Posted by: Syukron Tanzilah | May 14, 2014

Sekilas Profil Habib Nabiel Syauqi Al-Qadri, Pengasuh Majelis Ta’lim Hayyun Fii Qulubinaa

“Tanpa seorang pendidik, murid tidak akan tahu apa-apa. Saya tahu Rabb saya karena ada seorang murabbi, pendidik. Kalau pengajar, banyak sekali. Tapi pendidik, langka.”

Habib Nabiel Syauqi Al-Qadri, Pengasuh Majelis Ta’lim Hayyun Fii QulubinaaMuda usianya tapi dalam ilmunya. Itulah kesan yang melekat pada diri Habib Nabiel Syauqi Al-Qadri, pengasuh Majelis Ta’lim dan Shalawat Hayyun Fii Qulubinaa. Pribadinya ramah dan komunikatif, riang dan terbuka, bersikap selalu rendah hati dan membuat lawan bicaranya betah berkomunikasi dengannya.
Di daerah Larangan, Cileduk, Jakarta Selatan, khususnya, dan Jakarta Barat umumnya, nama Habib Nabiel sudah tidak asing lagi. Sekarang majelisnya sudah menyebar ke berbagai tempat se-hingga sudah mempunyai tiga belas korwil.
Ia lahir dan dibesarkan di daerah Larangan, Cileduk, 28 tahun yang lalu, dari keluarga yang mencintai pendidikan. Ayahnya, Ustadz Syauqi, adalah direktur Jamiat Kheir. Dari kecil, ia sudah mendapat arahan dan bimbingan dalam hal agama, jenjang pendidikannya pun tidak terlepas dari pesantren dan sekolah agama. Sebelum mondok di Pondok Pesantren Darul Lughah wad Da’wah, Bangil, Jawa Timur, ia menjadi santri di Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, Jawa Barat.
Selepas dari Bangil, Habib Nabiel melanjutkan menuntut ilmu ke Darul Musthafa, Hadhramaut, di bawah bimbingan Habib Umar Bin Hafidz. Di Hadhramaut, Habib Nabiel banyak sekali mendapatkan bimbingan, ilmu, dan teladan dari Habib Umar Bin Hafidz, juga dari Habib Ali Al-Jufri, karena ia sempat menjadi pembantu (khadim) Habib Ali Al-Jufri.

“Kalau kita ingin belajar ke Hadhramaut, harus mempunyai dasar yang kuat. Bahasa Arab harus dimatangkan. Kalau perlu, sudah mempunyai hafalan Al-Qur’an,” ujar ayah satu putri ini dengan suaranya yang empuk.
“Setelah itu kita tanyakan kepada diri kita, untuk apa belajar ke Hadhramaut, bukankah tanah air juga gudangnya ilmu agama, nahwu, dan sharaf, para ahlinya terkenal dari Indonesia, lalu, kalau mau belajar ceramah, Mesir terkenal sebagai pusatnya? Mengapa harus ke Hadhramaut? Kita datang ke Hadhramaut untuk barakatul ‘ilmi, mencari berkah ilmu. Keberkahan ilmu itu berawal dari pengamalan ilmu, dan itu yang kuat menjaganya di Hadhramaut,” ujarnya.
“Yang saya pelajari di Hadhramaut kitab yang sudah dipelajari di Bangil tapi berkahnya berbeda. Saya mengulang kitab itu tapi di samping itu saya juga melihat contoh dan perilaku Habib Umar, apa yang beliau lakukan. Tatkala pagi datang, sambil terkantuk beliau tetap mengajar, secercah sinar matahari menerpa tubuhnya. Walau kadang lelah, dakwah terus berjalan. Lalu saya menyaksikan bagaimana interaksi beliau dengan yang tua, dengan yang muda, dengan anak-anak, dengan yang nonmuslim.
Tanpa seorang pendidik, murid tidak akan tahu apa-apa. Saya tahu Rabb saya karena ada seorang murabbi, pendidik. Kalau pengajar, banyak sekali. Tapi pendidik, langka.”

Hidup di Dalam Qalbu
Alhabib Ali Aljufri dan Alhabib Nabiel alQadrySetelah menuntut ilmu selama empat tahun di Darul Musthafa, Habib Nabiel kembali ke tanah air pada tahun 2007. Ia menginformasikan bahwa di Darul Musthafa sekarang sudah ada gelar “Lc” untuk alumninya. Ini berawal dari keprihatinan Habib Umar Bin Hafidz terhadap para alumnus Darul Musthafa yang berasal dari beberapa negara. Setelah menuntut ilmu sekian lama di Hadhramaut, hanya untuk mendapat gelar mampir sebentar ke Mesir. Untuk itulah, sekarang ada gelar.
Habib Nabiel mengakui, abahnya sangat berperan memberikan nasihat, dorongan, dan masukan tanpa lelah. Abahnya mendorongnya memperkenalkan diri kepada masyarakat setelah pulang ke tanah air. “Hadiri terus majelis ta’lim, jaga hubungan dengan masyarakat, perkenalkan diri dengan santun, jangan dengan cara memaksakan diri, atau mengatakan ‘Ini lho ana’,” ujarnya menirukan nasihat abahnya.
Habib Nabiel pun menghadiri ta’lim di Majelis Rasulullah, pimpinan Habib Munzir Al-Musawa. Ia sempat deg-degan saat hadir pertama kali melihat jama’ah yang demikian banyak. Ia diberi tempat oleh seniornya, Habib Munzir, dan disambut dengan sangat baik. Saat itu Habib Munzir mengatakan kepadanya agar pekan selanjutnya ia mengisi taushiyah.

Waktu pun berjalan seiring semakin banyak ta’lim yang diisinya, di Menteng Dalam. Atas arahan K.H. Abdurrahman Nawi, ia pun mendirikan majelis ta’lim dan shalawat yang oleh abahnya diusulkan namanya “Hayyun fii Qulubinaa”, hidup di dalam qalbu. Beberapa waktu kemudian ketika Habib Ali Al-Jufri berkunjung ke Indonesia, nama tersebut diresmikan.
Di majelisnya, selain shalawat, pembacaan Maulid, ada juga pembacaan hizb (doa-doa perlindungan) Bin Sahil, lalu kitab-kitab fiqih, Riyadhus Shalihin, tafsir, tauhid, dan taushiyah. Hampir semua ta’lim berlangsung malam hari, kecuali untuk ibu-ibu, berlangsung siang hari, di beberapa tempat.

Majelis Gabungan
Saat ini di Jakarta Barat dan perbatasan, seperti Cileduk, Cipulir, berkem¬bang majelis gabungan yang mengadakan ta’lim setiap Ahad pekan pertama. Banyak pihak menyambut gembira adanya majelis gabungan, karena hal itu akan membuat dakwah semakin solid. “Kita berusaha untuk menghindari majelis terpecah-pecah…. Dakwah itu harus saling bersinergi, saling berangkulan. Juru dakwah jangan sampai menutup diri. Dan alhamdulillah banyak manfaat yang dirasakan dengan terbentuknya majelis gabungan itu, yang sekarang berhimpun delapan majelis ta’lim,” tutur Habib Nabiel.
Habib Ali Al-Jufri sangat senang dan mendukung adanya majelis gabungan tersebut. Itu potensi yang luar biasa.

Dalam berdakwah, Habib Nabiel berusaha semaksimal mungkin memadukan ketegasan dan kelembutan. Kepada yang muda ia selalu mengingatkan agar menjaga akhlaq sebagai anak majelis. Anak majelis harus taat peraturan, kalau berlalu lintas taati rambu-rambu, jangan suka menyerobot. “Kita anak majelis, bukan anak geng motor.”
Ada yang membuatnya sangat bersemangat ketika menjalani tugas dakwah, yaitu semangat belajar orang-orang tua di majelis yang dibinanya. Misalnya di Kramat Jati, orang tua membawa buku untuk mencatat, itu membuatnya terpacu untuk juga punya persiapan yang baik sebelum memberikan ta’lim. Yang tua-tua saja mencatat, tentu yang muda merasa tertantang juga. Yang tua saja masih bersemangat, apalagi yang muda. Ada bukti untuk anak-cucu berupa catatan.

Tantangan Dakwah
Habib Nabiel Syauqi alQadry bersama Guru mulia Habib Umar bin HafidzApakah para pendakwah perlu spesialisasi? Menurut Habib Nabiel, para lulusan Hadhramaut lebih condong kepada pengamalan ilmu dan kebersihan hati, jadi lebih condong kepada tasawuf. “Kalau dalam agama kan ada tiga pilar. Islam, iman, dan ihsan. Atau fiqih, tauhid, dan tasawuf. Kita dituntut menguasai fiqih, aqidah yang bersih, lalu diamalkan dengan tasawuf. Masing-masing alumnus kecenderungannya berbeda-beda,” kata Habib Nabiel.

Berbicara tentang dakwah, Habib Nabiel membaginya menjadi dua hal pokok, yaitu tantangan internal dan eksternal. Tantangan internal berawal dari kepribadian sang dai. Menurutnya yang paling berat adalah popularitas. “Kadang pendakwah disambut seperti artis, maka kalau tidak hati-hati akan timbul sikap ujub. Ingat, dakwah bukan tontonan, melainkan tuntunan. Dakwah juga bukan bisnis. Adalah penilaian yang keliru bahwa keberhasilan pendakwah itu dari mobilnya, dari tempat tinggalnya…. Sekali lagi, dakwah bukan ladang bisnis. Jika ada pendakwah yang sampai memasang tarif, itu sungguh memprihatinkan. Ingat dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, dan ingat pula bagaimana jatuh-bangunnya beliau dalam berdakwah, lalu siksaan yang beliau terima. Benar Rasulullah SAW menerima hadiah, tapi beliau tidak pernah meminta. Jadi para pendakwah harus meneladani Rasulullah SAW,” kata Habib Nabiel.
Ia mengingatkan, sebisa mungkin pendakwah mempunyai nafkah sesuai kemampuan. Di Hadhramaut, menurutnya, para pengajar dan pendakwah menafkahi keluarga mereka dengan berdagang. “Malah ada seorang pengajar yang begitu disegani, mungkin setingkat profesor, kalau tidak mengajar atau tidak berdakwah mengisi hari-harinya dengan berjualan minyak wangi, kitab, sesuai kemampuannya,” ujar Habib Nabiel mencontohkan.

Yang paling penting menurutnya adalah ikhtiar. Soal hasil, itu urusan Allah SWT. Begitu pentingnya ikhtiar, Allah SWT sudah memerintahkan kepada Siti Maryam untuk berikhtiar ketika ia baru saja habis melahirkan Nabi Isa AS. Seperti dikisahkan di dalam Al-Qur’an, Siti Maryam diperintahkan mengguncang-guncang pohon kurma agar buahnya berjatuhan untuk dijadikan makanan. Siti Maryam pun mengguncang-guncang pohon kurma tersebut, maka hasilnya berjatuhanlah kurma, yang dijadikan santapan setelah ia melahirkan. “Begitulah, demikian pentingnya ikhtiar,” kata Habib Nabiel dengan suara mantap.

Sedangkan tantangan eksternal menurutnya adalah kemampuan berdakwah yang harus mempunyai wawasan luas sehingga ketika meyakinkan pihak yang tidak sependapat akan terucap dari mulut mereka bahwa kita mempunyai kedalaman ilmu. “Jadi bukan kita yang memaksakan orang lain mengakui kita, tapi orang lainlah yang dengan tulus mengakuinya,” ujarnya.

Ada kebiasaan unik yang dilakukannya sebagai bentuk sikap tawadhu’ kepada orangtuanya, yaitu selalu minta air minum yang telah dicicipi dulu oleh orangtuanya. Air tersebut telah didoai, dan doa orangtua adalah kekuatan dahsyat yang luar biasa.

(Sumber: Majalah alKisah)


Responses

  1. ya alhmdllh semoga mndapat berkah


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: