Posted by: Syukron Tanzilah | October 18, 2013

Dengan iringan hadhrah, Sya’ir-syair Maulid pun menggelorakan cinta kepada Nabi dengan begitu indah

Hadroh Majelis RasulullahHadhrah, atau rebana (terbangan, dalam bahasa Jawa), tak bisa lepas dari sejarah dakwah Islam Wali Songo. Di serambi Masjid Agung Demak, Jawa Tengah, setiap tahunnya senantiasa diadakan perayaan Maulid Nabi Saw yang diramaikan dengan pertunjukan hadhrah. Begitu pun di berbagai tempat lainnya, perayaan Maulid dan hari hari besar islam lainnya, bahkan kenduri sederhana sekalipun, sering diramaikan dengan pentas hadhrah.

Apakah hadhrah itu? Dari segi kata, hadhrah diambil dari kalimat bahasa Arab hadhara-yahdhuru-hadhran atau hadhratan, yang berarti “kehadiran”. Dari segi tasawuf, hadhrah adalah sebuah metode untuk membuka jalan masuk ke hati, karena orang yang melakukan hadhrah dengan benar akan terangkat kesadarannya atas kehadiran Allah dan Rasul-Nya.

Seiring waktu , hadhrah mengalami perubahan makna. Ia menjadi makna bagi sekumpulan alat musik tetabuhan yang dimainkan untuk mengiringi syair puji pujian bagi Allah dan Rasul-Nya agar semakin menghadirkan dan menumbuhkan cinta kepada keduanya. Hadhrah adalah satu set alat musik. Satu set hadhrah biasanya terdiri dari bas dan lebih dari empat kencer. Dalam tradisi lokal muslim Indonesia, seni ini sudah mengakulturasi, dengan dipadukannya dengan alat alat seni lokal, seperti gendang dan dumbuk.

Entah mengapa bisa menjadi makna yang baku demikian, namun dapat dimengerti karena tidak jauh maknanya dengan upaya untuk menghadirkan rasa kecintaan kepada Allah dan Rasul – Nya.

Syair syair yang diiringi alat alat musik hadhrah ini kemudian tidak saja berisi pujian, tapi juga ajakan mengikuti jalan kebaikan yang diajarkan dalam islam, seperti berjihad, shalat lima waktu, berhaji, aqidah, sholawat, dan sebagainya, yang disebut qashidah atau ansyudah.

Menurut keterangan ulama besar Pelembang, Al-Habib Umar bin Thaha bin Shahab, adalah al-Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir ketika hijrah ke Yaman, bertemu sekelompok sufi yang sedang asyik memainkan alat hadhrah dan mengucapkan syair pujian kepada Allah dan Rasul Nya. Dari pertemuan itu mereka pun bersahabat dan setiap malam memainkan hadhrah untuk memeriahkan majelis. Tradisi inilah yang dikemudian hari dibawa oleh kalangan habaib ke kawasan Nusantara, sehingga menjadi sebuah trendsetter seni musik islam yang mewarnai kehidupan kaum muslimin beberapa dasawarsa belakangan ini.

Syair Maulid dan Qashidah

Pujian terhadap Rasulullah, baik dalam prosa maupun syair, telah ada sejak zaman Rasulullah saw lewat bait bait gubahan tiga penyair terkenal: Hasan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah, dan Ka’ab bin Malik. Saking sukanya, Nabi Muhammad Saw bahkan pernah menghadiahkan selendang (burdah) untuk Ka’ab.

Lebih jauh, sanjungan yang sering disampaikan oleh  para sahabat ini bersifat metaforisa dan gaya simbolis sehingga mengilhami syair dan prosa dalam kitab kitab Maulid, semisal Al-Barzanji, Ad-Diba’i, atau Qoshidah Burdah.

Adalah Imam Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid As-Shanhaji Al-Bushiri, seorang alim yang ahli hadits, penulis, sekaligus sastrawan asal Mesir, yang menulis 162 syair Burdah, semasa hidupnya ia pernah berguru kepada Imam as-Syadzili (pendiri Tarekat Sadziliyah) dan Abdullah Abbas al-Mursi.

Sajak sajak Burdah yang 162 syair itu terdiri dari 10 bait tentang cinta, 16 tentang hawa nafsu, 30 tentang pujian terhadap Rasulullah saw, 19 tentang kelahirannya, 10 tentang pujian terhadap al-Quran, 3 tentang Isra Mi’raj, 22 tentang Jihad, 14 tentang istighfar, selebihnya (38 bait)tentang tawassul dan munajat.

Sementara dalam kitab Al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far bin Husain bin Abdul Karim Al-Barzanji, syairnya mengungkapkan adanya rasa kerinduan akan hadirnya pemimpin, seperti Nabi Saw, yang tegas, jujur dan bijaksana.

Karya sastra yang begitu termasyhur ini pernah disyarah ulama kenamaan Nusantara di Hijaz, Syaikh Abu Abdil Mu’thi Muhammad Nawawi al-Bantani, berjudul Madarijush Shu’ud ila Iktisa al-Burud. Penulisan kitab Barzanji juga tidak terlepas dari sejarah panjang konflik militer dan politik antara umat Islam dan Kristen Barat dalam Perang Salib. Selama Perang salib berlangsung, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi mengobarkan semangat perjuangan umat Islam dengan meneladani perjuangan Nabi Muhammad saw dalam peringatan Maulid Nabi.

Jadi, adalah salah besar anggapan sekelompok orang yang membid’ahkan dan mengkritik Maulid bahwa Maulid membuat orang malas dan fatalis terhadap islam. Syair syair Maulid pun mengajarkan dan mengajak pendengarnya untuk berjihad, memiliki motivasi juang.

 

Di Nusantara

Di berbagai daerah Nusantara, utamanya Indonesia, kesenian hadhrah memiliki karekter berbeda beda, sehingga memiliki nama yang berbeda juga. Di Bawean, Gresik, umpamanya, dikenal kesenian Hadhrah Bawean. Kesenian ini identik dengan daerah ini, namun sempat “diklaim” oleh Malaysia. Berdasarkan laporan yang diterima Dewan Kesenian Gresik dari warga Bawean di Malaysia, kesenian tersebut mulai menjadi incaran untuk diklaim setelah sebelumnya wayang kulit, batik, dan Reog Ponorogo.

Di Malaysia sendiri, seni hadhrah disebut Kompangan. Ia merupakan seni menabuh terbang, sambil menyajikan lagu lagu Islami, yang biasanya ditampilkan dalam setiap acara perkawinan atau hajatan.

Di kalimantan, seni hadhrah dikenal dengan nama seni Betar atau seni terbang al-Banjari. Iramanya yang menghentak, rancak, dan variatif, membuat kesenian ini banyak digandrungi oleh pemuda pemudi hingga sekarang. Seni jenis ini diajarkan di pondok pondok pesantren salafiyah. Sampai saat ini seni hadhrah yang berasal dari kota Banjar ini boleh dibilang paling konsisten dan paling banyak diminati oleh kalangan santri, bahkan beberapa kampus mulai ikut menyemarakkan jenis musik ini.

Hadhrah al-Banjari masih merupakan jenis musik rebana yang mempunyai keterkaitan sejarah pada masa penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga. Semula rebana yang digunakan berasal langsung dari Timur Tengah, melalui orang orang Indonesia yang bermukim disana atau juga para pelajar yang menuntut ilmu disana yang membawa pulang. Kemudian alat musik ini semakin meluas perkembangannya, sehingga mulai dapat diproduksi di dalam negeri dengan bahan baku lokal.

Hadhrah Nusantara berakulturasi dengan musik musik tradisional, baik seni lagu yang dibawakan maupun alat musik yang dimainkan. Hal demikian terjadi pula pada musik gambus, marawis, dan qashidahan, yang juga termasuk jenis kesenian yang menggunakan rebana.

Keunikan hadhrah adalah hanya terdapat satu jenis alat musik, yaitu rebana, yang dimainkan dengan cara dipukul secara langsung oleh tangan pemain tanpa menggunakan alat pemukul. Musik ini dapat dimainkan oleh siapapun untuk mengiringi nasyid dan sholawat, juga lagu lagu lain yang bertemakan pesan pesan agama dan pesan pesan sosial budaya. Umumnya menggunakan bahasa Arab, tapi belakangan banyak yang menggunakan bahasa lokal untuk kesenian ini.

Menyehatkan Badan

Beberapa waktu lalu, untuk menyemarakkan rangkaian kegiatan pra-Muktamar ke-32 NU, diadakan Festival Hadhrah Nusantara, yang digelar di Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Kranji, Pacitan, Lamongan, pada hari Sabtu, 20 Februari 2010.

Ketua Wadah Silaturrahmi Alumni Tarbiyatut Tholabah, Shorih Al-Kholid, mengatakan, festival ini digelar untuk melestarikan hadhrah sebagai kesenian Islami yang telah menjadi bagian penting bagi perkembangan Islam dan pondok pesantren di Indonesia. Dalam pandangannya, seni hadhrah berkembang pesat di pondok pesantren. Namun, jika tak ada upaya pelestarian, bukan tidak mungkin bisa punah, seiring dengan perkembangan zaman.

Di Jakarta, Sekretaris Panitia Muktamar NU yang juga wakil sekjen PBNU, Taufiq R. Abdullah, mengatakan, kegiatan festival ini merupakan inisiatif sekaligus kreasi dari pihak pesantren. Pihak pesantren meminta PBNU, dalam hal ini panitia muktamar, melestarikan tradisi dan budaya pesantren yang merupakan karya para ulama. Salah satunya berupa hadhrah.

Ketua Pengurus Besar Nahdhatul Ulama, H.Ahmad Bagdja, menjelaskan, dengan memainkan langsung dengan tangan yang dipukulkan secara teratur dan berirama tanpa alat pemukul membuat peredaran darah lancar, termasuk yang ke otak. “Hasil riset menunjukkan lancarnya peredaran darah membuat badan menjadi sehat dan tidak mudah terkena stroke”, katanya.

Ahmad Bagdja juga menjelaskan, seni hadhrah juga memberi energi spiritual positif dan memberi ketenangan bathin, lewat lirik syairnya yang mengandung dakwah dan syarat pesan moral menyejukkan jiwa. Terapi musik memberi relaksasi, apalagi kalau bernuansa islami. Ini juga dapat mencegah stres dan darah tinggi.

Hadhrah kini tidak saja berkembang di pesantren, tetapi juga di kampus kampus. Sebagai media dakwah, seni hadhrah perlu dilestarikan.

***

Sumber Majalah alKisah Agustus 2010


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: