk membangkitkan semangat umat yang sedang berada dalam suasana peperangan. Dengan memperdengarkan riwayat hidup Nabi Muhammad saw saat peringatan maulid itu, semangat umat kembali bergelora. Namun di alam modern ini, masihkah Maulid Nabi perlu diperingati? Berikut wawancara Ismail Yahya dari Majalah alKisah, seputar urgensi peringatan Maulid Nabi di zaman sekarang, khususnya ditinjau dari aspek sosial-kemasyarakatan, bersama da’i muda yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Fakhriyah Cileduk, Tangerang, Habib Jindan bin Naufal bin Jindan.

Habib Jindan bin Naufal bin Jindan.Pada bulan Rabi’ul awwal, umat Islam ramai memperingati Maulid. Seberapa efektif peringatan Maulid berdampak dalam perubahan umat kepada kondisi lebih baik?

Dampaknya jelas banyak sekali, karena peringatan Maulid bukan cuma sebuah syiar acara. Berapa banyak orang yang tadinya meninggalkan sholat, setelah hadir pada acara Maulid ia jadi ikut sholat di tempat acara peringatan Maulid, kemudian ia merasakan kenikmatan sholat secara berjama’ah dengan yang lainnya, hingga ia melanjutkan kebiasaan itu.

Saya pernah mengajak seseorang untuk menghadiri acara Maulid ditempat Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf Tebet yang diselenggarakan setelah shubuh. Kami tiba disana dari sebelum waktu shubuh masuk. Akhirnya, disana dia ikut sholat Tahajjud. Dia terharu dan mengatakan kepada saya, “Bib, ini pertama kali dalam hidup saya, saya menunaikan  sholat Tahajjud.” Ada juga kesadaran yang timbul dikalangan pengguna narkoba setelah hadir di dalam acara Maulid.

Masih sangat banyak kisah seperti itu, yang menceritakan perubahan dalam diri seseorang setelah ia menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.

Ada yang mengatakan bahwa perayaan perayaan seperti itu tak lebih dari sekedar acara yang membuang buang dana, sementara dana yang terbuang itu tidak sebanding dengan dampak yang dihasilkan.

Rizqi yang Allah berikan itu, kalau tidak dipergunakan untuk majelis majelis yang bermanfaat seperti ini, akhirnya larinya ke tempat lain yang belum tentu jelas manfaatnya. Alangkah baiknya kalau rizqi itu disalurkan untuk peringatan Maulid, yang didalamnya disebut sebut riwayat hidup Rasulullah saw, di situ kita berkesempatan memberi makan orang banyak.

Peringatan Maulid biasanya dihadiri semua lapisan umat, dari yang aghniya (orang orang kaya) sampai yang fuqara’ (orang orang fakir). Walhasil, rizqi kita jadi dinikmati oleh siapapun.

Saat peringatan Maulid, toko toko jadi ikut laku barang dagangannya. Begitu juga transportasi, tak ketinggalan meraup penghasilan yang lebih dari biasanya. Belum lagi wisatawan yang datang dari luar kota, bahkan dari luar negeri, yang menghadiri Maulid di beberapa tempat tertentu di Indonesia.

Pemerintah juga beroleh keuntungan dari momentum peringatan Maulid, hingga ada beberapa pemda di Indonesia yang menjadikan event Maulid nabi dan haul ulama sebagai program resmi wisata ruhani didaerahnya.

Sementara itu dana penyelenggaraan Maulid biasanya adalah dana patungan, titipan jama’ah. Artinya, disitu ada unsur ta’awun (saling menolong). Allah berfirman: “Wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa, wa la ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan.” (Saling menolonglah kalian dalam hal kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kalian saling menolong dalam dosa dan permusuhan).

Di Majelis Maulid, orang juga membaca sholawat. Pahala membaca sholawat begitu besar. Sedang dalam peringatan Maulid mereka membacanya secara berjama’ah, apa tidak semakin besar ganjarannya? Belum lagi nilai syiarnya.

Sebelumnya banyak yang tidak ikut berkumpul, disitu jadi berkumpul bersama. Tempat tempat penyelenggaraan Maulid akhirnya menjadi ajang untuk bersilaturahim. Bukankah silaturahim sendiri sangat dianjurkan dalam Islam?

Tapi, kalau biaya urunan banyak orang itu disalurkan untuk hal hal yang bersifat sosial dan pendidikan, apa tidak lebih baik?

Peringatan Maulid itu juga aktivitas sosial. Bukankah memberi makan orang itu juga tindakan sosial? Sebelum peringatan Maulid, juga ada aktivitas gotong royong untuk membersihkan lingkungan.

Setelah itu, beberapa hari sebelum peringatan Maulid, sebagian  habaib yang menjadi tuan rumah, misalnya, ada yang sengaja memasak  satu kuali nasi kebuli lengkap dengan lauk daging kambingnya, khusus untuk dibagikan kepada para tetangga terdekatnya terlebih dahulu. Bukankah ini sebuah kebersamaan yang sangat indah? Bukankah hubungan baik dalam bertetangga dan kebiasaan untuk saling berbagi itu sarat dengan nilai nilai sosial yang amat patut untuk dibudayakan?

Lihat saja, sewaktu acara Maulid, tidak sedikit yang sekaligus menyelenggarakan khitanan massal atau pengobatan gratis. Ini juga kan bakti sosial. Ini kepedulian umat terhadap lingkungannya.

Disamping itu, tentunya dengan Majelis Maulid, yang hadir mendapat ilmu dan siraman nasihat saat mendengarkan keteladanan Rasulullah saw yang disampaikan oleh para penceramah.

Nah, ceramah, nasihat, dan tausiyah tausiyah dalam Maulid itu kan pendidikan.

Sedangkan berdzikir, itu adalah refreshing hati orang beriman. Disebutkan dalam AlQuran, “Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub” (Ketahuilah, berdzikir kepada Allah dapat menenangkan hati). Bukankah majelis Maulid dapat menjadi sarana yang membawa hadirin senantiasa mengingat Allah dan Rasul Nya?

Adakah perbedaan peringatan Maulid tempo dulu dan yang sekarang?

Mengenai kaifiat dan caranya, banyak yang masih berpegang pada cara cara dulu. Dengan masih berpegang pada cara cara orang dulu, diharapkan pengaruhnya akan membekas kuat, seperti halnya majelis Maulid orang orang terdahulu. Menggunakan cara cara baru bukannya tidak bermanfaat, tapi cara lama itu sisi keruhaniannya lebih terasa.

Sementara itu, yang beda adalah orang orangnya. Ada maqalah, “Almajalis bil jalis, wal makan bil makin”, Maknanya kurang lebih, suatu majelis atau suatu tempat itu secara khas ditandai dengan orang orang yang duduk didalamnya atau yang menempati tempat tersebut. Dulu, orang orang yang hadir kebanyakan adalah rijalul hadhrah atau para ahlul hudhur, yaitu mereka yang hatinya hadir bersama Allah dan Rasulullah saw. Maka, hadirnya mereka dalam suatu majelis, sekalipun mereka tidak berceramah, kuat membekas dalam hati orang orang yang hadir bersamanya.

Kita lihat saja, Habib Ahmad Masyhur bin Thoha al-Haddad, yang sewaktu hidupnya sering mendatangi negeri Afrika. Ia masuk ke pedalaman. Disana ia menyelenggarakan acara pembacaatn Maulid Nabi saw. Acaranya biasa saja, seperti halnya acara disini, yaitu diisi dengan pembacaan riwayat hidup Rasulullah saw dalam kitab kitab Maulid. Orang orang pun berdatangan.

Sekalipun tidak memahami apa yang sedang dibacakan, mereka asyik mendengarkan. Bahkan sudah ratusan ribu diantara mereka kini memeluk agama Islam.

Begitulah, bila sesuatu sudah membekas dihati, bahasa lisan sering kali sudah tidak diperlukan lagi.

Selain perbedaan orang orangnya, adakah penyimpangan yang mulai ada dalam peringatan Maulid sekarang ini?

Ya, katakanlah seperti adanya ikhtilath, bercampur baurnya laki laki dan perempuan. Kalau orang dulu itu rapi, mereka membuat acara pada waktu yang berbeda. Atau kalau bersamaan waktunya, lelaki dan perempuan terpisah secara jelas.

Selain itu, juga ada fenomena orang yang berlomba lomba menuai berkah, maka mereka merasa harus duduk paling depan. Walaupun harus mendorong dorong orang, bahkan harus melangkahi orang orang tua, nggak peduli. Orang jadi terzhalimi, jelas ini haram.

Jadi kalau anda ingin duduk didepan, datang duluan. Atau kalau anda memang harus didepan karena suatu tugas atau kepentingan nggak apa apa. Orang yang muda harus tahu menempatkan diri. Ada yang tua, persilahkan mereka untuk duduk didepan.

Selain itu, para penceramah juga harus konsisten dengan tema yang dibicarakan. Katakanlah sewaktu mengurai kalam Habib Ali, ya itu saja yang dibicarakan. Jangan membicarakan hal hal lain, apalagi yang tidak ada hubungannya dengan peringatan Maulid Nabi saw.

Sejarah mencatat bahwa momentum Maulid Nabi Muhammad saw mulai dipopulerkan dengan peringatan secara besar besaran, yaitu pada zaman Salahuddin Al-Ayyubi. Tujuannya untuk membangkitkan semangat bertempur kaum muslimin terhadap musuh musuh Islam. Pertanyaan terakhir, apa urgensi peringatan Maulid di zaman sekarang ini, dan apakah Maulid dapat menjawab tantangan zaman?

Sebenarnya, urgensinya tidak bergeser. Rasulullah saw, sewaktu pulang dari sebuah peperangan, mengatakan kepada para sahabatnya, “Kita baru saja pulang dari sebuah jihad yang kecil menuju jihad yang besar.” Padahal, keadaan setelah pulang dari peperangan itu kan sudah aman. Lalu jihad besar apa yang akan dihadapi para sahabat di Madinah? Yang dimaksud Rasulullah saw saat itu adalah jihadunnafs. Berjuang melawan hawa nafsu adalah peperangan terbesar bagi setiap individu muslim.

Sekarang ini, umat islam tengah mengalami krisis tarbiyah. Semua problematik umat di berbagai tempat, termasuk juga di Indonesia, karena ketiadaan tarbiyah yang memadai. Nah, Maulid Nabi mengambil peran itu, yaitu sebagai salah satu corong tarbiyah bagi umat Islam.

Jadi, diantara urgensi peringatan Maulid Nabi adalah untuk membangkitkan umat Islam agar tidak kendur semangatnya saat berperang melawan hawa nafsu dalam kehidupan mereka sehari hari. Dari zaman ke zaman, peringatan Maulid Nabi  senantiasa menjadi ajang acara yang memompakan semangat dalam diri para pecinta Rasulullah saw, agar mereka terus berusaha meneladani sifat sifat beliau.

Wallahu a’lam.


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: