Posted by: Syukron Tanzilah | January 9, 2014

“Yâ Wajîhan ‘Indallâh, Isyfa’lanâ ‘Indallâh”

Dalam Al-Matsnawi, Jalaluddin Rumi bercerita tentang Rosulullah Shollallahu ‘Alayhi wasallam.

"Yâ Wajîhan 'Indallâh, Isya'lanâ 'Indallâh"Pada suatu hari di masjid, Rasul saw kedatangan serombongan kafir yang meminta untuk bertamu. Mereka berkata, “Kami ini datang dari jarak yang jauh, kami ingin bertamu kepada engkau, Ya Rasulullah.” lalu Rasul mengantarkan para tamu tersebut kepada para sahabatnya. Salah seorang kafir yang bertubuh besar seperti raksasa tertinggal di Masjid, karena tidak ada seorang sahabat pun yang mau menerimanya. Dalam kalimat Rumi, ia tertinggal di masjid seperti tertinggalnya ampas didalam gelas. Mungkin para sahabat takut menjamu dia, karena membayangkan wadah yang sangat besar.

Lalu Rosûl saw membawa dan menempatkannya di sebuah rumah. Dia diberi jamuan susu dengan mendatangkan tiga ekor kambing dan seluruh susu itu habis diminumnya. Dia juga menghabiskan makanan untuk delapan belas orang, sampai orang yang ditugaskan melayani dia jengkel. Akhirnya petugas itu menguncinya didalam. Tengah malam, orang kafir itu menderita sakit perut. Dia hendak membuka pintu tapi pintu itu terkunci. Ketika rasa sakit tidak tertahankan lagi, akhirnya orang itu mengeluarkan kotoran dirumah itu.

Setelah itu, ia merasa malu dan terhina. Seluruh perasaan bergolak dalam pikirannya. Dia menunggu sampai menjelang shubuh dan berharap ada orang yang akan membukakan pintu. Pada saat shubuh dia mendengar pintu itu terbuka, segera saja dia lari keluar. Yang membuka pintu itu adalah Rosulullah shollallahu ‘Alayhi wasallam.

Rosûl tahu apa yang terjadi kepada orang kafir itu. Ketika Rosul membuka pintu itu, Rasul sengaja bersembunyi agar orang kafir itu tidak merasa malu untuk meninggalkan tempat tersebut. Ketika orang kafir itu sudah pergi jauh, kafir itu teringat bahwa azimatnya tertinggal  dirumah itu. Jalaluddin Rumi berkata, “Kerakusan mengalahkan rasa malunya. Keinginan untuk memperoleh barang yang berharga menghilangkan rasa malunya.” akhirnya dia kembali ke rumah itu.

Sementara itu, seorang sahabat membawa tikar yang dikotori oleh orang kafir itu kepada Rasullullah saw, “Yâ Rasulullah, lihat apa yang dilakukan oleh orang kafir itu!” Kemudian Rasul berkata, ” Ambilkan wadah, biar aku bersihkan.” para sahabat meloncat dan berkata: ‘Yâ Rasulullah, engkau adalah Sayyidul Anâm. Tanpa engkau tidak akan diciptakan seluruh alam semesta ini. Biarlah kami yang membersihkan kotoran ini. Tidak layak tangan yang mulia seperti tanganmu membersihkan kotoran ini.”
“Tidak”, kata Rasul, “ini adalah kehormatan bagiku” Para sahabat berkata, “Wahai Nabi yang namanya dijadikan sumpah kehormatan oleh Allah, kami ini diciptakan untuk berkhidmat kepadamu. Kalau engkau melakukan ini, maka apalah artinya kami ini.”

Begitu orang kafir itu datang ke tempat itu, dia melihat tangan Rasulullah saw yang mulia sedang membersihkan kotoran yang ditinggalkannya. Orang kafir tidak sanggup menahan emosinya. Ia memukul mukul kepalanya sambil berkata, “Hai kepala yang tidak memiliki pengetahuan.” dia memukul-mukul dadanya sambil berkata, “Hai hati yang tidak pernah memperoleh berkas cahaya.” dia bergetar ketakutan menahan rasa malu yang luarbiasa. Kemudian Rasul saw menepuk bahunya menenangkan dia. Dan singkat cerita akhirnya orang kafir itu masuk islam.

Boleh jadi cerita Rumi ini hanyalah metafora. Suatu perlambang bahwa kedatangan Rasul saw adalah untuk membersihkan kotoran dan noda-noda yang melekat pada diri kita. Betapa banyaknya kaum muslim menodai rumah Rosûl dengan kemaksiatan dan akhlaq yang buruk. Kita ini sama dengan orang kafir yang menaburkan kotoran di rumah Rasul yang suci. Bedanya, kita percaya karena kecintaan Nabi kepada kita. Derita kita adalah juga derita Rasul. Karena itu jangan ragu-ragu untuk datang meminta syafa’atnya dan bersimpuh dihadapan Nabi sambil mengucapkan, “Yâ Abal Qôsim, Yâ Rosûlallâh, Yâ Wajîhan ‘indallâh, isyfa’lanâ ‘indallâh” “Wahai yang Mulia disisi Allâh, Berikanlah Syafa’at kepada Kami di sisi-Nya.”

***
Sumber:
Karunia Bershalawat (Afdhal ash-Shalawat ‘alâ Sayyid as-Sadat, Karya Syaikh Yusuf ibn Ismail al-Nabhani)


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: