Posted by: Syukron Tanzilah | December 17, 2012

Profil: Al-Allamah Al-A’rif Billah Al-Quthub Al-Habib ‘Ali Bin Ja’far Al’Aydrus (Batu Pahat-Malaysia)

Habib ‘Ali bin Ja’far Al ‘Aydrus adalah orang yg sangat sederhana dan waro’, dengan rumah yg sangat kecil, sempit dan tergolong rumah dari rakyat jelata kalangan fuqoro, ruang tamu beliau tak pernah kosong dari ratusan botol air aqua dari para tamu yg meminta air do’a dari beliau, beliau sangat santun pada para tamu dari segala kalangan baik itu kalangan kaya, miskin, ‘ulama, awam, dan siapapun.

Al-Habib 'Ali Bin Ja'far Al'AydrusBeliau adalah seorang kekasih Allah SWT yang mengajarkan kepada siapa pun bahwa di zaman yang sudah amat maju ini orang masih bisa hidup zuhud dan tawadhu. Dalam kesederhanaannya, beliau mengarungi hidup dengan tegar. Tanda keutamaan dalam diri beliau sangat jelas terlihat ketika wajah beliau dipandang, dapat mengingatkan hati yang memandangnya kepada Allah SWT.

Akhlaq beliau amat luhur dan mulia, sebagai bias dari akhlaq datuknya, Baginda Rosulullah Saw. Sikap zuhud terhadap dunia adalah hiasan terindah dalam keseharian beliau. Begitu pula sifat beliau yang teramat waro’. Banyak di antara pecinta beliau yang ingin membangunkan rumah mewah sebagai kediaman yang layak bagi orang sebesar dirinya. Namun semuanya beliau tolak secara halus.

Diantaranya lagi akhlaq luar biasa dari diri beliau, jika tamu berkunjung pada jam makan, maka tak mungkin tamunya diizinkan pulang sebelum makan bersama beliau, dan salah satu sifat rendah hati yg sangat mengagumkan pada pribadi beliau adalah selalu meminta do’a dari tamu beliau, tak pernah mau beliau berdoa kecuali tamunya yg berdoa, jika tamunya tak mau berdoa maka tak diizinkan pulang, demikian santun budi pekerti beliau dalam memuliakan tamunya.

Habib ‘Ali bin Ja’far Al ‘Aydrus sangatlah terkenal dikalangan para ‘ulama besar bahkan beliau sudah dianggap guru rujukan bagi para ‘ulama besar dan para ahli ma’rifah billah khususnya para habaib terkemuka di dunia, sebagaimana Al ‘Arif Billah Al Habib Hasan bin ‘Abdullah Assyathiri Rohimahullah, Al Allamah Al Musnid Al Habib Muhammad bin ‘Alwi Al Maliki Rohimahullah, juga para tokoh ‘ulama habaib saat ini seperti Al Allamah Al Musnid Al Habib ‘Umar bin Hafidz, Al Allamah Al Musnid Al Habib Salim bin ‘Abdullah Assyatiiri, Al Allamah Al Musnid Al Habib Zein bin Ibrohim bin Smith, dan banyak lagi para tokoh ma’rifah billah dan para musnid hadits berkunjung silaturahmi kepada beliau, tiadalah satu dari mereka telah berkunjung ke Malaysia pasti mereka wajibkan untuk bersilaturahmi kepada Habib ‘Ali bin Ja’far Al ‘Aydrus.

Ayah beliau Adalah Al ‘Arif Billah Al Musnid Al Allamah Al Habib Ja’far Al ‘Aydrus, seorang yg sangat memanjakan Guru Mulia Al Musnid Al Habib ‘Umar bin Hafidz ketika masih kecil. Dan ayah beliau ini terkenal sekali dan masyhur dikalangan para wali Allah SWT, Ayah beliau dimakamkan di pekuburan Zanbal-Tarim Hadromaut, di samping Makam Quthubinnufuus Al Imam Al Quthub Al Habib ‘Abdullah Al ‘Aydrus Al Akbar bin Al Imam Al Faqih Muqoddam Tsani Al Habib ‘Abdurrohman Asseggaf.

Al-Habib 'Ali Bin Ja'far Al'Aydrus bersama Habib Muhammad Alawi Almaliki

Al-Habib ‘Ali Bin Ja’far Al’Aydrus bersama Habib Muhammad Alawi Almaliki

Al Habib ‘Ali bin Ja’far Al ‘Aydrus ini pernah lama tinggal di Subang Jawa barat-Indonesia dimasa kecil beliau, suatu pengalaman, bahwa saya (Habib Munzir Al Musawwa) sering kunjung kepada Habib ‘Ali Al ‘Aydrus jika berkunjung ke Malaysia, beliau sangat memanjakan saya jika pendosa ini datang, beliau selalu tersenyum gembira, lalu saya minta do’a beliau maka beliau berdo’a, berbeda dengan tamu lain. Beliau menolak untuk berdo’a kecuali tamunya yg mesti berdoa, namun permintaan saya tak ditolak oleh beliau, seraya mengangkat tangannya setinggi tingginya hingga keatas kepala, kedua telapak tangannya dipadukan, dan wajah beliau menunduk.., lalu suara rintih keluar dari bibir beliau tak bisa saya pastikan apa yg diucap, benar benar gerakan do’a yang
menggambarkan posisi yang sedang sangat mengemis pada Yang Maha Luhur…, belum pernah saya lihat orang berdo’a dengan posisi sekhusyu’ dan seperti ini dalam merendahkan diri pada Allah SWT.

Setelah itu saya pamitan, padahal saya tahu kebiasaan beliau yang saya dengar dari semua orang yang mengunjungi beliau, jika waktu makan tak akan diizinkan pergi, saya berkata lembut : “saya pamit wahai Habib..”, beliau menunduk dan berkata lembut pula : “tidak makan dulu kah?”, saya menjawab : “saya pamit jika Habib ridho”, beliaupun berdiri mengizinkan kepergian kami, lalu terbersit dihati saya : “aku terbebani hutang sangat besar karena masalah perluasan dakwah di Indonesia, mudah mudahan kedatanganku kesini bisa membuat Allah SWT menyelesaikan masalah hutang-hutangku.., beban beratku ini kutumpahkan pada Habib ‘Ali, semoga Allah SWT meringankanku”, demikian renungan saya sambil melangkah keluar dari kediaman beliau..

Saat itu saya tidak sendiri, ada beberapa orang yg bersama kami, mereka kagum dan berkata : “kami sering berkunjung kesini, belum pernah Habib ‘Ali mau berdo’a kecuali saat kamu yg memintanya, belum pernah Habib ‘Ali izinkan kami pamitan diwaktu makan kecuali saat kamu yg minta izin pulang..”, dan salah satu diantaranya adalah seorang pengusaha sukses, maka saat kami sudah keluar rumah, beliau memanggil orang itu, dan membisikinya sesuatu, lalu beliau masuk rumah..

Orang tersebut mendatangi saya, dan berkata : “Habib Ali berkata pada saya, kamu punya hutang dakwah yg besar dan berat yg harus dibayarkan, saya diperintah Habib ‘Ali untuk melunasi semua hutangmu”. Saya kaget dan berpaling kepada Habib ‘Ali, ternyata beliau sudah masuk rumah menutup pintu..,
Subhanallah…..
Beliau selalu memanjakan saya jika pendosa ini datang, sekali waktu saya datang silaturahmi, kepala ini penuh dengan permasalahan dakwah yg bagai gunung menindih, kesibukan, masalah perluasan, pengaturan dan lain-lain, maka saya datang dengan lemah, duduk dihadapan beliau, maka beliau diam, diam, lalu menggeleng-gelengkan kepala beliau, lalu menangis, dan berkata : Berat… berat.., sambil mengipasi dirinya dengan kipas ditangannya dan mengipasi saya pula.., tak lama saya pamit begitu saja, beliau berdoa lagi, belum sampai saya di Jakarta kecuali seluruh masalah dakwah telah selesai.

profil habib ali bin jafar alaydrusPernah suatu kali Al Allamah Almusnid Al Habib Muhammad bin ‘Alwi Al Maliki Rohimahullah berkunjung pada beliau, sepanjang jalan Habib Muhammad berbicara tentang rindunya pada Rosulullah Saw, . maka ketika sampai dikediaman beliau, maka semua tamu tidak diperkenankan masuk, kecuali Habib Muhammad Al Maliki, mereka masuk berdua cukup lama, lalu keluarlah Habib Muhammad Al Maliki Rohimahullah dengan airmata yg bercucuran.., seraya berkata : hajat saya sudah terkabul… terkabul.. terkabul.., sambil menutup wajah beliau tanpa berkata kata pada siapapun atas apa yg terjadi didalam Habib ‘Ali bin Ja’far Al ‘Aydrus meninggal dunia pada Kamis sore 13 Mei 2010 bertepatan dengan 40 hari meninggalnya Al Quthub Al Habib ‘Abdul Qodir bin Ahmad Asseggaf (Jeddah). Pada waktu itu seketika seluruh para habaib di Malaysia langsung gempar, dan dunia para habaib sepuh pun gempar terkena kabar duka ini.

Rosul Saw bersabda : “Para sholihin wafat satu demi satu, tersisalah sisa sisa sampah tak berarti dimata Allah SWT dan Allah SWT tak perduli lagi dengan keadaan mereka.” (Shohih Bukhori).

Ini tak lain adalah mengisyaratkan bahwa Nabi Saw. menegaskan para sholihin merupakan tiangnya bumi. Karena dengan keberadaan mereka para sholihin yang selalu beribadah tiap waktu, lidah mereka selalu basah dengan dzikir, sholawat dan rintihan do’a untuk ummat, Allah SWT masih mengasihi kita semua.

Yaa ALLAH yaa Robb… bangkitkan para pengganti dari para sholihin kami yang terus wafat dan wafat, munculkan kembali generasi para sholihin yg menjadi paku penahan musibah bagi ummat, muliakan Guru tercinta yg mulia ini yakni Habib ‘Ali bin Ja’far Al ‘Aydrus dipangkuan Kelembutan dan Keridhoan Mu, dan sertakan kami dalam pembagian waris dari keluhuran beliau disisi Mu, amiin..

(Asal cerita: Habib Munzir bin Fu’ad Al Musawwa)


Responses

  1. tanpa sadar, identitas abadi yang disandang turun-temurun dari nenek moyangnya yang dicantumkan sebelum nama para orang keturunan itu, adalah lambang atau simbol suatu perpecahan dari kaum Muslim.

    Astaghfirullah identitas itu terus dipakai bahkan wajib dipakai oleh anak cucunya:

    ASTAGHFIRULLAH, PERPECAHAN KAUM MUSLIMIN DIABADIKAN DENGAN SIMBOL PERPECAHAN KEDUA ANAKNYA ALI BIN ABI THALIB???

    Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan. ﴾SQS. Al An’am, 6:21﴿

    Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta. ﴾SQS. At Taubah, 9:77﴿

    Pertama, istilah ‘keturunan’ ahlul bait atau ‘keturunan’ nabi atau ‘keturunan’ rasul terlebih lagi menggunakan istilah KETURUNAN RASULULLAH (RASUL ALLAH) tidaklah dikenal dalam Al Quran. Karena Al Quran ‘hanya’ menggunakan istilah yang tegas dan jelas yakni menggunakan nama sang tokohnya, jadi yang ada misal istilah keturunan Nuh, keturunan Ibrahim, keturunan Ishal, keturunan Israel (a.l. QS. 19:58). Jadi Al Quran tidak mengenal penggunaan istilah keturunan ahlul bait atau keturunan nabi atau keturunan rasul.

    Kemudian ada orang-orang yang ngaku-ngaku adalah keturunan ahlul bait atau keturunan nabi apa lagi ngaku keturunan Rasul Allah kalau ditanyakan ahlul bait yang mana, nabi yang mana dan Rasul Allah yang mana? contoh, malaikat pun Rasul Allah. Berarti penggunaan istilah ini merupakan hal ‘PELECEHAN’ akan institusi keahlulbaitan, kenabian dan kerasulan apa lagi kalau menambah kata ‘ALLAH’ seperti terhadap istilah RASUL ALLAH.

    Kedua, kelompok yang ngaku keturunan ahlul bait atau keturunan nabi dan keturunan rasul malah mereka inilah yang jadi sumber awal adanya perpecahan kaum Muslim pasca kekhalifahan Ali bin Abi Thalibnya sendiri. Mereka pula yang membagi menjadi dua kelompok besar kaum Muslim saat itu yakni kelompok pendukung Sayyidina Hesein bin Ali bin Abi Thalib dan kelompok lainnya dari jalur Sayyidina Hasan bin Abi Thalibnya. Simak uraian dibawah ini:

    Ketua Umum Rabithah Alawiyah Sayyid Zen Umar bin Smith menyatakan bahwa fenomena itu perlu diluruskan.

    Menurutnya, habib secara bahasa berarti keturunan Rasulullah yang dicintai. Adapun, habaib adalah kata jamak dari habib. Jadi tidak semua keturunan Rasulullah bisa disebut habib.

    Keturunan Rasulullah dari Sayyidina Husein disebut sayyid, dan dari Sayyidina Hasan disebut assyarif. Hasan dan Husein merupakan putra Sayyida Fatimah binti Muhammad dengan Ali bin Abi Thalib. Zen menjelaskan, di Indonesia para keturunan Rasullullah banyak yang berasal dari Husein. Maka banyak yang disebut sayyid.

    Sementara keturunan-keturunan Hasan kebanyakan menjadi raja atau presiden seperti di Maroko, Jordania, dan kawasan Timur Tengah. Pertama kali ulama-ulama dari Yaman atau Hadramaut masuk ke Indonesia di beberapa daerah. Karena adanya akulturasi budaya, sebutan sayyid di Aceh berubah menjadi Said, di Sumatra Barat menjadi Sidi dan lain sebagainya.

    http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/10/11/nd9vk0-salah-kaprah-sebutan-habib-di-masyarakat

    Ketiga, wujud perpecahan kaum Muslim menjadi dua kelompok besar dari satu rumpun tersebut, ‘konyol’-nya diabadikan dalam wujud identitas masing-masing kelompok yang diwariskan turun-menurun dan harus digunakan atau dipakai ke dalam nama orang-perorang sebagai simbol abadinya. Misalnya, yang melalui jalur keturunan Husein bin Ali bin Abi Thalib gelar identitas abadinya SAYYID. Sementara orang yang ngaku dari keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib identitas kelompoknya adalah menggunakan ASYSYARIF.

    Anehnya Orang-orang Yang Mengaku Keturunan Ahlul Bait atau Keturunan Nabi atau Keturunan Rasul apa lagi menggunakan merek Keturunan RASUL ALLAH selain sudah menggunakan istilah yang SALAH KAPRAH tidak pula merasa bersalah dan tidak punya beban rasa tanggungjawab pada Allah SWT serta Nabi Muhammad SAW sehingga MENGABADIKAN PERPECAHAN KAUM MUSLIM itu dengan SIMBOL IDENTITAS KETURUNANNYA.


Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: