Posted by: Syukron Tanzilah | February 14, 2015

Al-Habib Idrus bin Muhammad Alaydrus, Kesungguhan Pecinta Ilmu

“Kalau ingin membahagiakan kedua orangtuamu, engkau harus bersungguh sungguh dalam menimba ilmu dan senantiasa mendoakan mereka”

Habib Idrus AlaydrusPagi itu, di pertengahan bulan Mei, di Majelis Ta’lim Robiatul Chairiyah, Cikunir, Jati Asih, Bekasi Selatan, terdengar suara seorang dai yang tengah berceramah di hadapan jama’ah kaum ibu. Kata demi kata yang diucapkan terdengar begitu jelas dan penyampaiannya sangat menyentuh hati.

Pemberi ceramah itu adalah Habib Idrus bin Muhammad Alaydrus, kelahiran Surabaya, 4 Mei 1981. Materi ceramah yang disampaikannya tidak jauh dari kehidupan sehari hari, seperti materi tentang wudhu. Meski demikian, ceramahnya sangat berkesan, tidak membosankan. Keahliannya dalam memberikan ceramah tidak terlepas dari dasar ilmu agama yang ia miliki dan terus ia pelajari.

Ketika masih kanak kanak, Habib Idrus sudah mulai belajar mengaji Al-Quran kepada seorang ustadz yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggalnya, yaitu Ustadz Gufron. Ia juga banyak dididik oleh orang tuanya mengenal akhlaq dan budi pekerti yang baik, dasar dasar aqidah. Juga tak ketinggalan cara bersosialisasi dengan masyarakat.

Gairahnya dalam menimba ilmu agama memang begitu tinggi. Demikian pula dengan semangat ibadahnya. Sejak duduk di sekolah dasar, ia selalu menyempatkan diri untuk tadarus di rumahnya. Bahkan membaca surah Ya-Sin dan surah Al-Waqi’ah sudah menjadi semacam kewajiban rutin dirinya setiap hari.

Selepas sekolah dasar, Habib Idrus melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah dengan mondok di Pondok Pesantren Darut Tauhid, Malang, Jawa Timur. Selama sekitar enam tahun menimba ilmu di pesantren tersebut, putra pasangan Habib Muhammad bin Abdul Qadir Alaydrus dan Syarifah Halimah binti Sholeh Alaydrus ini banyak mendapatkan amanah dari guru gurunya di pondok pesantren itu untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi jika mempunyai biaya. Jika tidak, ia dipesankan untuk menyebarkan ilmunya kepada masyarakat sekitarnya.

Menjual Sepeda Motor

Sepulangnya dari pondok pesantren, Habib Idrus terus memikirkan amanah dari gugu gugunya, apakah ia melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau cukup menyebarkan ilmu yang telah ada. Meski sebenarnya keinginan dalam hatinya adalah melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Saat itu, Habib Idrus mengutarakan keinginannya kepada ayahnya, “Abah,saya ingin sekali melanjutkan pendidikan saya. Kalau abah mengizinkan, saya ingin belajar di Darul Musthafa, Hadhramaut,” Katanya kala itu.

Mendengar perkataan dari sang anak, abah Habib Idrus hanya terdiam. Kemudian ia pun berkata. “Sebenarnya Abah tidak punya biaya banyak untuk menyekolahkan kamu ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Namun, kalau kamu memiliki semangat yang tinggi dan kesungguhan dalam menimba ilmu ilmu agama, insya Allah harta abah punya, yaitu seperda motor vespa ini,akan abah jual demi kebaikanmu.”

Maka, pada tahun 1997, dari hasil menjual sepeda motor yang diantaranya digunakan untuk mengurus paspor, Habib Idrus pun berangkat ke Hadhramaut bersama gurunya, Habib Hasan bin Ahmad Baharun, pemimpin Pondok Pesantrean Darul Lughoh Wad Da’wah dan santri lainnya.

Sesampainya di kota Tarim, Habib Hasan berpesan kepadanya, “Idrus, kalau ingin membahagiakan kedua orang tuamu, engkau harus bersungguh sungguh dalam menimba ilmu dan senantiasa mendoakan mereka.”

habib Idrus Sangat disayang Guru

Kedekatannya dengan sang guru membuat Habib Idrus banyak belajar darinya. Pernah suatu ketika, tatkala telah dua tahun berada di Hadhramaut, Habib Idrus merasakan kangen yang luar biasa kepada orangtuanya. Untuk mengurangi rasa kerinduannya kepada  orang tua, ia memutar kaset yang di dalamnya ada suara orangtuanya. Saat itu memasuki bulan Ramadhan. Sebagaimana rutinitas di pesantren dan di rumahnya, ia bertadarus Al-Quran.

Ketika hendak makan sahur, Habib Umar mengucapkan salam dan mengetuk pintu kamar Habib Idrus sambil membawa makan sahur untuk muridnya.

Dengan pandangan manunduk ta’zhim, Habib Idrus pun membuka pintu kamarnya. Dengan wajah sumringah, Habib Umar berkata kepada muridnya, “Wahai Idrus, jangan engkau menunduk seperti itu. Anggap saja aku ini teman sebayamu sendiri yang selalu ada dalam suka dan duka.”

Setelah itu, Habib Umar pun menyuapkan nasi kepadanya. Melihat kerendahan hati dan budi pertinya, Habib Idrus pun menitikkan air mata. Apalagi ia sedang teringat akan kasih sayang kedua orangtuanya.

Selain pada budi pekertinya, Habib Idrus sangat kagum akan perkataan dan perbuatan Habib Umar saat memberikan semangat yang tinggi kepada murid muridnya.

Pernah suatu ketika, demi memberikan semangat yang tinggi dalam menimba ilmu agama kepada murid muridnya, Habib Umar mengadakan perlombaan mengartikan kitab kitab, dan untuk itu ia menyediakan hadiah tasbih, jubah, kopiah, dan juga baju koko.

Yang juga selalu dikenangnya, Habib Umar senantiasa mencontohkan kepada murid muridnya untuk melakukan ziarah ke makam makam para wali, ulama dan orang orang shalih. Selama di sana ia sering diajak Habib Umar melakukan ziarah ke Zanbal, pemakaman yang sangat terkenal karena berisi ribuan wali dan orang orang shalih.

Meskipun telah tujuh tahun lamanya menimba ilmu di Daarul Mushthofa, Habib Idrus tak ingin menginggalkan tempat itu. Namun orang tuanya meminta agar ia kembali ke tanah air untuk menyebarkan ilmu yang selama itu telah diperolehnya.

Pada tahun 2004, Habib Idrus pun kembali ke kampung halamannya. Sebelum ia kembali, sang guru, Habib Umar bin Hafidz, berpesan kepadanya agar berbakti kepada kedua orangtua, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan memanfaatkan ilmu yang telah ia dapat.

Pada detik detik kepergiannya, ketika mencium tangan sang guru, Habib Idrus merasa sangat berat untuk berpisah. Namun, Habib Umar berkata kepadanya, “Aku selalu ada dan berdoa agar ilmu yang engkau miliki dapat bermanfaat bagi orang lain”.

Barulah setelah itu Habib Idrus merasa lega untuk meninggalkan sang guru yang selama itu banyak memberi ilmu, pengalaman, dan teladan bagi dirinya.

Habib Idrus Al-Aydrus

Menjalankan Amanah

Tak lupa akan pesan dari guru yang begitu bermakna dalam kehidupannya, sekembalinya ke tanah air  Habib Idrus memulai perjalannya dengan mengamalkan ilmu yang ia miliki. Ia berpikir untuk menyebarluaskan ilmu dan menjalankan amanah dari sang guru. Dari waktu ke waktu kegiatan dakwahnya pun semakin berkembang.

Saat ini ia banyak mengajar di berbagai kalangan; kaum ibu, kaum bapak, para remaja. Diantaranya juga Majelis Ta’lim Al-Khair di Surabaya dan Majelis Ta’lim Al-Qurban. Ia pun mengajar di Pondok Pesantren Robiatul Chairiyah di bilangan Cikunir, Bekasi.

Selain menyebarkan ilmu lewat mengajar dan berceramah, Habib Idrus pun menulis beberapa kitab, yang diharapkan dapat bermanfaat bagi jama’ahnya. Diantaranya kitab Al-Fahm yang isinya mengenai dasar dasar ilmu fiqih, Tsamrah Nabi Muhammad SAW, dan buku yang tak lama lagi akan hadir, tentang perjalanan Isra Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW.

Habib yang dikenal amat ramah kepada jama’ahnya ini berharap, buku bukunya itu dapat bermanfaat. “Dengan memberi manfaat kepada orang lain, Insya Allah kita juga akan diberi jalan kemudahan.” Katanya.

Sumber: Majalah alKisah no.20 Oktober 2010

 

 


Responses

  1. Reblogged this on ahmadhabiby1.


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: