Posted by: Syukron Tanzilah | April 6, 2014

Amin Tadzakkuri Jiiroonin Bidzii Salami قصيدة البردة

قصيدة البردة للشيخ محمد البوصيری نوار الله ضريحه
۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰۰

أمن تذکر جيران بذی سلم
مزجت دمعا جری من مقلة بدم

Amin tadzakkuri jîrônin bidzî salami
Mazajta dam’ân jarô min muqlatin bidami
Apakah karena teringat tatangga yang tinggal di “Dzi Salam”. Sehingga engkau cucurkan airmata bercampur darah yang mengalir dari matamu

ام هبت الريح من تلقاء گاظمة
وأومض البرق فی الظلماء من إضم

Am habbatir-rîhu min tilqô-i kâdhimatin
Wa awmadlol barqu fîdh-dholmâ-i min idlomi
Ataukah karena tiupan angin kencang yang berhembus dari arah “Kazhimah”. Atau karena sinar kilat yang membelah kegelapan malam dari Gunung “Idham”

فما لعينيك إن قلت اکففا همتا
وما لقلبك إن قلت استفق يهم

Famâ li’ainaika in qulta-kfufâ hamatâ
Wa mâ liqolbika in qulta-stafiq yahimi
Kenapakah kedua matamu tetap mencucurkan air mata, walaupun telah engkau katakan: “Tahanlah.. jangan menangis”. Dan mengapa hatimu tetap resah dan gelisah padahal telah engkau katakan kepadanya: “Tenanglah.. jangan gelisah”

أيحسب الصب أن الحب منگتم
ما بين منسجم منه ومضطرم

Ayahsabush-shobbu annal hubba munkatimun
Mâ baina munsajimin minhu wa mudlthorimi
Apakah orang yang dimabuk cinta menyangka, bahwa cinta kasih dapat disembunyikan dibalik cucuran airmata & kegelisahan jiwa?

لولا الهوی لم ترق دمعا علی طلل
ولا أرقت لذکر البان والعلم

Laulâl hawâ lam turiq dam’ân ‘alâ tholalin
Wa lâ uriqta lidzikril bâni wal ‘alami
Jikalau tidak karena dalamnya cinta, tidaklah akan bercucuran airmata diatas kesan-kesan kampung kekasih. Dan tidaklah engkau dapat tidur karena terkenangkan pohon “Al-Baan” dan Gunung “Al-‘Alam”

فگيف تنکر حبا بعدما شهدت
به عليك عدول الدمع والسقم

Fakaifa tunkiru hubbân ba’da mâ syahidat
Bihî ‘alaika ‘udûlud-dam’i wassaqomi
Maka bagaimana hendak disembunyikan cinta kasih itu setelah menaikan saksi (menyatakan kasih).
Dengan kasih diatas semua itu oleh saksi saksi yang adil ialah air mata dan badan yang menderita menanggung rindu.

واثبت الوجد خطی عبرة وضنی
مثل البهار علی خديك والعنم

Wa atsbatal wajdu khoththô ‘abrotin wa dlonâ
Mitslal bahâri ‘alâ khoddaika wal ‘anami
Dan rindumu sudah tak dapat disembunyikan lagi, bila telah terukir di kedua pipimu kesan merah cucuran airmata. Laksana ranting “Anam” yang bercucuran dua dan bila tubuhmu kurus karena gelisah

نعم سری طيف من أهوی فأرقنی
والحب يعترض اللذات بالألم

Na’am sarô thoifu man ahwâ fa-arroqonî
Wal hubbu ya’taridlul-ladzdzâti bil alami
Na’am, dikeheningan malam khayalanku jauh melayang kepada kekasih, sehingga ingin tidur pun susah;
Begitulah sebenarnya cinta apabila telah bertapak didalam hati, ia akan menukarkan segala kelezatan menjadi derita

يالائمی فی الهوی العذري معذرة
منی إليك ولو أنصفت لم تلم

Yâ lâ-imî fîl hawâl ‘udzriyyi ma’dzirotan
Minnî ilaika walau anshofta lam talumi
Wahai orang yang mencelaku, tentang cintaku. Sepatutnya orang yang dimabuk cinta ini dimaafkan saja atas keterlanjurannya;
Seandainya engkau menyadari tentang derita orang yang bercinta sudah pasti engkau tidak akan mencelanya

عدتك حالي لا سری بمستتر
عن الوشاة ولا دائي بمنحسم

‘Adatka hâliya lâ sirrî bimustatirin
‘anil wusyâti walâ dâ-î bimunhasimi
Sebenarnya keadaanku jelas dihadapanmu dan sudah tidak ada satu rahasia pun yang masih tersembunyi;
Dari mata orang orang yang mencelaku, sebagaimana derita cintaku tidak pernah berkurang

محضتنی النصح لکن لست اسمعه
إن المحب عن العذال فی صمم

Mahhadltanîn-nush-ha lâkin lastu asma’uhû
Innal muhibba ‘anil ‘udzdzâli fî shomami
Engkau bersungguh-sungguh memberikan nasihat kepadaku, namun aku aku masih tidak mau mendengarnya, begitulah orang yang dimabuk cinta sudah menjadi tuli dari celaan

إنی اتهمت نصيح الشيب فی عذلی
والشيب ابعد فی نصح عن التهم

Innî ttahamtu nashîhasy-syaibi fî ‘adzalî
Wasysyaibu ab’adu fî nush-hin ‘anit-tuhami
Aku masih curiga terhadap nasihat uban yang putih di kepalaku; padahal kedatangan uban itu sepatutnya sudah tidak perlu dicurigai

فإن امارتی بالسوء مااتعظت
من جهلها بنذير الشيب والهرم

Fa-Inna ammârotî bissû-i mâtta’adhot
Min jahlihâ binadzîrisy-syaibi wal haromi
Sesungguhnya nafsu amarah yang bertapak di lubuk hatiku masih belum mau menerima nasihat; karena bodohnya terhadap nasihat yang dibawa oleh uban dan ketuaan

ولا اعدت من الفعل الجميل قری
ضيف الم برأسی غير محتشم

Walâ a’addat minal fi’lil jamîli qirô
Dloifin alamma biro,sî ghoiro muhtasyimi
Kelihatannya, diriku masih belum mempersiapkan apa apa (amal sholeh) untuk merayakan tetamu (uban); Yang telah lama bertapak dikepalaku dan tampaknya tetamu itu sudah tidak mau beredar dari situ

لو کنت اعلم انی ما اوقره
گتمت سرا بدالی منه بالگتم

Lau kuntu a’lamu annî mâ uwaqqiruhû
Katamtu sirron badâlî minhu bil katami
Seandainya aku tahu bahwa aku belum dapat menghormati tetamu tadi (uban); sudah tentu uban itu akan kututupi dengan warna inai,

من لی برد جماح من غوايتها
گما يرد جماح الخيل باللجم

Man lî biroddi jimâhin min ghowâyatihâ
Kamâ yuroddu jimâhul khoili billujumi
Siapakah kiranya yang dapat menolongku untuk mengawal keganasan nafsu; sebagaimana kuda yang garang itu dapat dikawal dengan tali hidungnya

فلا ترم بالمعاصی گسر شهوتها
إن الطعام يقوی شهوة النهم

Falâ tarum bil ma’âshî kasro syahwatihâ
Innath-tho’âma yuqowwî syahwatan-nahimi
Maka janganlah kau sekali-kali mengharapkan nafsu itu dapat dikalahkan dengan memperturutkan kehendaknya; Bagaikan makanan tidak akan dapat memuaskan nafsu makan, bahkan ia akan ketagihan bila diberi makan

والنفس گالطفل إن تهمله شب علی
حب الرضاع وإن تفطمه ينفطم

Wannafsu kaththifli in tuhmilhu syabba ‘alâ
Hubbir-rodlô’i wa in tafthimhu yanfathimi
Dan nafsu itu seperti kanak kanak jika engkau biarkan ia aka terus menyusu sampai tua, suka menyusu tetapi jika engkau berhentikan, ia akan berhenti

فاصرف هواها وحاذر ان توليه
إن الهوی ما تولی يصم او يصم

Fashrif hawâhâ wa hâdzir an tuwalliyahû
Innal hawâ mâ tawallâ yushmi aw yashimi
Maka kendalikanlah hawa nafsumu dan jangan diberikan kesempatan kepadanya untuk menguasai engkau; karena jika ia berkuasa, sudah pasti ia akan membutakan dan menulikanmu

وراعها وهي فی الأعمال سائمة
وإن هي استحلت المرعی فلا تسم

Warô’ihâ wahya fîl a’mâli sâ-imatun
Wa in hiya-stahlatil mar’â falâ tusimi
Jagalah nafsumu baik baik walaupun ia telah berlegar dalam ruang ketaatan; karena bila ia sudah menguasai suasana ia akan memesongkan tujuan ketaatan. Maka jangan engkau lengah dari menguasainya

گم حسنت لذة للمرء قاتلة
من حيث لم يدر أن السم فی الدسم

Kam hassanat ladzdzatan lil mar-i qôtilatan
Min haitsu lam yadri annas-summa fîd-dasami
Berapa banyak ia telah menipu orang. Ia menyajikan makanan yang kelihatannya segar, padahal didalamnya ada racun yang membunuh; Bukankah racun selalu diletakkan pada makanan yang lezat lezat..

 

***
teks diatas adalah diantara petikan teks Qosidah Burdah karya Al-Imam Syarafuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Zaid al-Bushiri (Imam Al-Bushiri)
Mohon maaf jika ada ksalahan penulisan atau yg lainnya mohon dikoreksi.


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: