Posted by: Syukron Tanzilah | October 2, 2013

Sebuah Kisah di Musim bunga yang Pertama

T’lah terbit purnama di atas kita
Rembulan yang lain pun sembunyi karenanya
Tak pernah kujumpai walau sekali
Laksana indahmu, wahai kebahagiaan

(Maulid Al-Barzanji)

 

Sebuah Kisah di Musim bunga yang PertamaSemesta bersenandung gembira, menyambut kedatangan kelahiran nabi tercinta, pada Senin, bulan Rabi’ul Awwal. Tanggal 12 menjelang fajar, 1436 tahun lalu, cahaya illahi menerangi setiap jengkal semesta raya, laksana bintang gemintang yang berkerlip indah di kepekatan malam.

Laksana purnama menenggelamkan gelap dalam ranum cahaya. Laksana mentari yang mengusir malam ke peraduannya. Menyambut kelahiran bayi agung, yang akan membawa peradaban baru yang kilau kemilau.

Muhammad adalah manusia pertama yang diciptakan secara maknawi, tapi menjadi nabi terakhir yang diutus ke alam duniawi. Ucapannya adalah wahyu, langkahnya menjadi tarekat, perilakunya cermin keteladanan. Muhammad, sang Kekasih Allah, belaian tangannya menentramkan gundah anak anak yatim, kemurahan hatinya menyalakan obor kehidupan janda janda miskin, dan mengajarkan kemuliaan dalam kebersahajaan.

Keagungan jiwa sang Nabi saw diakui kawan maupun lawan. Keberaniannya menggetarkan singa padang pasir, kelembutannya laksana belaian kasih seorang ibu. Beliau begitu dicintai penghuni langit dan bumi, hingga potongan rambut dan air ludahnya yang harum pun tak pernah sampai menyentuh bumi, karena diperebutkan sahabat sahabatnya. Begitulah Abu Sufyan menceritakan perihal Muhammad menjelang Fath Makkah, pembebasan Makkah.

Tubuhnya termasyhur memancarkan keharuman alami. Jika tangannya menyentuh kepala seorang anak, orang akan segera tahu bahwa ia baru saja disentuh Rasulullah. Semesta raya memanjatkan doa, mengucap salam dan memohonkan kasih Allah baginya. Bahkan Sang Pencipta sendiri ikut mengucapkan salam kepadanya. “Sesungguhnya Allah dan para malaikat Nya bersholawat untuk Nabi (Muhammad). Wahai orang orang yang beriman, bersholawatlah kamu sekalian untuk Nabi, dan berikan salam penghormatan untuknya.” (QS. Al-Ahzab:56)

Kehadiran Muhammad di bumi adalah anugerah yang membuat butiran butiran pasir dan debu gurun menjadi laksana mutiara. Jejak langkahnya menyejukkan padang tandus, menjadi laksana taman surga yang membangkitkan rindu untuk selalu mengunjungi. Pengetahuan yang diajarkannya terus menerus mengalirkan hikmah dan kearifan, laksana zamzam yang tak pernah kering sepanjang zaman.

Pemimpin manakah yang dalam keadaan sakit menjelang wafat berkata, “Wahai manusia, barang siapa punggungnya pernah kucambuk, ini punggungku, balaslah! Barang siapa kehormatannya pernah kucela, inilah kehormatanku, balaslah! Dan barang siapa hartanya pernah kuambil, inilah hartaku, ambillah! Jangan takut akan permusuhan (akibat penuntutan balas ini), karena itu bukan waktuku.”

Hari itu, 63 tahun setelah kelahirannya, semua sahabat tertunduk haru mendengar pemimpin besar yang mereka cintai membuka diri untuk menerima tuntutan balas dari pengikutnya. Sebuah sikap yang menunjukkan pencapaian spiritual dan emosional tertinggi seorang manusia.

Kini,  setelah 14 abad beliau lahir, beliau tetap dikenang sebagai nabi yang agung, pemimpin yang adil, panglima yang gagah berani, penguasa yang penuh kasih, pedagang yang jujur, suami yang santun, dan ayah yang bijak. Beliau memang manusia, tapi bukan seperti manusia yang lain. Beliau laksana mutiara di antara bebatuan semesta.

Rabi’ul Awwal, yang artinya musim bunga yang pertama, dikenal sebagai bulan Nabi. Karena pada bulan inilah beliau lahir, tepatnya hari senin. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw saat ditanya oleh seorang sahabat mengenai kebiasaan beliau berpuasa di hari Senin, “Hari itu adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat sebagai rasul atau pertama kali aku menerima wahyu.” (HR. Muslim)

 

SHOLLU ‘ALAN NABI

 

 

****

Sumber: Majalah alKisah


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: